aku mau sumbang saran.
  apakah kita masih butuhkan sekolah2 khusus seperti ini?
  belum juga selesai masalah kematian praja sebelumnya,kita sudah disentakkan 
oleh kematian praja berikutnya.
  dan penyelesaiannya tidaklah tuntas.
  saya rasa supaya tidak ada korban berimutnya,sebaiknyalah sekolah ini ditutup 
saja.
  tokh untuk gubernur,sepertinya belum ada yang berasal dari alumni stpdn atau 
apa gitu.
  apalagi walikota atau bupati atau camat dan sejenisnya..saya rasa bisa 
dicukupi oleh rakyat biasa.
  tokh gelar itu tidaklah menjadi jaminan bahwa negara kita akan dipimpin 
dengan baik.
   
  banyak contoh pemimpin dengan gelar yang berderet seperti gerbong kereta api, 
tokh tidak dapat memimpin dengan baik.
  jadi sebaiknya tidak dibutuhkan sekolah2 khusus seperti itu.apalagi hanya 
akan membentuk kelompok eksklusif saja.
  lebih baik uang yang digunakan disalurkan untuk kebutuhan lainnya.
   
  katanya sih untuk itu, negara membutuhkan dana untuk dapat mensejahterakan 
masyarakat...
   
  semoga ini menjadi korban terakhir dari calon pemimpin yang belum2 sudah gila 
kekuasaan....
   
  

Kadarsah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Ade, bagus nih tulisannya Sdr.Edi Santosa,
jadi
siapa saja nih yang memiliki posisi berikut:

[EMAIL PROTECTED] praja
caporegima =praja tingkat I
capodecina =praja tingkat II
sotto capo =praja tingkat III
capofamiglia =.....?
Capo di Tutti Capi=Rektor IPDN

Setuju kah?

-kadarsah--

--- Ade <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 05/04/2007 11:44 WIB
> Kolom 
> Capofamiglia IPDN
> Eddi Santosa - detikcom
> Den Haag - Dalam kultur mereka, menyiksa diiringi caci-maki itu identik dengan
> disiplin. Jika berujung pada kematian, maka semua memberlakukan omerta. IPDN 
> sudah
> mirip keluarga mafia.
> 
> Cliff pasti menderita sekali. Nyawanya harus lepas karena tidak kuat lagi 
> memikul
> beban sakit nan tak terperi. Nyawa Cliff juga pasti sangat bersedih. Ia harus 
> mati
> membawa sisa cacian, bentakan atau bahkan mungkin kata-kata penghinaan yang 
> masih
> terngiang-ngiang... Sebuah proses keji yang dilegalkan dengan bungkus 
> "tindakan
> disiplin." 
> 
> Dan tubuh gagah Cliff tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Ia bukan berduel
> menghadapi ksatria jantan, pria sejati, melainkan gerombolan lelaki pengecut 
> yang cuma
> berani keroyokan. 
> 
> Para pengecut yang tak punya harga diri ini berlindung di balik atribut praja 
> senior.
> Masih ada satu lagi belenggu yang membuat Cliff semakin tidak berdaya: 
> sebagai bawahan,
> praja junior, dia harus patuh secara absolut kepada praja senior.
> 
> Cliff bukan korban pertama dan bukan akan menjadi korban yang terakhir, 
> selama rakyat
> pembayar pajak dan parpol-parpol di DPR tumpul merespons tradisi bengis, tidak
> memanusiakan manusia, dalam sistem pendidikan untuk mencetak Camat ini. 
> 
> Kultur dan sistem dalam IPDN sudah rusak dan tidak sesuai dengan kebutuhan 
> dan norma
> zaman. Dalam kurun 16 tahun, sejak 1990-an, sudah 35 praja tewas mengenaskan. 
> Itu
> artinya rata-rata lebih dari 2 nyawa tewas per tahun. 
> 
> Hanya bangsa kita saja yang masih memelihara serta membanggakan kultur dan 
> sistem
> mirip mafia itu. Memukul, menendang, menyiksa, membentak-bentak, dan 
> memaki-maki, dalam
> kultur ini menjadi instrumen untuk menegakkan disiplin. 
> 
> Pelajar baru masuk sudah dibentuk dan dikategorikan sebagai level rendahan 
> yang harus
> patuh pada level di atasnya. Praja baru ini mirip sgarrista, anggota dalam 
> mafia yang
> disejajarkan dengan prajurit. Mereka ini punya atasan langsung, yakni 
> caporegima,
> komandan yang membawahi kumpulan sgarrista.
> 
> Di atas mereka ada capodecina, atasan grup dari level sgarrista, yang 
> mempunyai
> kewenangan dan previlese lebih luas di atas para kroco sgarrista. Level ini 
> punya
> atasan lagi yakni sotto capo, semacam bos kecil. Kemudian di atasnya lagi ada 
> level
> capofamiglia yang punya kekuasaaan besar dan harus dipatuhi mutlak oleh 
> level-level di
> bawahnya.
> 
> Di ujung puncak hirarki masih ada Capo di Tutti Capi, sang mahaketua, bos di 
> atas
> segala bos dari segala hirarki itu. Siapa dia?
> 
> Jika ada kasus besar yang mereka lakukan, misalnya pembunuhan, dan itu gagal 
> mereka
> tutupi sehingga tercium polisi, maka mereka kompak menjunjung tinggi omerta, 
> yakni
> semacam code of silence: tutup mulut rapat-rapat, tidak kooperatif dengan 
> polisi atau
> menghalang-halangi kepentingan penyelidikan.
> 
> Sikap mirip omerta dalam mafia itu ditunjukkan oleh seorang pengajar 
> berinisial Prof
> Dr LG yang berusaha menghalang-halangi upaya polisi saat akan mengotopsi 
> jenazah
> korban. Dia bahkan berbohong dengan mengatasnamakan pihak keluarga demi 
> menolak
> permintaan polisi untuk otopsi jenazah. Bukankah kebobrokan lembaga yang 
> dibiayai pajak
> ini sudah sempurna?
> 
> Rakyat sudah cukup memberi kesempatan IPDN untuk memperbaiki diri, kini 
> saatnya
> bersikap untuk mendesak supaya ditutup. Tutup saja sekaligus mengurangi beban 
> anggaran.
> Para senator dan wakil rakyat, terutama dari daerah Sulawesi Utara, berhutang 
> untuk
> menyuarakan hal ini, bukan saja pada Cliff, tetapi juga pada anak-anak 
> Indonesia
> lainnya agar tidak menjadi korban empuk berikutnya.
> 
> Untuk sekadar posisi camat bisa diisi oleh sarjana FISIP dan sejenisnya dari 
> perguruan
> tinggi umum. Apa yang bisa diharapkan dari produk lulusan yang menyimpan 
> trauma
> psikologis dan fisik, di mana bahasa kekerasan, main siksa dan bentak, 
> menjadi bahasa
> pengantar sehari-hari? (es/es)
> 
>
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/05/time/150139/idnews/763612/idkanal/10
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> We won't tell. Get more on shows you hate to love
> (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

__________________________________________________________
It's here! Your new message! 
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/


         

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke