Lebih jelas kunjungi http://christovita-wiloto.blogspot.com/
Bisnis Indonesia Minggu, 08-APR-2007 
Tukul VS SBY-JK
  
Oleh:

Christovita Wiloto 
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific 
www.wiloto.com, 
email: [EMAIL PROTECTED] 
 
"Tak sobek-sobek mulutmu" teriak Tukul Arwana ke Christine Hakim, disusul 
kalimat yang jadi trade mark Tukul "puas... puas... puas...?!"  Christine-pun 
terpingkal-pingkal hingga terjongkok-jongkok dan (maaf) ngompol di celana. 
Kejadian itu nampaknya hanya bisa terjadi di acaranya Tukul Arwana, Empat Mata.
 
Nama Tukul terus meroket semenjak menjadi host program Comedy Talk Show "Empat 
Mata". Memang talk show yang dibawakan Tukul ini sangat unik dan berbeda dengan 
talk show lainnya. Perancang acara ini membuat Empat Mata sebagai sebuah talk 
show yang menggunakan perspektif komedi dan selalu saja menghadirkan Selebriti 
di setiap episodenya. 
 
Tukul selalu membahas topik / kasus yang sedang hot di masyarakat dan 
topik-topik yang unik, menarik dan timeless. Selain terdiri dari unsur talk 
show dan komedi, Empat Mata juga dibumbui oleh unsur entertainment lain, 
seperti musik dan tak lupa berbagai kejutan-kejutan tidak hanya untuk penonton 
saja, namun juga untuk bintang tamu ataupun host. 
 
Selain menawarkan informasi, Tukul juga menyajikan komedi yang segar. Dia 
memang  seorang Commedian yang multitalent, dapat menghibur kita sampai 
terpingkal-pingkal dengan celotehan spontan yang segar.
 
Tukul Arwana, yang mengaku "wong ndeso" alias orang desa ini selalu memposisi 
kan dirinya sebagai orang yang jelek, bodoh dan kampungan. "Face country money 
city" begitu katanya berseloroh, yang kira-kira berarti wajah kampung rejeki 
kota.
 
Acara Tukul ini mulai ditayangkan Mei 2006 di TV7, sebelum berubah menjadi 
Trans 7. Saat itu TV7 melihat potensi Empat Mata semakin digemari pemirsa. 
Acara yang semula hanya sekali dalam seminggu ini, kemudian ditingkatkan 
menjadi seminggu 2 kali, naik lagi menjadi 4 kali, dan kini menjadi 5 kali 
seminggu, Senin sampai Jumat.
 
Fenomena Tukul ini agak-agak mirip dengan Inul, orang desa yang meroket dengan 
cepat. Semoga selanjutnya Tukul tidak bernasib sama seperti Inul, yang kini 
makin merosot populeritasnya. 


Pada awalnya Tukul hanya dibayar Rp 3.5 juta per episode, kemudian seiring 
dengan ratingnya yang terus meroket, fee Tukul pun meningkat menjadi Rp 7 juta 
per episode. Tapi kini dengar-dengar Tukul menerima honor Rp 20 juta setiap 
kali muncul di Empat Mata, sedangkan jika kita ingin menanggap Tukul, kita 
harus rela mengeluarkan dana sekitar Rp 40 juta untuk 2 jam pertunjukkannya. 
 
Bukan hanya itu saja, Tukul-pun dikontrak sebanyak 260 episode oleh Trans 7. 
Bisa dibayangkan pendapatan Tukul dari Empat Mata  pun meroket menjadi Rp. 
5.200.000.000,- belum termasuk acara-acara di luar itu, plus honor dari 
iklan-iklan yang makin banyak dibintanginya.
 
Tukul, yang  lahir pada 16 Oktober 1963 tersebut bernama asli Riyanto. Berasal 
dari Semarang. Ketika tim TV 7 menghubunginya pertama kali, Tukul sempat kaget 
saat diminta sebagai pembawa acara talkshow, "Biasanya pembawa acara talkshow 
itu S3 atau S2, minimal S1, lha wong saya ini hanya SMA kok membawakan 
talkshow?" begitu kenangnya. 

Namun tim TV7 yang saat itu dikomandani Apollo menyakinkan Tukul, bahwa justru 
begitulah "ramuan khusus" dari acara Empat Mata, yaitu tampil unik beda dari 
yang lain.

