Uraian yang menarik, Bung Roeslan. Tentang radikalisme Green Peace itu saya anggap sifatnya positif untuk gerakan ekologi karena tidak merusak, hanya aktif sekali dan memakai cara-cara yang mencolok mata sehingga banyak sekali diliput oleh media, jadi semacam public relations untuk macam2 masalah yg Bung juga tulis disini. Sebetulnya kalau PKB dan juga PDI-P yg juga punya pakar-pakar yang mengurus permasalahan ini atau siapa saja serius, saya kira mudah mendatangkan pakar atau pendekar gerakan the Green dari Jerman yg memang "markas besar"nya gerakan itu melalui sebuah stiftung (foundation) misalnya dari SPD (namanya lupa) untuk menjelaskan sesuatunya bagi para aktivis hijau di Indonesia. Salam, Bismo DG (Maaf email ini tdk dpt diperpendek "ekor"nya)
----- Original Message ----- From: Roeslan To: Nasional-list Sent: Thursday, March 22, 2007 4:49 PM Subject: Re: [nasional-list] Istana Bantah Jegal Megawati Bung Bismo yb. Persoalan yang bung ajukan mengenai masalah ekologi sangat interesan, Biklah akan saya jawab sesuai dengan pengtetahuan saya tentang masalah itu. Kesadaran ekologi. Disini yang perlu kita ketahui adalah perbedaan antara Ekosystem dengan pandangan tentang nilai-nilai masyarakat manusia pada umumnya. Didalam Ekosystem tidak terkandung tentang: bahasa, kesadaran, budaya, demokrasi, keadilan, tapi juga tidak ada sifat angkara murka dan penipuan. Jadi dalam membahas tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kesalahan masusia kita tidak bisa mengambil pelajaran dari Ekosystem itu. Namun demikian kita bisa dan harus belar padanya tentang prinsip-prinsip yang terkandung dalam ekosytem dalam masalah merawat dan memelihara terjadinya kehidupan yang berkesinambungan. Misalnya sudah lebih dari 3 milyrtan tahun lamanya, mengapa dan bagaimana putaran ekosystem dari ptanet-planet yang kecil dan kompleks di universum itu bisa mempertahankan dirinya dan mengorganisasi dirinya secara optomal. Pengetahuan dari alami inilah yang kemudian menimbulkan terjadinya kesadaran ekologi. Contoh yang ada dalam jasmani kita yaitu keberadaan sel-sel tubuh yang sejalan dengan ekosystem misalnya apa yang disebutnya outopietische, dengan system itulah sel-sel tubuh kita dapat memproduksi, merawat dan menjaga keberadaan sel-sel dalam tubuh kita. Misalnya dari Gen (DNA) memproduksi RNA, RNA memproduksi Enzym dan selanjutnya Enzym-enzym itu bisa memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak untuk menjadi DNA lagi, begitulah seterusnya. Semuanya ini terjadi secara lancar selama tidak ada gangguan pengrusakan dari luar. Jadi kesadarn seperti inilah yang bisa dijadikan model gerakan ekologi dalam masyarakat manusia. Ekologi Sebagai Dasar Pandangan Dunia Baru Belajar dari pandangan seperti tersebut diatas,mkaka pandangan ekologis mengemukakan adanya dan berlakunya azas pengorganisasian dan pengaturan diri sendiri dari suatu sistem dimana tumbuh-tumbuhan, manusia binatang dan mikro-organisme dengan zad-zad yang tidak hidup, berada diadalam sebuah yaringan yang sangat kompleks, mempunyai hubungan timbal-balik dan saling bergantung satu sama lain di mana materi dan energi selalu berada dalam suatu pertukaran yang terus-menerus, tanpa hentinya. Demikian jugalah Sel-sel yang terdapat dalam tubuh kita, termasuk sel-sel pada jaringan-jaringan dan kelenjar-kelenjar urat-syaraf dan otak yang paling kecil dan rumit pun, merupakan merupakan sebuah sistem yang hidup. Dengan kata lain: dalam tubuh kita terdapat banyak sekali adanya sistem, jumlahnya tak terkirakan. Selanjutnya, eksistensi setiap organ dari tubuh kita seperti misalnya jantung, paru-paru. ginjal dll; ditentukan oleh oleh sistem internnya sendiri-sendiri. Masing-masing punya apa yang disebut selforganisation . Atau didalam bahasa politiknya : punya otonominya sendiri-sendiri, namun tak berarti bahwa tiap-tiap sistem itu terpisah dan teresolasi dari sistem-sisten yang diluarnya. Sebaliknya di antara semua sistem itu justru terdapat hubungan saling bergantung satu sama lain. Dalam hubungan itulah berlangsung proses biologis dan eksitensi jasmani kita. Sistem Ekologi yang beginilah yang dapat kita gunakan dalam mebangun masyarakat kita yang Bineka Tunggal Ika ini yaitu NKRI . Sayangnya kesadaran semacam ini belum meresap dikalangan elit bangsa kita, sehingha terjadilah keruwetan dalam melaksanakan dan mangurus tentang otonomi daerah, yang termanifestasikan dalam munculnya pemerintah sariat-sariat Islam yang sendiri-sendiri seperti negara federasi. Sangat menyedihkan kondesi seperti itu!!! Dalam gerakan ekologi selalu ditekankan adanya prinsip saling hubungan yang erat dan salaing ketergantungan antara semua fenomena yang ada. Dengan demikian pandangan-pandangan ekologis sepenuhnya mengikuti rumusan-rumusan para sarjana di bidang ilmu pengetahuan modern dewasa ini yang telah meletakkan dasar-dasar teori tentang sistem dan terkenal dengan nama -" teori sistem -"."System Theori". Gerakan baru dalam masyarakat yang bertolak dari pandangan-pandangan ekologis sejak belasan tahun terachir ini tidak hanya memberikan pengertian-pengertian baru dibidang sosial dan politik, tetapi juga menyodorkan nilai-nilai baru di banyak bidang. Akan tetapi hingga kini belum semua orang dapat melihat adanya nilai-nilai ini. Sebabnya mungkin mereka masih terus bertahan pada pikiran mereka di bidang yang sempit dan belum menangkap nilai-nilai yang tercermin dalam gerakan-gerakan tentang kebersihan alam, keseimbangan alam (ekologi), tentang perjuangan untuk demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Dalam menghadapi fenomena tersebut saya rasa diperlukan kesedaran bahwa di bidang politik tidak boleh ada pandangan dunia yang berdasarkan filsafat mekanisme, karena di sini kita menghadapi adanya saling hubungan yang erat dan kompleks antara faktor manusia, sistem sosial, politik ekonomi dan lingkungan hidup manusia (ekologi) yang semuanya merupakan suatu rangkaian dalam sebuah sistem yang hidup. Pandangan inilah yang mungkin sudah mulai meresap dikalangan orang-orangnya Gus Dur. Tentang Agama dan Ekologi, seharusnya tidak ada prinsip untuk dipertengkarkan, karena Agama yang di Eropa sering disebtnya Religion itu sebenarnya berasal dari kata Religio bahasa latin yang berari salaing adanya hubungan yang erat yang dalam konteks ini berarti saling adanya hubungan antara manusia dengan penciptanya. Oleh karena itulah tidak mengherankan jika Gus Dur menempuh jalan hijau (ekologi) untuk mengarahkan PKB dalam menyusun kembali adanya kerusakan-karusakan baik spirituil maupun material yang dialami oleh bangsa Indonesia. Apakah Gerakan itu bisa radikal atau tidak itu tergantung dari kesadaran orang yang mengendalikan gerakan. Jadi jika bung katakan Green Peace itu radikal itu bukan dikarenakan ada kesadaran hijau. Seperi juga didalam Islam itu juga ada gerakan yang radikal, tapi disini kita harus ingat bahwa Islam itu tidak semuanya radikal seperti FPI, MMI dan MUI. Demikian juga kiranya PKB yang berdasar ke Islaman itu ternyata tidak sama denagn FPI. Oleh karena itu setelah PKB mendiklarasikan sebagai partai hijau juga belum tentu melakukan radikalisme seperti Green Peace.. Di Barat memang ada gerakan Green Peace ,itu adalah gerakan yang bersifat aksi masa yang sadar ekologi, jadi belum tentu gerakan itu langsung dipimpin oleh partai Hijau. Perjuangan Partai hijau yang saya ketahuai misalnya anti reaktor atom, pajak ekologi dll yang berkaitan dengan pencemaran alam termasuk pencemaran manusia, misalnya system neoliberal, globalisasi, pelanggaran HAM dsb, seperti yang sudah di utarakan oleh bung Koentyo dalam postingnya, Yang tergolong kesadaran hijau itu bermacam-macam jenisnya, misalnya : Post modenisme, Green Peas, gerakan cinta Binatang , Ekofiminismus, Postkolonialismes, gerakan HAM, gerakan Ekopsykologi, Pembebasan theologi dan masih banyak lagi. Oleh kerana itu marilah kita tunggu saja gerakan hijau dari Gus Dur itu apakah sama dengan harapan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 atau tidak. Untuk itu marilah kita dorong lewat dunia maya ini supaya gerakan Gus Dur kearah itu. Roeslan.
