http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/24/sh03.html

Ada 20 Sasaran Pengeboman
Ancaman Terorisme Masih Besar   



Jakarta - Kepala Desk Antiteror Kementrian Polhukam Ansyaad Mbai mengingatkan 
masyarakat agar tetap waspada karena jaringan teroris di Indonesia masih sangat 
besar, apalagi mereka bekerja dengan cermat dan dalam tingkat kerahasiaan yang 
tinggi, sehingga mereka tetap merupakan ancaman."Masyarakat jangan terkecoh 
dengan penampilan mereka yang santun dan mampu membaur dalam masyarakat. Justru 
kewaspadaan yang harus ditingkatkan. Kalau ada yang tertangkap, anggota 
keluarganya akan tidak mengaku kenal atau tidak tahu apa yang dilakukan. Itu 
wajar saja, karena mereka saling melindungi," kata Ansyaad ketika berbincang 
dengan SH, Sabtu (24/3). 


Dia mengingatkan rasa simpati dari masyarakat justru akan merugikan. 
"Bayangkan, dari senjata dan bahan peledak yang ditemukan, kalau meledak, 
berapa banyak korban yang jatuh karena senjata-senjata itu canggih dan bahan 
peledak yang ditemukan cukup banyak," ujarnya. Dia menegaskan temuan dan 
penangkapan sejumlah orang di Jawa Tengah, yang diduga bagian dari jaringan 
Jamaah Islamiyah (JI), hanya sebagian kecil dari sel-sel jaringan teroris ini. 
"Jadi merupakan pekerjaan besar yang harus dilakukan aparat keamanan saat ini 
bukan hanya menangkap anggota jaringan, tetapi juga otak dan penyandang 
dananya," kata Ansyad.


Bukti ada pendanaan besar untuk kegiatan terorisme ini terlihat dari temuan 
sejumlah senjata tembak canggih dan TNT yang harus diimpor. Menurut Ansyaad, 
besar kemungkinan senjata dan bahan peledak tersebut berasal dari Filipina atau 
Thailand Selatan.

20 Titik Ledakan
Pada perkembangan lain, polisi kembali menemukan bahan peledak serta sejumlah 
senjata api, di rumah Sutarjo, salah satu anak buah Abu Dujana, di Temulus RT 
4, RW 7 Desa Pondok Grogol, Sukoharjo. Penemuan barang-barang berbahaya ini 
setelah polisi menggeledah setiap rumah para tersangka yang ditangkap. Kadiv 
Humas Mabes Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan temuan itu adalah dua 
pucuk pistol, satu senjata laras panjang, satu senjata mirip M-16, detonator, 
bahan peledak jenis TNT dan cairan kimia dalam jerigen. 

"Tersangka tidak tinggal di rumahnya, ia bersama istrinya tinggal di rumah 
mertua yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Rumah tersebut sengaja 
dikosongkan, hingga ia dapat dengan bebas menyimpan bahan peledak serta senjata 
api tanpa diketahui oleh istrinya," kata Sisno kepada wartawan, Jumat (23/3) di 
Mabes Polri.
Rumah Sutarjo, yang pekerjaannya menambal ban, telah disegel polisi. Penemuan 
bahan peledak tersebut adalah yang kedua kalinya. Belum diketahui dari mana 
para tersangka yang anak buah teroris Abu Dujana ini mendapatkan bahan-bahan 
berbahaya ini.


Sejauh ini, tambah Sisno, Detasemen 88 Mabes Polri dibantu oleh Polda Jawa 
Tengah masih terus memburu pentolan teroris Abu Dujana serta beberapa anak 
buahnya yang lain. Abu Dujana adalah pimpinan Jamaah Islamiyah yang selalu 
melindungi ke mana saja buronan Noordin M Top pergi. Dari temuan berbagai bahan 
peledak ini, Polri sudah mencegah peledakan bom di 20 lokasi. Namun ke-20 titik 
rencana peledakan tersebut tidak diungkapkan demi menghindari kegelisahan 
masyarakat.

Dikirim ke Poso
Sementara itu, dari berbagai penangkapan ini, terungkap bahwa bahan peledak 
yang digunakan untuk aksi teror di Poso dikirim oleh Holis di Surabaya. Dari 
pengakuan itulah, akhirnya Detasemen 88 Mabes Polri menyelidiki Holis yang 
diketahui bekerja sama dengan tersangka Sutarjo alias Abi Isa. Sutarjo 
dipercaya Abu Dujana untuk menyimpan bahan peledak serta senjata api yang 
dipindahkan dalam jumlah besar masuk ke Jawa Tengah. Dia ditangkap saat 
Detasemen 88 menyergapnya Selasa (20/3) lalu di Sleman bersama-sama Karim alias 
Sikas, Amir Ahmadi alias Ahmad, Adi alias Sarwo, dan M Aman Suryanto. 


Pada perkembangan lain, jenazah Ahmad Munajib (37) tersangka teroris yang tewas 
ditembak Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri dimakamkan di kampung 
asalnya di RT 3 RW 1, Sumuradem, Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Semarang, 
pada pukul 23.30 WIB, Jumat malam. Jenazah itu tiba di Sumuradem dari 
Yogyakarta pada pukul 22.50 WIB menggunakan ambulans "Bulan Sabit Merah" nomor 
AD-1969-HA. Mobil jenazah ini dikawal para anggota Kelompok Mujahidin Surakarta 
dan tiga orang dari Tim Pembela Muslim (TPM).


Anis Priyo Anshari dari TPM semalam menyatakan bahwa pihak keluarga menyatakan 
ikhlas dan menerima jenazah. Sementara itu, aktivitas yang dilakukan almarhum 
tidak diketahui pihak keluarga. Almarhum sejak lima tahun silam berpamitan ke 
Kalimantan. Di sisi lain, Ani, istri almarhurm membantah bahwa dia melarikan 
diri. Pemakaman berlangsung ramai di TPU Sumuradem, meski hanya diterangi lampu 
senter, petromaks, dan neon jinjing. 
(emmy kuswandari/maya handini/su herdjoko) 

Kirim email ke