Kesaksian Burks bukti bahwa Mega menghormati kedaulatan RI dan rakyatnya. Beda 
banget sama SBY dan JK dkk. Holy Uncle lebih baik usahakan pendekatan RI dengan 
RRC, tapi pimpinan sekarang terus lebih seneng sama AS karena didikannya memang 
begitu sih. Mega mau bebas aktif di politik luarnegri sesuai semangat Bandung 
(kabarnya Dasa Sila itu juga ikut diformulasi oleh Perdana Menteri RRC, lupa 
namanya).
  Hidup Chavez! Mari kita tiru Chavez yang rapat kerjasama dengan RRC untuk 
keuntungan dua pihak, bukan biarkan dikeruk SDA kita ludes oleh Amriks!
  TCh

darwiniskandard <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          --- In [EMAIL PROTECTED], "Holy Uncle" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ***Kenapa ??? ?
> 
> ***Ibu Mega harapkan dengan mengdiskreditkan administrasi SBY, lebih
banyak
> rakyat pro PDIP.
> 
> ***Dalam hal ini, saya tidak setuju sikap opportunist Ibu Mega.

==============================================

***Kenapa ??? ?

1. Seperti yang dikatakan Megawati : "Indonesia yang sudah menjadi
sahabat Iran sejak lama"
2. Iran Negara tertindas
3. Kenapa Negara lain tidak diperlakukan seperti Iran?
4. Apakah ada jaminan dengan dikeluarkannya Resolusi DK PBB, Amerika
Serikat tidak menyerang Iran? Kalau terjadi seperti Irak, apa yang
Pemerintah RI lakukan? 

***Ibu Mega harapkan dengan mengdiskreditkan administrasi SBY, lebih
banyak
rakyat pro PDIP.

Yang tidak setuju bukan hanya Megawati tetapi dari kelompok lainpun
(baik kanan maupun kiri) banyak yang tidak setuju. Apakah ini dianggap
mendekreditkan? Apakah kita harus diam kalau pemerintah salah?

***Dalam hal ini, saya tidak setuju sikap opportunist Ibu Mega.

Sikap Megawati tetap konsisten dari dahulu : coba lihat tulisan dari
kelompok Islam dibawah ini 

Fauzan Al-anshori
http://swaramuslim. net/images/
uploads/xfiles/ Fred_burks3. jpg> Sidang
ketiga belas (13/1) kasus dugaan
terorisme terhadap Ustad Abu Bakar
Ba'asyir ini sungguh sangat menarik.
Pasalnya, Tim Pembela berhasil
menghadirkan saksi meringankan
(adecharge) yang sangat signifikan,
yakni Prof.Dr. Syafii Maarif, Ketua Umum
PP Muhammadiyah dan Fred Burks, mantan
penerjemah di Departemen Luar Negeri
(Deplu) Amerika Serikat (AS).

Kesaksian Pak Syafii atas intervensi
pemerintah AS terhadap kasus Ust Abu ini
sebenarnya sudah ditulisnya sendiri di
rubrik Resonansi HU Republika (13/4/04)
ketika ia diminta langsung oleh Dubes AS
di Jakarta Ralph L Boyce (28/3/04) atas
perintah Washington agar melobi Ketua
Mahkamah Agung (MA) dan Kapolri supaya
Ust Abu tetap ditahan sebelum pemilu
dilangsungkan (5/4/04). Untuk
kepentingan itu pihak Dubes menyiapkan
semua fasilitas yang dibutuhkan. Namun,
Pak Syafii langsung menolak dengan tegas
permintaan tersebut, kendatipun dia
sendiri tidak sepaham dengan visi dan
misi perjuangan Ust Abu. Pak Syafii
minta agar pemerintah AS menghormati
keputusan Mahkamah Agung (MA) yang akan
membebaskan Ust Abu pada 30 April 2004.
Pak Syafii tidak rela dirinya menjadi
kacung AS.

Adapun kesaksian Fred Burks (lahir
20/2/58), mantan penerjemah Deplu AS
pada pertemuan presiden George W Bush
dan presiden Megawati di Gedung Putih
(19/9/01) sepekan setelah tragedi WTC
11-9 juga melansir sendiri kesaksiannya
di koran The Washington Post (9/12/04).
Kemudian kesaksian Fred dielaborasi oleh
majalah Gatra edisi 1 Januari 2005.
Kesaksiannya di persidangan sebenarnya
hanya mengulang apa yang pernah dia
katakan di kedua media tersebut.
Diantaranya, Fred menyebut adanya
negosiasi tingkat tinggi, di mana
Amerika minta Indonesia menyerahkan Ust
Abu ke tahanan Amerika sebagaimana
penyerahan Umar Al-Faruq (5/6/02).
Tetapi Megawati menolak permintaan itu,
dengan alasan Ust Abu dikenal luas di
Indonesia sehingga bisa menimbulkan
instabilitas politik dan agama yang
tidak sanggup dipikulnya, kecuali jika
opini publik mendukung langkah itu.

Fred juga berkata bahwa tiga pekan
sebelum bom Bali (12/10/02) ada
pertemuan rahasia di rumah kediaman
pribadi Megawati (16/9/02) yang dihadiri
oleh Ralph L Boyce, dubes AS untuk
Indonesia, Karen Brooks (Direktur Asia
National Security Council), seorang
perempuan agen CIA yang diperkenalkan
sebagai utusan khusus presiden Bush, dan
Burks sendiri, sedangkan Megawati hanya
sendirian. Dalam pertemuan 20-an menit
itu si agen CIA berkata bahwa pemerintah
Amerika minta agar Ust Abu diserahkan ke
Amerika karena terkait jaringan Al-Qaeda.

Penolakan Megawati membuat agen CIA
justru mengancam: "Jika Ba'asyir tidak
diserahkan ke Amerika sebelum Konferensi
APEC (enam minggu setelah pertemuan itu)
maka situasi akan bertambah sulit.
Utusan khusus Bush itu tidak menjelaskan
lebih jauh apa yang dimaksud dengan
"situasi akan bertambah sulit" tersebut.
Pertemuan pun bubar. Bom Bali pun meledak
(12/10/02). Burks berkata: "Peristiwa
itu memberi alasan yang diperlukan
Megawati sehingga Ba'asyir ditahan
sampai sekarang, meskipun dia (Mega)
tidak menyerahkannya ke Amerika. Dan
karena mayoritas korban adalah warga
Australia (88 orang, ingat sejarah
dibentuknya Densus 88), peristiwa itu
juga membuat pemerintah dan rakyat
Australia mendukung perang melawan
terorisme, padahal mereka sebelumnya
enggan. Pengakuan Fred ini dilakukan
untuk menghentikan penipuan oleh Amerika
terhadap masyarakat Indonesia" (Gatra,
1/1/05).

Kedua kesaksian ini jelas telah
mengkonfirmasi asumsi yang selama ini
diyakini oleh Ust Abu, bahwa
penangkapannya secara paksa dari RS PKU
Muhammadiyah Solo (28/10/02), penahanan
dan persidangan pertama atas dirinya,
penangkapan paksa kedua kalinya dari
Rutan Salemba (30/4/04), dan penahanan
serta persidangannya kedua benar-benar
merupakan order pemerintah AS. Untuk itu
pemerintah AS mengucurkan "carrot"
sekitar US$ 657 sebagai balas budi atas
penzaliman terhadap ulama sepuh ini.
Uang dolar itulah yang digunakan polri
diantaranya untuk membeli kendaraan
dinas, membangun pusat pelatihan
anti-teror di Semarang, dan membangun
gedung Detasemen Khusus (Densus 88) 33
tingkat di halaman Polda Metro Jaya yang
aroma KKN-nya sangat menyengat itu.

Kesaksian Fred juga akan membuka tabir
misteri peledakan bom Bali yang
menewaskan 200-an orang serta menahan
lebih 200-an aktivis muslim sebagai
tertuduh pelaku tindak pidana terorisme.
Bom Bali itu juga telah menjadi pintu
masuk bagi kepolisian Australia (ASIO
dan AFP) ke jantung Polri melalui kedok
kerjasama memerangi terorisme. Bom Bali
juga telah menebas leher demokratisasi
di Indonesia dengan keluarnya UU
Anti-Terorisme no. 15 tahun 2003 yang
memberi wewenang mutlak kepada Satuan
Tugas Khusus (Satgassus) untuk menangkap
pelakunya dan membongkar jaringan apa
yang dinamakan Jamaah Islamiyah (JI),
organisasi yang dianggap paling
bertanggungjawab di balik bom Bali yang
amirnya didakwakan kepada Ust Abu.

Sungguh tidak pernah terlintas dalam
benak saya sebelumnya akan ada seorang
warga negara Amerika yang sangat
profesional dan berani membongkar kedok
kebohongan dan kemunafikan rejim Amerika
di Indonesia. Namun, seiring perjalanan
waktu ternyata Allah swt memberikan
pelajaran yang berharga kepada bangsa
Indonesia, menyusul teguran keras berupa
gempa dan gelombang tsunami di Aceh.
Semoga bangsa ini semakin berani
mengakui kesalahan sendiri dan bertobat
dari perilaku pengkhianat terhadap
kedaulatan bangsanya demi mengejar
segepok dolar yang tak berharga sama
sekali dan hanya akan menjadi api yang
berkobar-kobar di dalam perut pemakannya
di neraka kelak.

Akhirnya, dalam surat elektroniknya
(email) kepada saya sebelum tiba di
Indonesia, Fred menulis: "...Semoga
kesaksian saya berguna dalam mengungkap
apa yang terjadi di belakang
layar...Saya ikut berdoa semoga
kebenaran akan diketahui oleh semua
pihak." (29/12/04).

--- In [EMAIL PROTECTED], "Holy Uncle" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ***Kenapa ??? ?
> 
> ***Ibu Mega harapkan dengan mengdiskreditkan administrasi SBY, lebih
banyak
> rakyat pro PDIP.
> 
> ***Dalam hal ini, saya tidak setuju sikap opportunist Ibu Mega.
> 
> 
> >From: "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: <Undisclosed-Recipient:;>
> >Subject: [nasional-list] Mega Kecewa, RI Dukung Resolusi untuk Iran
> >Date: Thu, 29 Mar 2007 22:17:41 +0200
> >
> >???
> >http://www.gatra.com/artikel.php?id=103417
> >
> >
> >Mega Kecewa, RI Dukung Resolusi untuk Iran
> >
> >Jakarta, 30 Maret 2007 01:52
> >Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku kecewa dengan 
> >kebijakan Pemerintah Indonesia yang mendukung Resolusi Dewan
Keamanan (DK) 
> >PBB No 1747 untuk memperluas sanksi atas Iran.
> >
> >"Saya sebagai Ketua Umum PDIP merasa kecewa dengan sikap
Indonesia," kata 
> >Megawati pada acara deklarasi Baitul Muslimin Indonesia, di kantor DPP 
> >PDIP, Jl Lenteng Agung Raya, Jakarta, Kamis (29/3).
> >
> >Iran adalah negara sahabat Indonesia yang saat ini membutuhkan
dukungan, 
> >tapi apa yang dilakukan Indonesia sekarang ini? tanya mantan
Presiden RI 
> >itu. "Kenapa Indonesia yang sudah menjadi sahabat Iran sejak lama, 
> >seharusnya tidak memberikan dukungan terhadap Resolusi DK PBB atau
putusan 
> >absen saja," ujar Megawati.
> >
> >Andaikata dengan abstain saja, lanjut Megawati, pada saat sekarang
ini, 
> >sudah merupakan dukungan bagi Iran.
> >
> >Dalam kesempatan itu, Megawati juga menceritakan pengalamannya saat 
> >menjabat menjadi Presiden Indonesia sedang menghadapi permasalahan
Irak.
> >
> >"Dalam pidato-pidato saya di DK PBB maupun di organisasi Islam, saya 
> >katakan peranan Indonesia bebas aktif. Ketika Irak akan diserang
Amerika 
> >Serikat saya bertanya: yang mulia presiden (Amerika Serikat --Red)
sampai 
> >berapa lama perang selesai jangka pendek. Sebutkan kepada saya,
seminggu, 
> >sebulan, setahun?" cerita Megawati.
> >
> >Megawati menjelaskan, ceritanya tersebut bukan bermaksud untuk
menerangkan 
> >keutungan politik pragmatis, karena memang tidak gampang untuk
masuk ke DK 
> >PBB, meskipun sebagai anggota tidak tetap. "Tapi kenapa, saat
menghadapi 
> >Iran, tidak seperti yang saya katakan waktu itu," katanya.
> >
> >Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Pramono Anung
dalam 
> >acara yang sama mengatakan, pihaknya pesimistis terhadap pengajuan 
> >interpelasi sejumlah anggota DPR terhadap dukungan Indonesia atas
Resolusi 
> >terhadap Iran. "PDIP menduga hak interpelasi itu, akan pupus sebelum 
> >Presiden berhasil dipanggil ke Senayan," katanya.
> >
> >Pramono mengatakan, interpelasi seharusnya menjadi sikap fraksi, bukan 
> >sikap masing-masing anggota dewan. Selain itu, ia juga menegaskan,
sebagai 
> >negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya
Indonesia tidak 
> >gegabah dalam mengambil keputusan terhadap Iran. [EL, Ant]
> >
> 
> __________________________________________________________
> Exercise your brain! Try Flexicon. 
>
http://games.msn.com/en/flexicon/default.htm?icid=flexicon_hmemailtaglinemarch07
>



         

 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke