Kebanyakan dari kita menggunakan topeng kebohongan yang kita kenakan, kadang seumur hidup kita.
*kita menggunakan topeng*, bahwa kita orang yang paling dihormati, paling disegani, paling benar, paling pintar, paling populer, seolah- olah kita ini bintang iklan Nokia dan setiap handphone baru adalah hak kita, dan identitas kita, menunjukkan siapa kita. mengapa bisa begitu? karena *kita merasa bahwa hidup ini adalah hak kita*. kita memiliki hak untuk mendapatkan gaji, memperoleh rejeki, membiayai gaya hidup kita. Karena kita sudah banyak berkorban, kita sudah sekolah, kita merasa lebih baik daripada orang-orang lain. tidak banyak manajer seperti kita, peranan kita sungguh krusial bagi dunia, bagi perusahaan tempat kita bekerja. dan kita lupa, sewaktu-waktu semua itu, semua identitas palsu kita bisa jatuh tempo, expired, diambil smeua oleh Sang Pencipta. Kalau kita sudah berada dalam jurang kehancuran, bertabrakan seperti Alda, sudah kena serangan jantung, sudah pernah bagkrut, sudah pernah diusir oleh orang tua sekeluarga, maka kita akan merasakan bahwa *hanya jiwa kita yang menjadi pegangan, yang paling berharga*, bukan jam tangan kita, apalagi handphone kita, atau name card siapa kita. nyawa kita itulah yang paling berharga, diatas segalanya, dan nyawa itu sepenuhnya pemberian dari Sang Pencipta, oleh karena itu, kalau hanya turun gaji 25%, atau turun jabatan, atau turun gengsi, atau tidak bisa menginap di Grand Hyatt, tentu tidak masalah, dan kita terus mensyukuri bahwa seandainya Sang Pencipta tidak mengabulkan doa kita untuk terus bisa hidup, maka kita toh sudah masuk liang kubur, bukan. salam, GG
