Kartini dilahirkan oleh keluarga beragama Islam. Namun dalam konteks sekarang Islam yang dianut oleh orang tua Kartini dinamakan "Islam Kejawen" yang dizaman sekarang dimusuhi dan dianggap musuh oleh MUI. Oleh MUI, Kejawen bukanlah Islam melainkan aliran kepercayaan seperti halnya Islam Ahmadiah, meskipun kedua aliran ini sama2 mengakui Muhammad sebagai nabi dan AlQuran sebagai Kitab sucinya. Namun baik Kejawen maupun Ahmadiah memiliki nilai2 tambahan yang sangat manusiawi yang berbeda dari Islam MUI yang penuh dengan kebiadaban2 masa lalunya.
Tidak ada seorangpun di Indonesia yang tahu dengan pasti kapan Kartini masuk agama Katolik karena memang tak pernah secara resmi Kartini menyatakan masuk agama Katolik. Barulah disadari di Indonesia setelah semua gereja Katolik diBelanda mendadak mengadakan misa atau doa supaya diterimanya Kartini disamping Yesus Allah Bapak. Namun di Indonesia, ada sebuah yayasan Kejawen yang juga milik ibu Kartini, yayasan ini jelas2 merupakan yayasan Islam dari aliran kejawen yang juga melakukan shalat orang mati untuk Kartini. Seperti kita ketahui, bahwa Islam Kejawen juga mengadopsi cara2 ritual agama Hindu, demikianlah ritual Kejawen ini kerap dilakukan oleh yayasan ini yang dihadiri banyak pemuka2 Kejawen di Indonesia yang justru menganggap Kartini beragama Islam. Demikianlah, baik Islam Kejawen dan umat Katolik, tidak merasa keberatan untuk menganggap Kartini sebagai bagian dari umat mereka. Harta warisan ibu Kartini memang dipecah dua, sebagian masuk ke Yayasan Katolik yang digunakan untuk mendirikan berbagai klinik2 kesehatan untuk membantu orang2 miskin, dan sebagian lagi dari harta warisannya digunakan untuk membangun Yayasan Islam Kejawen yang namanya tidak akan saya sebutkan disini demi melindungi keamanan mereka. Yayasan Islam Kejawen yang ikut menikmati warisan ibu Kartini telah membangun berbagai rumah jompo, rumah yatim piatu, dan sebuah wisma yang digunakan untuk berkumpulnya para veteran maupun orang2 pensiunan temasuk tentunya purnawirawan. Kedua yayasan Kartini di Indonesia berkembang pesat, klinik2 katolik yang tersebar diseluruh Indonesia ditangani oleh yayasan atma jaya. Dilain pihak, sumbangan Kartini kepada yayasan2 di Belanda juga berkembang pesat hingga kini, bahkan bukan cuma di Belanda, tetapi juga di Canada dan di Amerika. Disinilah satu contoh figur Indonesia aseli pribumi yang mengabdi kepada dua atau tiga agama sekali gus yaitu Islam, Kejawen, dan Katolik. Figur yang mengesankan inilah yang menarik hati Bung Karno untuk menganugerahi Kartini sebagai pahlawan wanita, karena sebelum semua menyadari tentang pentingnya kerja sama semua agama yang dulunya bertentangan dan bermusuhan ternyata bisa dipersatukan dalam tubuh RA Kartini. Demikianlah, figure Kartini ini meresap dan menjiwai feodalisme Jawa hingga kini. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa figur Bung Karno sendiripun sebenarnya masih kalah oleh Kartini yang sudah memikirkannya dikala para pemimpin bangsanya belum bisa berpikir. Oleh karena itu, figur dan kualitas Kartini tidak mungkin bisa digantikan oleh seorang Tjut Nyak Dhien yang suaminya terbunuh tentara Belanda karena memberontak, dan tidak benar kalo Tjuk Nyak Dhien kemudian menjadi singa betina yang ikut memberontak, berdasarkan catatan sejarah Belanda, Tjut Nyak Dhien ini dimanfaatkan oleh sisa2 pemberontak untuk menaikkan kebencian kepada Belanda untuk terus memberontak. Itulah sebabnya, Tjut Nyak Dhien sebenarnya tidak pernah ditangkap atau dipenjarakan oleh Belanda, melainkan beliau ditempatkan dalam sebuah keluarga Islam keturunan sunan di Cirebon hingga matinya beliau. Sejarah yang menyatakan Tjut Nyak Dhien ditangkap dan dibuang hingga mati tidak benar, itu rekayasa Bung Karno untuk meningkatkan kebencian kepada Belanda. Bukti2 Cut Nyak Dhien tidak dipenjara bisa ditanyakan kepada tokoh2 Islam dari Cirebon dulu dan juga bisa dicari catatannya di negeri Belanda. Syariah Islam sangat anti kepada figur Kartini yang dianggapnya bukan figur Islam yang sesungguhnya bahkan banyak menyalahi ajaran2 Islam yang untuk ukuran wanita tentu saja merupakan ajaran biadab yang merepresi kaum wanita dari dunia pendidikan dan dunia kebebasan yang selama ini dimiliki dan dimonopoli oleh kaum pria muslim. Ny. Muslim binti Muskitawati.
