http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/24/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Soal Capres Sarjana 

Indonesia Lebih Butuh Pemimpin Bermoral

[JAKARTA] Indonesia lebih membutuhkan pemimpin yang memiliki moral baik 
ketimbang gelar sarjana. Syarat calon presiden minimal sarjana dinilai sebagai 
upaya pemerintah saat ini untuk menjegal lawan politik. 

Hal itu disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Pusat Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan, AP Batubara kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/3). Dia menanggapi 
rencana pemerintah untuk merevisi paket undang-undang politik yang salah 
satunya mensyaratkan calon presiden harus memiliki gelar sarjana. 

"Gelar sarjana bukan sebuah jaminan kualitas kemampuan seorang pemimpin. Apa 
arti gelar sarjana, master, dan doktor jika tidak dipercaya rakyat. Sebab, 
kepemimpinan itu menyangkut soal kepercayaan dan moral," kata dia. 

Menurut Batubara, saat ini banyak politisi di Indonesia yang bergelar sarjana, 
baik di eksekutif dan legislatif, tetapi memiliki mental dan moral yang rendah. 
Dia mencontohkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bergelar sarjana 
tapi terlibat dalam perbuatan tidak bermoral, yaitu hubungan seksual yang 
ditayangkan lewat video porno. 

"Contoh lain, banyak koruptor yang memiliki predikat sarjana tapi kepintarannya 
itu digunakan untuk mengeruk uang negara alias korupsi," kata dia. 

Dikatakan, revisi paket UU Politik itu menunjukkan sikap dan mental 
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak demokratis dan penakut. Oleh 
karena itu, sebagai partai yang selalu konsisten mengusung misi demokrasi dan 
kerakyatan, PDI-P jelas menolak revisi itu. 

Revisi paket UU politik itu, kata Batubara, juga telah menjadi alat kepentingan 
Pemerintahan Yudhoyono untuk menjegal Ketua Umum DPP PDIP, Megawati 
Soekarnoputri untuk tampil sebagai calon presiden pada Pemilu 2009. Namun, dia 
yakin, upaya seperti itu tidak akan mendapatkan dukungan dari rakyat. 

"Apalagi, berbagai hasil survei yang dilansir sejumlah lembaga, seperti 
Lingkaran Survei Indoensia (LSI), menunjukkan kalau PDI-P kembali tampil 
menjadi partai utama yang diunggulkan," kata dia. 

Sebagai presiden yang selalu mengumandangkan demokrasi dalam berbagai 
kesempatan, Yudhoyono diimbau untuk tidak melakukan cara-cara inkonstitusional. 
Apalagi jika cara-cara seperti itu dilakukan hanya untuk kepentingan kekuasaan. 
[O-1] 


Last modified: 24/3/07 

Kirim email ke