Saya pikir moral has nothing to do with a high education (sarjana), tetapi
untuk menjadi President/pemimpin tentunya di butuhkan dua basic yg terkuat
yaitu moral dan high education or experiences, seseorang yg memiliki naluri
tajam dalam menentukan kebaikan dan keburukan dalam setiap sikap manusia dan
character, juga seseorang yg mampu memiliki observasi yg cekatan yg ditunjang
oleh intelektual/ intelegent yg tinggi, ketika org bertanya kepada kpd saya "
apakah kamu setuju Hillay Clinton menjadi president US ?"
"why not, she is very well educated, but she dont have a military experience,
she is not a chief commander, and so and so...."
" how about Barrack Obama ?"
" well, he has a strong economist background, maybe will do good for middle
class people "
" how about John Kerry?"
" eh..no, thanks, he might be a great soldier in vietnam, but he is an
idiot...hahahahahhaaaa"
Yeah, moral dan pendidikan yg proper utk pemimpin/president is a MUST!
president hrs mampu membuat keputusan2 besar, bertanggung jawab atas keputusan2
politik nya dan ini memerlukan kebijakan moral dan pendidikan yg layak, kita
tidak mau dipimpin oleh president yg hanya lulus SMA saja misalnya seperti yg
kita rasakan saat ini di tanah air.
salam
omie lubis
judithms lubis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
apakah gelar sarjana itu menjamin moral seseorang menjadi baik dan mampu
jadi pemimpin ?
jms
' be legal '
----- Original Message -----
From: Leo TOBING
To: [email protected]
Sent: Sunday, March 25, 2007 1:43 PM
Subject: RE: [mediacare] Indonesia Lebih Butuh Pemimpin Bermoral
parameter-nya bahwa seseorang bermoral itu bagaimana, ya?
apakah orang yg tidak pernah dipidana sudah dapat dinyatakan sebagai orang
yang bermoral? (terbukti tak pernah memiliki permasalahan hukum).
lalu ... bagaimana dengan calon pemimpin yg pernah dipidana? apakah ada
kesempatan untuk menjadi pemimpin lagi?
Regards,
LEO TOBING
-------------------
NO PEACE WITHOUT JUSTICE!
---------------------------------
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Sunny
Sent: Saturday, March 24, 2007 8:26 PM
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: [mediacare] Indonesia Lebih Butuh Pemimpin Bermoral
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/24/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Soal Capres Sarjana Indonesia Lebih Butuh
Pemimpin Bermoral
[JAKARTA] Indonesia lebih membutuhkan pemimpin yang memiliki moral baik
ketimbang gelar sarjana. Syarat calon presiden minimal sarjana dinilai sebagai
upaya pemerintah saat ini untuk menjegal lawan politik. Hal itu disampaikan
anggota Dewan Pertimbangan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, AP
Batubara kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/3). Dia menanggapi rencana
pemerintah untuk merevisi paket undang-undang politik yang salah satunya
mensyaratkan calon presiden harus memiliki gelar sarjana. "Gelar sarjana
bukan sebuah jaminan kualitas kemampuan seorang pemimpin. Apa arti gelar
sarjana, master, dan doktor jika tidak dipercaya rakyat. Sebab, kepemimpinan
itu menyangkut soal kepercayaan dan moral," kata dia. Menurut Batubara, saat
ini banyak politisi di Indonesia yang bergelar sarjana, baik di eksekutif dan
legislatif, tetapi memiliki mental dan moral yang rendah. Dia mencontohkan
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bergelar sarjana tapi terlibat dalam
perbuatan tidak bermoral, yaitu hubungan seksual yang ditayangkan lewat video
porno. "Contoh lain, banyak koruptor yang memiliki predikat sarjana tapi
kepintarannya itu digunakan untuk mengeruk uang negara alias korupsi," kata
dia. Dikatakan, revisi paket UU Politik itu menunjukkan sikap dan mental
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang tidak demokratis dan penakut. Oleh
karena itu, sebagai partai yang selalu konsisten mengusung misi demokrasi dan
kerakyatan, PDI-P jelas menolak revisi itu. Revisi paket UU politik itu, kata
Batubara, juga telah menjadi alat kepentingan Pemerintahan Yudhoyono untuk
menjegal Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri untuk tampil sebagai calon
presiden pada Pemilu 2009. Namun, dia yakin, upaya seperti itu tidak akan
mendapatkan dukungan dari rakyat. "Apalagi, berbagai hasil survei yang
dilansir sejumlah lembaga, seperti Lingkaran Survei Indoensia (LSI),
menunjukkan kalau PDI-P kembali tampil menjadi partai utama yang
diunggulkan," kata dia. Sebagai presiden yang selalu mengumandangkan
demokrasi dalam berbagai kesempatan, Yudhoyono diimbau untuk tidak melakukan
cara-cara inkonstitusional. Apalagi jika cara-cara seperti itu dilakukan hanya
untuk kepentingan kekuasaan. [O-1]
Last modified: 24/3/07
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.