YRakhmat:
Barat khususnya AS dibawah Bush juga harus membersihkan diri dari
fundamentalisme Kristen,
amartien:
Apakah fundamentalisme Kristen tsb.? Apakah Christian fundies tsb. membunuh,
menteror orang2 yang bukan termasuk Christian fundies? Setahu saya sih ada yang
membunuh karena anti aborsi, tetapi pelaku pembunuhan tsb. bukan pengikut
agamanya yang benar, dan juga di sudah ditangkap dan dipenjarakan.
YRakhmat:
dan cepat mengupayakan perdamaian antara Palestina dan Israel.
amartien:
Bagaimana kalau satu pihak, yaitu Palestina, ter-lebih2 lagi dengan Hamas di
pemerintahannya, bertujuan bukan untuk perdamaian, tetapi untuk menghancurkan
Israel, seperti yang tercantum di charter Hamas yang penuh dengan referensi
ayat2 Kuran?
As for the objectives: They are the fighting against the false, defeating it
and vanquishing it so that justice could prevail, homelands be retrieved and
from its mosques would the voice of the mu'azen emerge declaring the
establishment of the state of Islam, so that people and things would return
each to their right places and Allah is our helper.
Wah, saya nggak tahu dari mana data yang disebut di artikel ini bahwa
Indonesia menduduki posisi ke 3 dari negara paling demokratis diseluruh dunia?
Menurut Worldaudit.org Indonesia menduduki perangkat ke 2 dari bawah di grup ke
3. Tunisia termasuk di grup ke 4, perangkat no. 107 ber-sama2 dengan Sierra
Leone dan Gabon.
Moga2 negara2 lain di dunia tidak mencontoh/meniru "demokrasi" ala Tunisia
dan Indonesia.
Y Rakhmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Namun harus lebih dipercepat minimalisasi ulah kekerasan dan kurang
toleransi yang bersumber pada fundamentalisme. Syukur kalau akan kearah
sekularisme tulen, yang penuh dengan multikulturalisme. Barat khususnya AS
dibawah Bush juga harus membersihkan diri dari fundamentalisme Kristen, dan
cepat mengupayakan perdamaian
antara Palestina dan Israel.
Yusuf R
Selasa, 20 Maret 2007 20:23:00
Demokrasi RI dan Tunisia Bisa Jadi Contoh Bagi Barat Tentang Islam
Jakarta-RoL-- Demokrasi yang berkembang di Indonesia dan Tunisia dapat
menjadi contoh bagi Dunia Barat dalam melihat Islam dan sekaligus mengubah
penafsiran buruk terhadap Islam.
Barat sering melihat Islam sebagai penghalang dalam menjalankan demokratisasi
di negara yang mayoritas muslim. Indonesia dan Tunisia yang berhasil
menghidupkan demokratisasi praktis membuat dunia Barat terheran-heran, ujar
Dubes Tunia untuk Indonesia Faysal Gouia dalam wawancara dengan Antara dalam
rangka memperingati hari kemerdekaan negara tersebut yang 59 di Jakarta,
Selasa.
Indonesia, yang mempunyai penduduk lebih dari 220 juta dan 90 prosen dari total
penduduk beragama Islam, telah berhasil menempati posisi ketiga sebagai negara
yang paling demokratis di dunia.
Begitu juga halnya dengan Tunisia yang mayoritas muslim walaupun jumlah
penduduk tidak begitu besar juga berhasil mengusung demokrasi di sana,
tambahnya.
Selama ini, Barat cenderung melihat Islam dalam kaca mata sempit. Persepsi
mereka terhadap Islam selalu terkait dengan fanatisme, tidak bisa menerima
konsep Barat, susah untuk diajak berubah dan yang paling tidak enak didengar
adalah adanya persepsi yang mengaitkan Islam dengan terorisme.
Semua anggapan negatif ini memang sangat tidak menyenangkan bagi dunia Islam,
karena selalu dipojokkan dengan berbagai tudingan dan image buruk oleh Barat
yang tidak suka Islam.
Dengan munculnya demokratisasi di Indonesia dan Tunisia yang mayoritas
berpenduduk muslim, praktis image buruk Barat sedikit demi sedikit mulai pudar
dalam arti bahwa Islam bukan lagi dilihat sebagai penghalang tumbuhnya
demokratisasi, justru Islam sendiri mengusung dan pelindung kehidupan
demokratis.
Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak tantangan dan rintangan yang
dihadapi dalam menegakkan demokratisasi. Hal yang serupa juga pernah dihadapi
oleh negara-negara maju (developed countries) dan hanya saja negara negara
tersebut sudah lama melakukan perbaikan dalam menghadapi tantang dan rintangan
yang muncul sebagai akibat tumbuhnya demoktratisasi di negara berkembang.
Menyinggung hubungan politik kedua negara, Faysal menjelaskan hubungan antara
Tunisia dan Indonesia sudah berlansung cukup lama dan selama ini tidak ada
gejolak pasang surut dalam hubungan kedua negara.
Justru yang terjadi adalah adanya kesamaan pandangan dalam melihat isu
internasional antara Tunisia dan Indonesia di forum internasional.
Dalam hubungannya dengan isu mengenai Irak, katanya, Tunisia mempunyai
pandangan dan pendirian yang sama dengan Indonesia seperti usul yang pernah
disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada President George W.
Bush dalam kunjungannya ke Indonesia di Bogor tahun lalu.
Sehubungan dengan masuknya Indonesia sebagai anggota tidak tetap (non
permanent) di Lembaga Keamanan PBB (United Nations Security Council),
setidaknya posisi negara Timur Tengah sedikit agak diperhatikan karena bisa
dipastikan bahwa Indonesia tentu akan membantu mengusung aspirasi negara Timur
Tengah dan negara lainnya yang kemungkinan diperlakukan tidak adil secara
politik selama ini.
Perlakuan tidak adil terhadap negara lain dapat dilihat pada isu Palestina yang
selama ini selalu mendapat tekanan dari Israel. Walaupun sudah diakui sebagai
negara oleh PBB, Palestina masih saja mendapat tekanan militer dari Israel
sehingga pelaksaan roda pemerintah tidak dapat berjalan dengan baik.
Apalagi setiap aksi kekerasan yang dilancarkan Israel terhadap Palestina tetap
saja mendapat dukungan dari Amerika, walaupun PBB mengutuk dan mememberi sanksi
terhadap Israel.
Dengan sendirinya, dukungan PBB terhadap berdirinya negara Palestina yang
berdaulat kelihatannya seakan akan seperti pemulas bibir, karena berbagai teror
yang dilancarkan Israel terhadap Palestina hanya bisa dikecam, tetapi dunia
atau PBB tidak mampun berbuat apa-apa untuk mencegah kekerasan terhadap
masyarakat Palestina. antara
abi
---------------------------------
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.