Buat Arif,
   
  Pertama-tama, darimana anda tahu bahwa kasus tersebut sdh terjadi beberapa 
kali? Saya sudah baca ulang postingan awal dan tidak menemukan informasi yg 
mengatakan bahwa Halim sdh melakukannya berkali-kali. Yg teliti dong kalau baca 
spy tidak terkesan anda itu seorang provokator yg ingin memperkeruh suasana.
   
  Kedua, mengingat mereka sdh meeting dari jam 8-14, mungkin saja mereka 
membicarakan hal-2 yg benar-2 penting buat kelangsungan hidup perusahaan yg 
juga merupakan sumber periuk nasi bagi semua karyawan termasuk anggota 
keluarganya. Bisa dimaklumi dong kalau hanya sekali dalam sebulan mereka 
melakukan hal itu. Mungkin saja mereka sedang dikejar deadline laporan. Saya 
bukan muslim, tapi kata temanku yg muslim, dalam keadaan memaksa dan orang 
tidak menunaikan sholat, maka Allah maha Pengampun.
   
  Ketiga, kalau kasus ini akhirnya dipolitisir dan Halim merasa tidak nyaman 
lagi dengan tekanan-2 yg dia hadapi maka bisa saja dia menutup usahanya atau 
merelokasinya ke t4 lain. Semua karyawan akan kehilangan pekerjaan dan sumber 
penghasilan. Kalau ini yg terjadi, saya percaya karyawan yg melaporkan kasus 
ini ke tokoh agama pasti akan menyesali perbuatan mereka. Pada akhirnya mereka 
akan menyadari bahwa tindakan mereka gegabah atau kurang berpikir panjang.
   
  Keempat, kalau sudah merelokasi usahanya, saya yakin Halim pasti akan lebih 
selektif dalam memilih karyawan. Kemungkinan besar, dia lebih memilih karyawan 
non muslim untuk menghindari masalah serupa. Dengan demikian, tindakan gegabah 
segelintir karyawan muslim di Tasik Malaya tsb akan berdampak kepada calon-2 
karyawan muslim lainya kelak yg berniat bekerja di perusahaannya Halim. 
Kemungkinan Halim akan dituding bersikap diskriminasi. Tapi jangan lupa, Halim 
tetap punya hak prerogatif untuk merekrut karyawan yg bagaimana yg dia anggap 
cocok untuk bekerja di perusahaannya.
   
  Kelima, kalau kasus ini diinternasionalisasi ( jangan lupa, Halim itu dealer 
mobil yg jaringannya mendunia ) maka investor asing akan berpikir seribu kali 
untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Buktinya, banyak perusahaan multi 
nasional yg sdh merelokasi usahanya ke Vietman atau China karena problem 
ketenaga kerjaan. Akibatnya, problem ketenaga kerjaan alias pengangguran yg 
semakin besar akan terjadi.
   
  Semua hal diatas hanya disebabkan oleh segelintir orang yg berpikir picik. 
Benar-2 memprihatinkan.
   
  Salam/Roy

arif fuadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Hehe mbak Ati, mestinya kembali ke substansi masalah bahwa ini 
menyangkut hak asasi manusia, yaitu  menjalankan ibadah sesuai agama yang 
dianut. Memang, betul, sebuah organisasi atau lembaga bisnis apapun punya 
aturan atau regulasi yang mengatur hak dan kewajiban seorang karyawan. Tapi 
lihat, dalam kasus itu disebutkan rapat dari jam 8 sampai jam 14 belum selesai. 
Normalnya, dalam sebuah perusahaan istirahat ya dari jam 12-13. Atau mungkin 
perusahaan ini yang nggak normal, sehingga memberlakukan kerja rodi (kali). 
Soal pelaporan kepada tokoh masyarakat atau tokoh agama, itu juga menyangkut 
hak seseorang. Bisa jadai karena selama ini tidak percaya dengan perangkat 
hukum, ya nggak ada salahnya lapor ke tokoh agama. Dan jangan salah Mbak Ati, 
kejadian ini bukan satu atau dua kali, tapi sudah beberapa kali....
   
  Wasss...

ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      
yay yay yay.....kenapa enggak diselesaikan lewat jalur hukum ?, case nya disini 
apa sih? dilarang beribadah ? maksudnya gak boleh sembahyang gitu? kalau 
sembahyang dlm waktu istirahat karyawan kan bisa dong, kalau memang jadwal 
kerja..ya mana bisa, kita kerja diperusahaan ya hrs ikutin regulasi perusahaan 
dong, pengaduan2 soal hukum kok ke tokoh masyarakat ? alias tokoh agama? 
....Director Halim mungkin kesel karyawan sembahyang pada jam2 kerja, bukan 
berarti melarang beribadah sesuai dengan agama si karyawan, gak masuk akal 
masak ada Director ngelarang hal2 begini, saya juga kalau punya perusahaan jam2 
kerja dipake ibadah kesel lah....business is business, ibadah ya ibadah, jangan 
dicampur baur, enak aja emang nya revenue perusahaan bisa dikeruk dari ibadah? 
sorry bukan nya saya malah memperkeruh suasana "SARA" ini, kesel aja dgn cara2 
org kita mengatasi masalah2 begini apalagi tokoh2 masyrakat yg menteror sampai 
toko2 pada tutup, I am sick of this shit !



Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED] net

-----------------------------------------------
TASIKMALAYA - Kota Tasikmalaya mencekam. Sejumlah toko memilih tutup menjelang 
pukul 14.00. Gara-garanya, tebersit kabar bahwa tokoh agama se-Tasikmalaya 
bakal berunjuk rasa.

Sasarannya adalah diler mobil Dahana Berlian. Penyebabnya, direktur diler 
tersebut, Khairul Halim, diberitakan melarang karyawatinya beribadah sesuai 
agamanya.

Berita bernuansa SARA tersebut berawal dari kedatangan beberapa karyawati diler 
tadi ke rumah Khaeruman Azam, tokoh agama Tasikmalaya. Dewi, salah seorang 
karyawati itu, mengadu karena dilarang beribadah oleh Halim di tengah rapat 
perusahaan.

Menanggapi pengaduan tersebut, Azam bersikap hati-hati. Dia menyumpah tujuh 
karyawati yang mengadu padanya. Tujuannya, agar mereka menceritakan kejadian 
apa adanya tanpa ditambahi atau dikurangi.

"Setelah disumpah, mereka menceritakan kejadian pada 3 Maret itu," tambah Azam. 
Saat itu, para karyawati tengah mengikuti rapat bersama Halim mulai pukul 08.00.

Ketika sampai pukul 14.00 rapat tidak juga selesai, mereka minta izin untuk 
beribadah sesuai agamanya. Bukannya mendapat izin, mereka malah dimarahi.

Yang membuat mereka tidak terima, Halim melontarkan ungkapan-ungkapan yang 
mendiskreditkan agama para karyawati tersebut. "Hampir setengah jam bos itu 
marah," kata Azam menirukan pengakuan para karyawati itu.

Untuk menegaskan pengaduan tersebut, Azam minta para karyawati itu membuat 
laporan tertulis. Bersama tokoh-tokoh lain, Azam membahas pengaduan tersebut.

Pada saat yang sama, Halim datang untuk memberikan klarifikasi. Berita yang 
berkembang, Halim berniat menyuap para tokoh agama tadi agar tidak lagi 
mempermasalahkan kasus itu.

Berita tersebut dibantah Tubagus Miftah Fauzi, tokoh lain yang ikut dalam 
pertemuan itu. Fauzi menjelaskan bahwa Halim datang dengan mengajak seseorang 
yang disebutnya sebagai saksi kejadian di dalam rapat itu.

Namun, belakangan diketahui bahwa orang yang diajak Halim tadi ternyata tidak 
hadir dalam rapat yang akhirnya bermasalah tersebut. "Itu menunjukkan bahwa dia 
(Halim) memang tidak memiliki iktikad baik untuk menyelesaikan masalah tadi," 
tambah Fauzi. Berdasar fakta-fakta itu, para tokoh akhirnya sepakat untuk 
bersikap tegas terhadap kasus tersebut.(rzr/dir)

<< :: Kembali

---------------------------------------------- 
Best View : 1024 x 768 with IE 5.5 or above 
©Copyright 2006, Jawa Pos dotcom colo'RADNET. 




    
---------------------------------
  Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.   

         

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

Kirim email ke