--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.indomedia.com/poskup/2007/03/21/edisi21/opini.htm > > > Tentang narasumber dan kredibilitas pers > > (Sumbang saran untuk pers kita) > > Oleh Inosentius Mansur* > > MENARIK bahwa beberapa hari yang lalu, secara beruntun media massa kita selalu memuat berita yang berbicara seputar pers. Yang menarik dari berbagai pembicaraan itu adalah pers dilihat dan dibahas dari dua segi sekaligus, yakni segi positif dan juga tentunya sisi negatif. Pers dalam kiprahnya selama ini, dinilai dan dari semua penilaian itu ada yang membanggakan dan ada juga yang kurang memuaskan. > > Harus diakui bahwa pers telah memberikan kontribusi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat kita, terutama lagi pers yang menjadi andalan NTT, seperti Pos Kupang. Benarlah apa yang dikatakan oleh Thomas Jefferson yang mengklaim bahwa pers merupakan the fourth estate (kekuatan keempat), selain yudikatif, legislatif dan eksekutif. Bahkan dalam menjalankan perannya, pers dirasakan memiliki nilai yang lebih dari legislatif, yudikatif dan eksekutif. Pers menduduki posisi yang teramat penting dan cukup strategis. Pers memiliki hak untuk mengekspose segala berita yang berkaitan dengan ketiga lembaga itu, apa yang mereka lakukan entahkah benar dan apalagi salah. Pers dapat berbicara seputar kebenaran yang dilakukan oleh ketiganya dan pers juga memiliki hak untuk menyajikan berita tentang kesalahan mereka jika ketiganya membangkang terhadap hukum. Pers juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempopulerkan diri, memperkenalkan penulis opini melalui halaman opini. Atau juga, figur- figur tertentu yang ingin mencalonkan dirinya untuk jabatan tertentu dapat dikenal oleh banyak orang karena foto serta segala macam visi dan misinya dipampangkan di media masa. > > Bencana yang dialami oleh saudara-saudara kita di Manggarai dapat diketahui oleh banyak pihak karena media kita memuat itu sebagai berita utama dan ada pada halaman depan. Pokoknya, lewat pers kita mendapat berbagai kemudahan terutama lagi berkaitan dengan segala hal yang perlu dipublikasikan, tidak digubris motif apa yang melatarinya. Tetapi pers juga dapat saja berubah menjadi malapetaka bagi orang-orang ataupun golongan-golongan tertentu. Seorang pejabat dipecat dari jabatannya lantaran diketahui telah melakukan perlakuan yang tidak sesuai dengan ajaran moral, ataupun hukum yang sedang berlaku dan hal ini sangat mungkin terjadi karena pers itulah yang memberitahukannya kepada publik.Tidak dapat dibayangkan seandainya pers tidak segera memberitakan hal seperti itu kepada orang banyak, mungkin saja perlakuan yang tidak layak akan terus dilakukan, sehingga menjadi semacam kebiasaan. Di sinilah, pers menjadi momok yang menakutkan bagi mereka yang suka mempermainkan kebenaran dan menjadi sesuatu yang membanggakan bagi mereka yang ingin menegakkan kebenaran. > > Dalam kaitannya dengan masyarakat dan pemerintah, pers ibarat lorong yang dapat menghubungkan jarak antara keduanya. Lewat pers, masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, dengan demikian pers telah menjadikan masyarakat kita sebagai masyarakat yang demokratif terutama berkaitan dengan kebebasan berpendapat. Bukankah ini merupakan salah satu cita-cita negara reformasi ini? Banyak juga yang berlangganan secara khusus dengan media masa, hanya karena mereka tahu betapa pentingnya informasi yang mereka peroleh dari media itu. Sampai di titik inilah kita semestinya memberi nilai plus kepada pers kita atas segala jasanya itu, dalam menyajikan berbagai informasi kepada masyarakat. > > Tetapi dari semua kelebihan dan segala macam peran penting yang telah dimainkan oleh pers kita tadi, kita juga tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa pers kita masih memiliki banyak hal yang perlu dibenahi. Pembahasan-pembahasan yang dilakukan oleh berbagai pihak, sebagaimana yang penulis baca dalam media massa beberapa hari lalu membenarkan hal ini. Memang, siapa yang mengatakan bahwa pers itu dewa? Kan pers juga dihuni oleh manusia yang dari kodratnya merupakan makhluk yang berkekurangan? Dalam hal ini, apabila pers memberikan berita yang kurang begitu akurat atapun masih banyaknya kekurangan yang kita temukan entahkah bahasa yang digunakan ataupun hal-hal lainnya, semestinya itu merupakan kekeliruan yang perlu ditolerir. Tetapi, hal semacam itu