Spritual dan material, dua substansi yang berbeda.

Yang mana, apa bila kita memandang sesuatu dengan materi maka seolah-olah spiritual menjadi tidak perlu. Dan ini adalah natural.

Menurutku, spiritual dan material itu dua kutub yang berbeda satu poros. Apabila posisi kita pada mediocre atau tengah-tengah maka akan dirasa nyaman dalam kesetimbangan.

Apriori terhadap spiritual hanya untuk yang memiliki keuangan besar adalah tidak tepat, karena hakikatnya tubuh siapapun perlu.

Yang menjadi masalah adalah menjual spiritual hanya untuk mengeruk kantong pribadi dengan harga tinggi sekali sehingga untuk si kantong cekak tidak mampu mengabsorbnya.

Sebenarnya spiritual bisa dipungut di tempat-tempat yang menyediakan 'santapan rohani'. Hanya saja pada tempat-tempat tersebut tidak bisa menyajikannya untuk porsi kaum materialis, sehingga kita orang awam tak bisa menggalinya, apalagi ditambahkan amunisi 'pencarian essoterik'nya pas-pasan.

Untuk itu dirasa perlu, para penyaji yang menjual dagangannya dalam 'porsi' eksklusif, dihimbau sekali-kali juga menjual dengan harga yang murah dan terjangkau untuk kantong cekak.

Kini timbul masalah, apa bila dijual dengan harga murah maka orang menganggapnya 'murahan'. Jadi dilematis. Memang untuk menjadi adil itu susah, tapi kalau memungkinkan diupayakan agar bisa terwujud.

Sekian komentar,

Salam,
Ferry Djajaprana


 At 06:16 PM 3/21/07 +0700, you wrote:
Maaf, Pak. Saya mungkin termasuk kategori malas bin sombong.
Empat kali tawaran ikut training ESQ dari kantor (kebetulan kerja sama barter iklan dengan pelatihan ESQ untuk karyawan) tak pernah saya ladeni.

Bagi karyawan dengan gaji sangat pas-pasan seperti saya, pelatihan emotional dan spiritual quotion saya anggap kurang pas saja. Orang-orang yang sudah mencapai kemapanan finansial saya pikir memang jauh lebih membutuhkan training seperti ini. Apa lagi toh yang dikejar di dunia ini?

Tapi bagi kami, We desperately need financial quotion !!




On 3/21/07, Goenardjoadi Goenawan <<mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pelatihan-pelatihan yang menggugah inner power dan energi spiritual yang diadakan penyelenggara lainnya pun setali tiga uang: diminati publik, khususnya kalangan profesional. Tengok saja kelas-kelas publik yang dipandu Mario Teguh, Andrie Wongso, Reza M. Syarif, Arvan Pradiansyah, Goenardjoadi Goenawan, dan sebagainya.

Euforia Go Spiritual di Dunia Bisnis
Kamis, 01 Maret 2007
Oleh : Joko Sugiarsono

Gelombang spiritualitas makin kuat melanda kalangan pelaku bisnis dunia, termasuk di Tanah Air. Apa tujuan mereka menerapkan nilai-nilai spiritual itu? Bagaimana pula cara dan gaya mereka mewujudkannya?

Ruangan besar di Jakarta Hilton Convention Center yang dingin itu dipenuhi 900-an orang. Hampir tak ada ruang yang tersisa. Dalam suasana yang rada temaram, ratusan orang peserta itu tekun menyimak pesan-pesan spiritual yang disampaikan instruktur, yang dibantu dengan lima layar lebarnya. Sesekali, diiringi musik Kitaro yang membuat suasana makin khusyuk, para peserta tampak menundukkan kepala, terpekur, melakukan evaluasi diri. Dalam evaluasi diri ini, tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata.

Anda mungkin sudah tahu, ini bukan acara pengajian, melainkan pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) untuk kelas eksekutif yang digelar ESQ Leadership Training di bawah pimpinan Ary Ginanjar Agustian. Sebagian besar dari ratusan peserta itu adalah para eksekutif dan profesional yang dikirim oleh pelbagai perusahaan: BUMN, swasta nasional dan swasta asing. Mereka bukan hanya dari kalangan manajer biasa, tapi juga eksekutif senior hingga sekelas CEO perusahaan besar di Tanah Air. Di forum ini, semuanya membaur menjadi satu, sebagai pribadi-pribadi yang duduk bersila sama rendah, untuk menggali nilai-nilai keagungan dan menghidupkan suara hati mereka. Meski tidak gratisan, pelatihan ESQ khususnya untuk kelas eksekutif -- tarifnya tergolong menengah-atas -- yang digelar setiap bulan selalu dibanjiri peserta. Untuk kelas ini, hingga saat ini sudah memasuki angkatan ke-57, dengan peserta rata-rata 800-1.000 orang. Total jumlah alumninya, bisa Anda kira-kira sendiri. Bahkan, pelatihan yang digelar sejak 2001 itu kini telah go international, yakni ke Malaysia, Belanda dan Amerika Serikat.

Bukan hanya pelatihan ESQ ala Ary Ginanjar itu yang tak kesulitan mencari peserta. Dunamis yang juga rutin membuka kelas publik untuk pelatihan 7 Habits dan yang terbaru Keagungan Insani (ala Stephen Covey) pun tak perlu kebingungan mempromosikan program ini. Pelatihan 7 Habits dijalankan sejak 1992, sedangkan Keagungan Insani baru dimulai pada 2007. Total alumni pelatihan Dunamis hingga kini sekitar 100 ribu orang. Pelatihan-pelatihan yang menggugah inner power dan energi spiritual yang diadakan penyelenggara lainnya pun setali tiga uang: diminati publik, khususnya kalangan profesional. Tengok saja kelas-kelas publik yang dipandu Mario Teguh, Andrie Wongso, Reza M. Syarif, Arvan Pradiansyah, Goenardjoadi Goenawan, dan sebagainya.

Euforia dan antusiasme seperti itu memang makin kentara belakangan ini. Tak salah bila ada yang menyebut kini demam spiritualisme makin meruyak di kalangan bisnis kita. Bukan kebetulan, referensi pendukungnya pun makin berjibun. Anda bisa menemukan buku yang sarat dengan nilai-nilai dan pesan-pesan spiritual, seperti Good to Great karya Jim Collins, The Corporate Mystic buah tangan Prof. Gay Hendrick dan Kate Ludeman, atau yang lebih mutakhir The 8th Habit dari Stephen Covey dan Megatrend 2010-nya Patricia Aburdene. Meskipun tak mengusung judul dengan kata "spiritual", niscaya Anda akan menemukan di buku-buku tersebut betapa pentingnya nilai-nilai luhur (great values) – sekarang lazim disebut spiritual values -- diterapkan kalangan profesional dan dunia bisnis. <http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5632>http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5632



--


Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387

Kirim email ke