untuk mas widho, terima kasih atas jawaban via sapto waluyonya. jika memang sudah begitu ya teruskan saja perjuangannya. cukup repot bukan mengurusi sepak terjang militer di masa lalu? jadi tak perlu lagi bermain-main dengan bintang daud lagi deh. itu hanya isapan jempol. ada apa sih dengan daud? toh dia juga nabinya semua agama yang lahir di asia barat.
tentang yakobus mayong padang (asalnya dari daerah pemilihan kabupaten tana toraja) ini memang sosok hero yang terlupakan. harusnya orang macam dia dibuatkan komiknya oleh sekretariat dpr dan dibagikan gratis untuk anak sekolah. maklumlah, di tengah sorotan hitam terhadap wakil rakyat yang sangat nyeleb tapi nyebelin (ingat kasus video yz, poligami zainal ma'arif, adam air agung laksono dll), yakobus hadir dengan reputasi anggota dpr yang miskin harta tapi kaya hati. sungguh langka. bat > poetry timoer <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > he he...PDIP dulu...PKS kini.... > > Waktu kasus ini dibuka kembali, PDIP memang menghadapi masalah terutama karena Panda dulu ketua pansus yang menyetujui bahwa trisakti bukan pelanggaran HAM berat. > Tapi hari ini Panda menghadapi musuh dari internalnya sendiri, namanya Yacobus Mayong Padang. Sampai detik terakhir Yacobus habis-habisan mempertahankan pendapat bahwa ini adalah kasus pelanggaran HAM berat . > Siapa Yacobus?? Mantan wartawan di Sulsel, anggota dpr yang mula-mula mengembalikan dana tunjangan 50 juta itu, anggota dpr yang melakukan perjalanan reses dengan berjalan kaki dari desa ke desa di dapelnya....siapa dia ...Sekretaris Fraksi PDIPerjuangan. > > Dari kabar di senayan, sampai detik terakhir hanya dua yang berjuang habis-habisan, PDIP-Yacobus Mayong Padang dan PKB. > > PKS...oooh ..... > > kompleksitas ya... > > > timoer > > Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear mas Bat, > > Agar tidak simpang siur, mending mas Bat Tanya langsung ke wakil rakyat dari PKS apa yang telah mereka lakukan. > Minimal, mas bat kan dah gak percaya ama partai selain PKS, sehingga yang disoroti selalu saja PKS, hehehe. > > Tapi kalau mas rada berat main ke gedung dewan, ini saya copy-paste-kan jawaban dari mas Sapto Waluyo, yang kita tahu sebagai direktur sebuah majalah, wartawan senior yang saat ini sedang melanjutkan studi di negeri seberang, semoga dapat memahamkan apa yang terjadi seputar kasus ini. > >