tidak dapat dibiarkan secara terus menerus apabila sering juga terjadi kekeliruan dalam menyajikan berbagai berita kepada masyarakat. Sebagai contoh, ketika pers kita untuk memakai kalimat "menurud narasumber yang dapat dipercaya". Hal ini memang tidak sering tetapi cukup banyak kita temukan. Yang menjadi perhatiannya di sini adalah ketika kita membaca bahwa ukuran narasumber di sini agaknya kurang jelas terutama mengenai aspek-aspek yang menjadi standar penilaian untuk layak tidaknya seseorang sehingga dapat dikatakan sebagai sumber yang dapat dipercaya. > > Adakalanya (dan memang cukup banyak) seseorang yang oleh wartawan disebut sebagai narasumber yang dapat dipercaya memiliki latarbelakang dengan kedudukan yang cukup penting di salah satu wilayah. Katakanlah bahwa ia merupakan seorang pejabat pemerintah. Kalau kita membaca secara teliti, banyak sekali apa yang disampaikan oleh si narasumber dan seperti yang ditulis oleh wartawan, sepertinya merupakan kebenaran mutlak dalam arti begitulah memang keadaan yang sebenarnya. Lebih gawatnya lagi, tidak diperhitungkan berbagaimuatan kepentingan yang ada dibalik pernyataan itu, apakah muatan politis, menjatuhkan pihak tertentu, ataupun untuk melampiaskan dendam pribadinya kepada pihak tertentu. Sering kita lihat bahwa seorang pejabat menyampaikan satu persoalan, misalnya, kelaparan. Dalam pernyataannya itu, si pejabat dengan begitu percaya diri mengklasifikasi persoalan kelaparan yang sedang dihadapi oleh mayarakatnya. Tetapi selang beberapa hari kemudian, muncul lagi pihak lain yang membantah habis-habisan pernyataannya dan bahkan mengklaim bahwa apa yang telah disampaikan merupakan trik untuk memperoleh keuntungan sehingga mempropagandakan kelaparan itu. Lebih rumit lagi, agaknya untuk mencari tahu mana yang merupakan kebenaran dalam arti sesuai dengan realita yang terjadi, tidak diberitakan lagi oleh media masa tersebut. Bukankah hal ini sangat penting demi anggaran yang benar-benar tepat sasar?. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Prof. Alo Liliweri bahwa dalam menyajikan berita kepada publik pers harus melakukan check-recheck and balance (Pos Kupang, 7 Maret 2007). Jangan begitu saja percaya terhadap suatu berita walaupun wartawan menggolongkannya sebagai berita yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya, apalagi kalau jabatan adalah ukurannya. > > Dalam hal yang seperti inilah pers dapat menjalankan fungsinya untuk mengajar masyarakat terutama untuk suatu kebenaran. Nilai etis muncul di sini. Pers harus benar-benar independen dalam arti tidak terikat apalagi kalau dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu. Jangan sampai apa yang dikatakan oleh Isidorus Lilijawa benar, bahwa pers kita saat ini sedang menghadapi fenomena "wartawan amplop" (Dian, Minggu 4 Maret 2007), hanya karena perhitungan tertentu maka apa yang dikatakan oleh narasumber menjadi semacam kepastian yang tidak perlu diragukan, sehingga menjadi berita utama yang harus dicantumkan pada halaman pertama. > > Jangan sampai juga ada kesan bahwa pers lebih sering bergerak pada "level atas" dan amat jarang bergerak dari "tingkat bawah". Padahal hal semacam ini sangat penting demi keseimbangan berita yang disajikan kepada publik. Kepercayaan masyarakat terhadap pers harus dipupuk dengan cara-cara seperti itu dan bukannya dengan gampang terpengaruh oleh situasi ataupun pihak tetentu. Memang tidak gampang untuk mencapai pers yang benar-benar diidealkan dan hal seperti ini tentunya sangat sulit untuk dicapai, apalagi situasi serta topografi daerah kita ini kurang bersahabat, tetapi alangkah baiknya bila tulisan ini menjadi semacam pertimbangan kecil bagi pers kita. > > * Penulis, mahasiswa STFK Ledalero, > > anggota KMK Seminari Tinggi Ritapiret > =======================
saya seolah-olah kembali tersadar karena tulisan ini. beberapa hari lalu, saya hampir menurunkan berita dengan sumber yang mungkin kurang tepat. tapi mau bagaimana lagi, kadang pers harus melakukan itu karena banyak pejabat negara kita yang susuh membuka mulutnya jika ditanya wartawan akibatnya, "sumber terpercaya" mungkin bisa jadi andalan. jika soal independensi mungkin sulit didapat karena kita yakin, semua pada dasarnya memiliki kepentingan. termasuk kepentingan akan berita itu sendiri. untungnya, hingga saat ini berita tersebut harus tertahan menunggu sumber resminya. salam
