http://www.indomedia.com/bpost/032007/26/opini/opini1.htm

Inikah Kita: Intelektual Indonesia?

Apalagi di tengah zaman yang dilukiskan penuh keraguan, serba membingungkan 
seperti sekarang.

Oleh: Pribakti B
Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Apa yang mau dikatakan lagi. Terpuruk sudah negeri ini dalam segala ukuran. 
Banyak peristiwa fatal bangsa ini memberi kita cermin di mana wajah kita 
tertunduk sangat dalam, jengah, risi dan malu. Setelah melewati berbagai 
peristiwa termasuk 'gerakan' reformasi yang rusuh itu, cermin narcisus tersebut 
masih memberi refleksi gambar serupa. Yakni, gambaran kabur sosok intelektual 
Indonesia yang tergagap melihat dirinya sendiri, ketika menyadari manusia yang 
menjadi subjek utama perhatiannya telah hilang, dibunuh atau dihancurkan oleh 
samudera kode dan simbol yang dipenetrasi peradaban baru: politik.

Entah sudah berapa profesor, doktor, profesor doktor gara-gara menjadi bupati, 
walikota, wagub dan gubernur malah terlindas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi 
(KPK) dan terancam masuk bui. Sedih, ya pasti. Tapi kesedihan itu lenyap 
menjadi menyenangkan ketika saya menangkap gejala yang menggembirakan dari 
sikap teman saya yang dulu intelektual sekarang politikus atas perubahan cara 
berpikirnya.

Kini ia berani berbeda pemikiran. Juga berani ceplas-ceplos mengemukakan 
pendapat dari sistem nilai yang tidak sejalan dengan predikat intelektual yang 
pernah disandangnya. Bahkan dengan nyerocos kepada saya, ia hakul yakin kaum 
politikus di negeri ini sudah tidak lagi menggunakan rasio tetapi kekuasaan. 
Saya pun dibuatnya manggut-manggut.

Sungguh ini suatu kemajuan besar. Ini pertanda ada dinamika yang mulai tumbuh 
pada dirinya yang dulu dikenal sebagai intelektual. Memang harus diakui, 
namanya intelektual bagaimana pun pada hakikatnya adalah pengguna rasio sebagai 
modal utamanya. Di tengah zaman edan sekalipun, peran kalangan intelektual 
tetap menjadi penting. Apalagi di tengah zaman yang dilukiskan penuh keraguan, 
serba membingungkan seperti sekarang. Sebagai intelektual semestinya kita tidak 
ikut-ikutan larut. Kalau ikut larut, maka semua akan tenggelam dan bangsa ini 
akan punah, katanya serius.

Statistik tentu bisa memberitahukan kita, berapa master, doktor atau profesor 
yang mengisi jabatan ketua atau pengurus partai, lembaga politik atau kursi 
kekuasaan di pusat dan daerah. Ternyata itu pun masih belum cukup. Nama semacam 
itu juga mulai merambah bidang hidup yang hingar bingar lainnya. Mereka turut 
menempati posisi penting di dunia bisnis hingga dagang eceran, media massa, 
keagamaan, buruh dan dunia yang menawarkan selebrasi dengan kemilau selebritas 
di dalamnya. Sepertinya gelar, tugas dan tanggung jawab akademik yang 
disandangnya bukan hanya dirasa belum cukup. Tapi boleh jadi dianggap sebagai 
modal untuk bisa meraih dunia 'pop' yang mengelembung di permukaan, untuk 
kemudian meletus tanpa sisa kecuali dengung hanya sekejap.

Bagaimana pun dan di mana pun di dunia ini, tegaknya hukum dan demokrasi hanya 
tergantung dan berpulang kepada intelektualnya. Maksud saya, intelektual di 
sini bukannya sekadar gelar sarjana formal tetapi cendekiawan yang mampu 
berperan sebagai penyelamat bangsa. Hanya dari ia dapat diproduksi pemikiran 
yang bersifat antisipasi terhadap perkembangan hidup bangsa dan mengandung 
wawasan ke depan, sehingga memperkaya pengambilan keputusan dengan sejumlah 
alternatif. 

Imej

Berbicara tentang intelektual sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Dalam 
masyarakat kita sudah terlanjur memiliki imej sendiri tentang intelektual, dan 
itu kemudian berkembang menjadi pengharapan yang mengendap di lubuk hatinya. 
Konsep masyarakat tentang intelektual, niscaya gambaran tentang manusia yang 
merupakan inkarnasi dari empu yang bertugas menerjemahkan dan menjelmakan kata 
hati masyarakat ke dalam formula akademis. Semua ini memberikan petunjuk pada 
kita betapa pentingnya peran intelektual untuk menumbuhkan suatu kepribadian 
yang kuat dan khas sebagai intelektual.

Saya pikir, hanya dengan demikian dapat ditingkatkan kemampuan individu 
intelektual itu sendiri sekaligus membantu kekompok solidaritas primodial dalam 
bergulat dengan masalah kehidupan modern di masa mendatang yang penuh kejayaan 
teknologi. Sebab mau tidak mau, suka tidak suka berbagai kemudahan akan dibawa 
dalam proses inovasi teknologi ini dan mendorong berbagai nilai kekinian ke 
tepi.

Kebaruan akan muncul di mana-mana, betapa pun ketatnya pagar primodialisme. 
Coba lihat, sekarang saja di kota besar terlanda bukan oleh arus modernisasi 
melainkan akibat ketidakberdayaan dalam penyesuaian atau pengendalian 
teknologi. Bagaimana pun inovasi itu tidak mungkin dihambat, kecuali jika kita 
bersedia menjadi budak mereka. Menghadapi permasalahan demikian, hanya ada dua 
alternatif bagi seorang intelektual dengan akal sehatnya. Pertama, 
menghindarkan diri dari pelibatan dan tanggung jawab lalu membenarkan diri 
dalam perasaan benar sendiri. Kedua, melakukan suatu tantangan yang dilakukan 
secara terbuka lewat kritikan. Alternatif terakhir ini yang menjadi ukuran 
daripada vitalitas suatu bangsa terhadap sejumlah intelektualnya yang berani 
mengambil risiko. Yang menjadi masalah, seperti inikah kita: Intelektual 
Indonesia? Yang pasti, sejarah di republik ini sudah memberi kita banyak 
tragedi. Kita harus belajar banyak darinya. Namun gejala seperti ini bukan 
pertanda dari itu, kecuali tawaran masa depan bangsa yang lebih tragis. 
Celakanya, gejala tersebut kini tak hanya menyerbu kaum intelektual. Tapi juga 
elemen lainnya: rohaniawan, pebisnis hingga artis.

Apakah ini menandakan diri kita semakin lemah secara mental dan kultural? Lalu, 
tidak bisakah kita bebas dari lalu lintas politik yang begitu semrawut dan tak 
jelas juntrungannya ini? Tidak mungkinkah kita terbebaskan dari tatapan 
menyelidik penuh curiga dari siapa pun yang selalu saja mengira kita mempunyai 
kepentingan politik tertentu? Dan yang terpenting, bisakah kita menghindari 
politik?

e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke