Aku ambil cerita nyata ini dari blognya Mas Badrul Fuad di http//cakfu.infoDinda
===== TUHAN TIDAK MENERIMA TAMU DIFABEL Suatu ketika saya bersama beberapa teman dalam sebuah perjalanan mampir ke masjid Agung Surabaya untuk melakukan sholat Ashar. Hampir tiga jam kami berkeliling memutari bangunan masjid untuk mencari jalan agar kami dapat masuk ke dalam masjid yang megah tersebut. Akhirnya kamipun tetap tidak menemukannya, karena bangunan masjid Agung Al-Akbar tersebut didesain begitu megah dengan dikelilingi puluhan anak tangga. Karena waktu sholat Ashar hampir habis kemudian kami memutuskan untuk mengambil air wudlu. Tidak berbeda kasusnya, kami berlima menuju tempat wudlu dan ternyata tempat wudlu tersebut berada di bawah bangunan masjid megah tersebut. Untuk mencapainya maka kami harus menuruni anak tangga yang jumlahnya sepuluh buah. Saya sempat menatap ke-empat teman saya yang kesemuanya menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga. Dalam benakku aku bergumam”Ya..Allah begitu jauh diri Mu untuk kami temui”. Akirnya kamipun memutuskan untuk tetap mengambil air wudlu. Satu per satu teman saya tersebut harus digendong oleh satpam Masjid Agung untuk mengambil air wudlu dan masuk ke dalam masjid. Sesampainya di dalam serambi Masjid, kami menemukan tulisan “SUCI-Alas Kaki Harus Dilepas”. Pak Tompul salah seorang teman yang kebetulan kedua kakinya mengalami amputasi hingga paha terlihat kebingungan. Haruskah dia melepas kedua kaki palsunya di tengah tangga masjid. Akhirnya beliaupun melepasnya dan kemudian beliau merangkak menaiki sisa anak tangga untuk menuju kedalam Masjid. Mungkin kejadian semacam ini terlihat “wajar” oleh beberapa orang. Mungkin orang hanya berfikir dengan logika sederhana bahwa bangunan masjid tidak memungkinkan teman – teman saya yang difabel untuk masuk, oleh karena itu mereka harus dibantu dan membantu orang yang membutuhkan (difabel) adalah sebuah kebaikan dan akan mendapatkan pahala. Ada sebuah pertanyaan yang seketika itu muncul di benak saya. Kenapa kebanyakan bangunan masjid atau bahkan sebagian besar rumah ibadah di Indonesia didesain begitu megah namun tak satupun yang aksesible bagi difabel. Dengan alasan keindahan dan kemegahan, rumah ibadah dibangun dengan tangga-tangga dan dilengkapi pula dengan lantai yang licin serta mengkilap. Bangunan masjid dengan arsitektur semacam itu memang terlihat indah dan setiap agama menganjurkan untuk membangun rumah ibadahnya seindah dan semegah mungkin. Ratusan juta rupiah dana dihabiskan untuk membiayai sebuah bangunan rumah ibadah, bahkan kalau perlu panitia pembangunan rumah ibadah tersebut meminta sumbangan kepada warga sekitar. Dalam Islam diajarkan bahwa jika membangun masjid harus lebih indah dan lebih megah dari rumah penduduk disekitarnya. Namun seindah apapun bangunan masjid dan rumah ibadah yang jelas kawan-kawan kita para difabel tetap tidak akan dapat melakukan sembahyang di dalamnya. Rumah ibadah sering diidentikkan dengan Rumah Tuhan. Tuhan diyakini sebagai Dzat yang Maha Suci dan Maha Agung, sehingga rumah yang diperuntukkannyapun harus dibuat suci dan megah. Di tempat ibadah tersebut Tuhan tampak begitu eksklusif, Tuhan tampak begitu borju. Tuhan terlihat akrab menyapa kepada mereka yang berpenampilan necis dengan pakaian rapi, harum dan bersih. Sehingga masjid dan rumah ibadah lain tampak sebagai Istana Kerajaan Tuhan yang mewah dan megah. Para pengemis, pemulung yang compang-camping, dan para difabel tidak diperkenankan masuk kedalam masjid atau tempat ibadah lain. Jadwal pertemuan dengan Tuhanpun harus mengikuti jadwal protokoler pengurus rumah ibadah. Tuhanpun menjadi sangat elit. Sehingga untuk bertemu Tuhanpun seperti ingin bertemu dengan Presiden. Padahal sering kita mendengar ceramah bahwa Tuhan selalu bersama kita, sehingga kita dapat bertemu dengan Dia di manapun dan kapanpun. Sambil menuruni tangga Masjid pak Tompul bergumam”mau ketemu Tuhan saja kok susah, apa Tuhan memang tidak menerima tamu dari kita yang difabel?”. Sambil tersenyum saya menimpali”yang di dalam Masjid itu Tuhan mereka pak bukan Tuhan kita, Tuhan kita ada di dalam hati ini”.
