--- radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Temans, > > Tentang pohon yang bisa bicara itu adanya di > hadits, bukan Al-Quran. Entah hadits apa, karena > saya tak peduli dengan hadits, takut menyesatkan. >
Hadist dan Quran merupakan pasangan yang tidak terpisahkan, jadi kalo anda katakan Quran otomatis juga Hadistnya, sebaliknya kalo bilang Hadist akan terkait dengan alirannya. Jadi jangan terjebak debat kusir, begitu salah dikatakan itu bukan quran tapi hadist. Dan dilain saat hadist yang salah tadi dibela lagi jadi referensi. Sama halnya dengan bible, ada perjanjian baru dan ada perjanjian lama. Perjanjian baru menggunakan referensi dari perjanjian lama untuk ditafsirkan sebagai bukti kebenaran dongeng Yesus. Tidak beda dengan Quran dan Hadist, Hadist itu seperti perjanjian baru yang merupakan tafsir2 dari isi Quran yang lebih lama. Sebaiknya hindari debat kusir macam begini. Ada di hadist tetap saja berasal dari tafsir AlQuran dalam hal ini tak perlu dibedakan. quran banyak macamnya demikian pula Hadist juga banyak macamnya. Ny. Muslim binti Muskitawati. > Kalau baca tulisan Gus Ulil kira-kira dialognya > seperti ini, saya petikkan: > > .......jika ada seorang Yahudi bersembunyi di > balik sebuah pohon untuk menyelamatkan diri, pohon > itu akan berteriak memberitahukan kepada pasukan Isa > bahwa "Hoi, di balik aku ada orang Yahudi nih!" > > Jadi pohon tersebut memihak pada Islam, karena > dikabarkan Isa akan masuk Islam di hari akhir nanti. > Kalau pohon yang di film The Lord of The Ring itu > kan pohon yang merana karena terus ditebangi. Ia > bisa bicara dan bisa jalan-jalan. Sebenarnya adegan > itu untuk mengkritisi kerusakan lingkungan yang kian > parah. Jadi saya pastikan sang sutradara tak > diilhami oleh hadits tersebut. > > Berikut cuplikan lengkap opini Gus Ulil dari > Jaringan Islam Liberal yang kini studi di Harvard: > > > Klaim tentang Islam sebagai agama "jalan tengah" ini > adalah salah satu "mekanisme teologis" yang dipakai > oleh kalangan Islam revivalis untuk menegakkan klaim > superioritas Islam. > > Sejumlah teks-teks keagamaan digiring untuk > mendukung > klaim superioritas seperti ini. Misalnya sebuah > hadis > yang sangat terkenal di mana Nabi pernah bersabda, > "Jikalau Musa datang kembali di akhir zaman maka dia > tak bisa lain kecuali mengikuti syariatku". Hadis > ini > dipakai untuk menunjukkan keunggulan syariat Islam > atas syariat agama-agama lain. > > Hadis lain yang juga relevan dengan tema ini > berkaitan > dengan kedatangan Nabi Isa di akhir zaman. Menurut > keyakinan sebagian umat Islam, Nabi Isa akan turun > kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. > Tetapi Isa datang bukan dengan syariat baru, > melainkan > akan menjalankan syariat Islam yang dibawa Nabi > Muhammad. Karena itulah, Isa nanti akan > menghancurkan > salib dan membasmi seluruh orang Yahudi. Hadis > tersebut bahkan menggambarkan peristiwa pembasmian > itu > secara dramatis, misalnya, jika ada seorang Yahudi > bersembunyi di balik sebuah pohon untuk > menyelamatkan > diri, pohon itu akan berteriak memberitahukan kepada > pasukan Isa bahwa "Hoi, di balik aku ada orang > Yahudi > nih!" > > Dengan kata lain, dalam keyakinan sebagian umat > Islam, > kedatangan Isa ke bumi kembali adalah "pogrom" yang > dahsyat bagi orang-orang Yahudi, juga musibah besar > bagi orang Kristen. > > Yang menarik adalah cara hadis itu "mem-frame" > misi > kedatangan Isa tersebut. Misi Isa dipahami bukan > menegakkan hukum kasih, sebaliknya hukum > keadilan--tema sentral dalam agama Islam. Sekali > lagi > di sini kita melihat proses yang subtil di mana > superioritas Islam ditegakkan. > > Banyak doktrin lain yang mendukung kleim > superioritas > Islam, dan doktrin ini dikembangkan hampir dalam > semua > bidang keilmuan Islam: tafsir, hadis, kalam, > filsafat, > tasawwuf, dst. > > Salah satu bentuk superioritas ini adalah surat > yang > pernah dikirim kepada Nelson Mandela oleh Dr. A'idh > al-Qarni, seorang juru dakwah dari Saudi yang > dikenal > luas di Indonesia melalui bukunya yang laris manis > "La > Tahzan" itu. Dalam surat itu, al-Qarni mengakui dan > mengagumi jasa-jasa Mandela dalam kemanusiaan. > Tetapi > dia menyayangkan satu hal pada Mandela, yaitu dia > belum masuk Islam. Sekiranya Mandela masuk Islam, > maka > lengkaplah seluruh reputasi Mandela. > > Surat al-Qarni yang mengajak Mandela masuk Islam > itu > bisa dibaca di alamat ini: > > > http://www.tdwl.net/vb/archive/index.php/t-48107.html > > > Bacalah penggalan surat al-Qarni berikut ini: > > I am calling upon you from Makkah, just beside the > holy shrine of Ka'bah, where the Glorious Quran was > revealed, and Mohammed (PBUH), was commissioned as a > Prophet and Messenger of Allah, the Almighty, to the > whole of mankind. Makkah is the place where the > Light > of the Message had first pierced the darkness. It is > the place where the pagan idols were destroyed, > tyrants were deposed, human rights were declared, > oppression was removed and Peace and Justice were > finally restored. > > Pertanyaan saya buat al-Qarni: jika Islam > benar-benar > agama yang membela hak asasi manusia dan melawan > setiap bentuk opresi dan karena itu dia mengajak > Mandela masuk Islam, kenapa tidak lahir seorang > Mandela dari bumi Islam? Kenapa tak lahir seseorang > dengan kapasitas moral yang mengagumkan seperti > Gandhi > dari Saudi? Kenapa yang lahir dari Saudi justru > orang > seperti Usamah bin Ladin? > > Kalau benar Islam adalah agama seperti didaku oleh > al-Qarni, bikin sendiri dong orang seperti Mandela, > jangan ngajak-ngajak orang yang sudah "jadi" seperti > Mandela. > > Menurut saya, ini semua berasal dari doktrin > superioritas Islam yang menganggap bahwa seseorang > bisa melakukan sesuatu yang mengagumkan bagi > kemanusiaan, tetapi usahanya itu sia-sia jika dia > tidak masuk Islam. Ayat yang sering dikutip untuk > mendukung anggapan semacam ini adalah 25:23, "wa > qadimna ila ma 'amiluu fa ja'alnahu haba'an > manthura". > Amal-amal orang kafir akan dicampakkan dan menjadi > sia-sia pada hari kiamat nanti. Dalam penafsiran > yang > dikenal luas di kalangan Islam: meskipun amal itu > adalah amal yang baik, tetapi jika yang bersangkutan > tidak menjadi Muslim dan beriman, maka amalnya itu > sia-sia. > > Saya menerima kebenaran Islam, tetapi menolak > superioritas Islam. > Ulil
