Mas Radityo, Mas Putut, Mas Indrawadi, dan teman2 yang baik...

Saya rasa kecurigaan bahwa ada soal bayar-membayar dalam  tampilnya para
kandidat gubernur DKI di tv swasta nasional kita belum perlu ada.
Isu ini baru jadi relevan kalau memang terlihat adanya ketimpangan
pemberitaan masing2 kandidat.
Sejauh ini sih, gejala keberpihakan stasiun atas salah satu kandidat
rasanya belum terlihat.

Saya rasa yang lebih penting dalam soal ini adalah apa yang diangkat Mas
Radityo, yakni pertanyaan tentang: apa urusannya gubernur DKI dengan orang
Riau, orang Padang, orang Menado, orang Balikpapan (dst)?
Jawabannya, hampir2 nggak ada!
Jadi kenapa seluruh penonton televisi Indonesia harus menonton perdebatan
tentang para kandidat gubernur DKI?
Jawabannya: karena seluruh penduduk Indonesia memang harus mau saja
dijajah oleh siaran televisi dari Jakarta yang tentu saja peduli dengan
kondisi politik Jakarta.
Lho memang bisakah penonton Indonesia tidak mau dicekoki saja dengan
siaran dari Jakarta?
Jawabannya: Bisa, yaitu kalau yang diterapkan di Indoensia adalah sistem
televisi berjaringan. Dalam skema ini, di setiap daerah ada stasiun
televisi yang menjadi bagian dari jaringan stasiun nasional. Kampanye
gubernur DKI bisa muncul besar-besaran di RCTI Jakarta, dan cuma muncul
sebagai berita seadanya di  RCTI Riau. Nanti, kalau ada Pilkada Riau, RCTI
Riau akan menyiarkan kampanye di sana besar-besaran, dan RCTI di daerah
lain hanya akan kebagian cuplikan beritanya. Inilah sistem demokratis yang
diamanatkan UU Penyiaran 2002, tapi tidak pernah bisa jalan terutama
karena ulah Menkominfo Sofyan Jalil, ATVSI, yang sekarang didukung pula
oleh DPR


Singkat kata, teman-teman, kalau Mas Putut yang di Riau bertanya: ''bagi
kami yg ada di luar dki berita itu tidak menarik, tapi mengapa televisi
hebat itu memberi porsi yang lumayan besar?''

Maka jawabannya adalah, karena di Indonesia yang bhineka tunggal ika ini,
pendapat rakyat di luar Jakarta tidak pernah penting! Mengapa pula Mas
Putut ini masih menyangka bahwa stasiun-stasiun televisi nasional di
Jakarta itu pernah peduli dengan bangsa ini?

salam

ade armando





> 21a. RCTI ( Raja Calo Tanah di Indonesia)
>    Posted by: "indrawadi pisang" [EMAIL PROTECTED] indrawadi
>    Date: Thu Mar 22, 2007 6:06 am ((PDT))
>
> Mungkin pilkada DKI banyak bayar pada RCTI ???????
> makanya kalau calon lain mau masuk tv hebat juga pakai
> dana dong !!!
>
> --- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> Mas Ade,
>>   Yang dimaksud Mas Putut adalah Pilkada DKI.
>>   Ini tentunya berkaitan dengan daya jangkau TV
>> nasional.
>>   Buat orang Riau, berita Pilkada DKI itu tidak
>> penting, tapi kenapa mereka "dipaksa" menontonnya?
>>   Barangkali ini sesuai ide dan gagasan Mas Ade agar
>> tak ada lagi TV nasional.
>>
>>   salam,
>>
>>   rd
>>
>> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>>   Maaf sekali Mas Putut dan Mas radityo
>> Saya sepenuhnya tidak mengerti mengapa stasiun
>> televisi Jakarta
>> 'tiba-tiba' menaruh perhatian pada pilkada Riau.
>> Tapi barangkali yang terpenting adalah memperhatikan
>> seberapa berimbang
>> peliputan stasiun atas kandidat2 yang sedang
>> bertarung.
>> Kalau nampaknya tidak ada keberpihakan, bisa jadi
>> ini adalah tanda bahwa
>> stasiun jakarta memberi perhatian lebih besar pada
>> demokratisasi di daerah
>> non-Jakarta.
>> Bisa jadi kabar baik?
>>
>> ade armando
>>
>>
>> > Mas Putut di Batam,
>> >
>> > Pertanyaan Anda saya teruskan ke milis mediacare.
>> Disini ada Bung Ade
>> > Armando, mantan bos KPI, juga rekan-rekan dari
>> stasiun TV. Kegalauan
>> > Anda juga dirasakannya. Mungkin beliau bisa
>> menjawab dengan lebih taktis
>> > dan bernas.
>> >
>> > salam,
>> >
>> > rd
>> >
>> > putut ariyotejo wrote:
>> > mas radityo, ijin kan saya bertanya.
>> >
>> > saya tinggal di batam. bbrp hari ini televisi
>> macam
>> > rcti dkk getol beritakan suksesi gubernur dki.
>> >
>> > bagi kami yg ada di luar dki berita itu tidak
>> menarik.
>> > tapi mengapa tipi hebat itu memberi porsi yang
>> lumayan
>> > besar?
>> >
>> > padalah pilgub di daerah lain belum tentu dimuat
>> > apalagi yang adem ayem
>> >
>> > adakah mas radit punya analisa tersendiri ttg
>> fenomena
>> > ini?
>> >
>> > terima kasih
>> >
>> > putut
>>

Kirim email ke