Nefertiti paling murah di Bukukita.com

Link:
http://www.bukukita.com/infodetailbuku.php?idBook=4086


Cuma Rp 47.920


Judul:
Nefertiti

Sub:
The Book of the Dead
Ratu Mesir, Dewa Matahari & Penguasa Dua Dunia

Penulis:
Nick Drake


Fiction – Crime Thriller

Nomine Novel Terbaik Ellis Peters Award


Kota modern pertama dalam sejarah manusia hendak diresmikan. Agama
baru akan dikukuhkan. Namun sang Ratu menghilang tanpa jejak.
Sesosok mayat wanita tanpa wajah ditemukan. Pembunuhan demi
pembunuhan berlangsung silih berganti. Imperium Mesir di ujung
tanduk...

***

Nefertiti, wanita paling berkuasa dalam sejarah, adalah Ratu Mesir,
istri dari Akhenaten sang Firaun yang memerintah dari tahun 1353
hingga 1335 Sebelum Masehi. Di bawah kendali suami-istri ini,
masyarakat Mesir menjadi masyarakat modern pertama yang tercatat
sejarah. Ibu kota modern dibangun, agama baru Dewa Matahari
diperkenalkan. Tapi di tengah ingar-bingar kemajuan itu, Nefertiti
menghilang dan dikhawatirkan telah dibunuh. Bila benar, kematian
Nefertiti bakal mengubah peta kekuasaan di Mesir.

Karena mencurigai adanya konspirasi di balik peristiwa ini,
Akhenaten memerintahkan Rahotep--kepala detektif muda dengan
reputasi cemerlang--untuk melakukan investigasi. Rahotep punya waktu
sepuluh hari untuk mengembalikan sang Ratu sebelum festival
peresmian ibu kota dan agama baru. Bila gagal, kekuasaan Akhenaten
dan Nefertiti yang membentang dari Afrika hingga Timur Tengah
terancam runtuh. Nyawa Rahotep dan keluarganya pun akan melayang...



Drake membuat hipotesis cerdas… Kisah yang benar-benar memikat.
—The Times

Penuh kejutan sejak baris pertama… Membawa pembaca ke petualangan
misteri yang spektakuler…
—Evening Standard

Buku ini mengombinasikan detail zaman yang luar biasa dan kecepatan
novel-novel kriminal kontemporer.
—The CWA

Kekerasan, atau lebih tepatnya, kekejaman dalam buku ini adalah
cerminan akurat dari masa itu dan disajikan Nick Drake dengan
terampil…
—Reviewing the Evidence

Benar-benar orisinal, idenya segar, dan amat memikat.
—Gateway Magazine

Ia (Nefertiti) dijuluki `Sang Sempurna', wanita paling terkenal dan
paling cantik di dunia.
—Fantastic Fiction


NICK DRAKE lahir pada tahun 1961. Selain menjadi penulis novel, ia
juga seorang penyair dan penulis skenario terkemuka yang kerap
memenangi penghargaan, seperti Eric Gregory Award dan Forward Prize.
Salah satu film garapannya, Hilary and Jackie, menjadi nomine Piala
Oscar. Ia pun menjadi Literary Associate di National Theatre dan
Literary Manager di Bush Theatre. Ia tinggal di London, Inggris.


Harga Awal: Rp 65.000
Harga Gramedia: Rp 59.900
Harga www.inibuku.com: Rp 55.250
Harga www.bukukita.com: Rp 47.920



Cuplikan-cuplikan dari NEFERTITI...


1.
Tubuh Tanefert kaku mendengar kisahku. Wajahnya pias. Sebagaimana
aku, ia mafhum bahwa apabila aku gagal memecahkan misteri ini--apa
pun itu, apalagi sampai melibatkan tokoh-tokoh dan orang-orang
berkuasa, maka nasibku sudah jelas. Aku akan dicopot dari jabatan,
kehormatanku ditelanjangi, harta bendaku dilucuti, lalu aku dihukum
mati.

Tanefert memalingkan wajah, menerawang tanpa sungguh-sungguh menatap
keluar jendela. Cahaya matahari siang menerpa wajahnya, membuat
hatiku naik ke mulut. Membuatku diam.

"Aku mencintaimu."
"Aku tak ingin kau pergi."
Ucapan itu membuatku tercekat.
"Kau tahu aku tak punya pilihan."
"Tidak benar. Selalu ada pilihan."

Kupeluk ia, merasakan tubuhnya terguncang oleh isak. Kucoba
menenangkan. Tak lama ia tenang sendiri, meletakkan dua tangan ke
wajahku. Lembut.

"Setiap kali bangun tidur aku tak pernah tahu apakah itu hari
terakhir aku bisa melihatmu lagi. Jadi kuhafalkan wajahmu. Begitu
hafalnya sampai bisa kubawa ke liang kubur."
"Aku harus pamit pada anak-anak."
"Kau pergi sekarang juga?"
"Ya. Memang harus begitu."
Wajah Tanefert berpaling lagi.

Tanefert. Jantung hatiku, dengan rambut panjang hitam terurai
seperti malam tak berbulan, hidung kokoh dan mata sipit. Maafkan aku
terpaksa meninggalkanmu. Kalau ada yang paling berarti dalam hidup,
ya keluargaku inilah. Gadis-gadis terkasih. Semoga mereka diberkati
atas namaku di akhir kisah ini. Akan kupersembahkan segalanya untuk
mereka. Oh, betapa kita baru menyadari arti orang-orang terkasih
saat terpaksa meninggalkan mereka.

Kupeluk putriku satu per satu; kucium Tanefert yang membelai wajahku
dengan tangannya; lalu dengan tangan gemetar kututup pintu rumah dan
kehidupanku di belakangnya. Kulangkahkan kaki menuju masa depan yang
tak bisa dipastikan, di mana semua berbau risiko. Malu rasanya
menuliskan bahwa aku justru merasa lebih hidup, walau jantung serasa
sembilu menyayat dada.



2.
"Jadi, Anda sang pembongkar misteri yang terkenal itu."
"Ini kehormatan buat saya."
"Sang Ratu harus ditemukan kembali. Dalam keadaan hidup."
"Saya baru saja tiba. Penyelidikan ini masih sangat awal."

Aku baru hendak bertanya lebih jauh ketika tiba-tiba pintu diketuk
keras. Khety segera membuka. Ternyata Tjenry. Wajahnya pias. Segera
aku menepi ke pinggir rumah, agar pembicaraan kami tidak terdengar.
"Ada mayat," ujar Tjenry. "Ada mayat ditemukan."

Jasad wanita itu terbaring di sebuah bukit pasir rendah, di padang
Tanah Merah di sisi utara kota, tepatnya di antara altar-altar
padang pasir sebelah timur, mengenakan jubah panjang warna emas,
seuntai kalung emas, sandal emas, dan pakaian dalam dari bahan
linen, berkelebatan tertiup angin. Posisinya menyamping, kaki
tertarik ke atas dan kedua tangan saling bertemu--seperti orang
tidur, menghadap ke barat. Persis posisi penguburan tradisional.
Tapi terasa ada yang salah.

"Kurasa, inilah akhir dari riwayat tugasmu."
Aku mendongak. Wajah Mahu tersembunyi oleh bayang-bayang dengan
posisi matahari di belakang kepala. Tak ada nada kemenangan di suara
itu, tapi ia benar. Sang Ratu telah tewas. Aku terlambat.
Kematiannya mendentang lonceng yang sama pada jerat kematianku
sendiri. Benakku berputar. Hanya segini sajakah? Padahal aku belum
lagi memulai.



3.
Aku terbangun oleh suara ketukan keras di pintu. Ternyata Khety.
Wajahnya tegang. Sesuatu yang gawat telah terjadi. Walau hari masih
gelap, kami berpacu melintasi gurun tanpa bicara.

Kubuka pintu ruang pencucian--tempat kami mengawetkan mayat untuk
diperiksa. Gelap dan dingin sekali. Hati-hati aku melangkah masuk,
takut menyenggol atau merusak sesuatu. Lentera kuangkat perlahan.
Jasad si gadis masih di situ. Posisinya juga belum berubah. Semua
lilin mati. Aku berjalan perlahan mengitari ruangan, mencoba
mengamati segala sesuatu. Sebagaimana metode kerja yang selalu
kulakukan: memilah-milah permukaan, waktu dan ruang menjadi kepingan
kecil, mencatat semuanya dan lanjut ke hal berikut. Semua masih
seperti yang kuingat kemarin pagi: peti-peti dalam keadaan tertutup,
isinya masih lengkap, kendi-kendi masih berderet di rak. Patung-
patung putra Dewa Horus masih lengkap, melotot ke arahku. Peti-peti
mati masih berjejer sepanjang sisi tembok. Mendadak aku melompat ke
belakang. Salah satu peti terbuka. Berisi mayat, disangga kayu agar
tetap berdiri, seperti lelucon horor yang tak lucu.
Itu mayat Tjenry!






Kirim email ke