Ramuan khusus ini mengingatkan kita pada buku-buku seri "for dummies", seperti 
Finance for Dummies, Sex for Dummies dan lain sebagainya yang meledak 
penjualannya di seluruh dunia.  
 
Populeritas SBY-JK

Lain Tukul lain juga SBY-JK. Kalau Tukul populeritasnya terus meroket, 
sebaliknya SBY-JK  populeritasnya terus merosot. 

Tiga tahun lalu saat dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden, popularitas 
SBY mencapai 80% dan Kalla 77%, namun sekarang makin merosot ke posisi 49,7%, 
sedangkan Jusuf Kalla tinggal 46,9%. 

Ini menurut  Lembaga Survei Indonesia, yang melakukan survei pada 17-24 Maret 
2007 di 33 provinsi dengan responden 1.238 orang. Menurut Direktur Eksekutif 
LSI Syaiful Mujani situasi perekonomian yang makin memburuk merupakan penyebab 
utama anjloknya popularitas duet SBY-JK.


Popularitas di bawah 50% adalah situasi yang membahayakan, karena telah 
menembus ambang batas psikologis. Ini merupakan indikator bahwa kepuasan publik 
pada kinerja Presiden dan Wakil Presiden sangat rendah. Kurang dari 50% dari 
pemilih nasional yang merasa puas dengan kerja Presiden. Ini merupakan tingkat 
kepuasan publik terendah terhadap kerja Presiden SBY sejak dua setengah tahun 
lalu ia dilantik menjadi presiden. 

Dibanding sekitar dua setengah tahun lalu (November 2004), kepuasan terhadap 
SBY menurun sekitar 30%, dan jika dibandingkan dengan Desember 2006, kepuasan 
publik pada SBY menurun sekitar 17%. 

Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng mengatakan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono meminta supaya penurunan popularitasnya, dapat diambil hikmahnya 
untuk bekerja lebih baik.
 
Menurut Andi, hal yang paling penting adalah survei itu merupakan masukan bagi 
pemerintah untuk melihat apa saja yang harus dilakukan. "Apa yang bisa 
dipertajam, diperbaiki untuk bisa menjadi lebih baik dalam melindungi 
meningkatkan taraf hidup rakyat," katanya.


Lain halnya dengan Menkominfo Sofyan Djalil yang berpendapat anjloknya 
popularitas Presiden SBY dalam hasil survei LSI tidak mencerminkan hal yang 
penting. "Survei itu sangat kondisional. Itu tidak mencerminkan apa-apa," kata 
Sofyan.  "Di AS saja hasil survei naik turun. Tidak masalah," ujarnya.

Pendapat mana yang lebih tepat, semuanya akan kembali kepada kita semua. Ya 
kita semua sebagai rakyatlah yang bisa merasakan apakah kita saat ini cukup 
puas dengan kinerja SBY-Kalla atau tidak.


Manajemen ekspektasi

Jika melihat hasil survey yang sangat tinggi saat SBY-JK dilantik, sebetulnya 
kita bisa melihat bahwa rakyat sebenarnya memiliki harapan yang sangat tinggi 
terhadap duet SBY-JK. Maklum pasangan ini merupakan hasil dari pemilihan 
langsung yang pertama terjadi di negeri ini. 

Namun rupanya, harapan rakyat tersebut tidak kunjung terpuaskan dengan berbagai 
kinerja SBY-JK, yang faktanya bukan semakin baik, namun justru semakin buruk.

Nah, jadi apa yang kita bisa pelajari dari dua kasus di atas? Manajemen 
ekspektasi! Ya Tukul tidak pernah menjanjikan apa-apa, dia tampil bahkan dengan 
menonjolkan berbagai kelemahannya, baik pendidikannya, penampilannya, bahkan 
Tukul selalu mengingatkan kita bahwa ia hanyalah orang desa yang masuk tivi. 
"Keadaanku seperti kutu kupret." katanya mengelikan.
 
Sehingga publikpun tidak memiliki ekspektasi atau harapan apapun terhadap 
Tukul, dan menganggap Tukul adalah bagian dari publik. Publik pun menjadi kagum 
dan tercengang-cengang ketika Tukul dengan bantuan Note Booknya, ternyata bisa 
berpikir luar biasa dalam bahasa dan gaya yang sangat biasa.
 
Hal ini justru terjadi sebaliknya pada kasus SBY-JK, yang dari awal mulanya 
memang mau tidak mau harus tampil dengan berbagai janji yang super muluk. 
Penampilannya pun harus selalu klimis sempurna. Namun justru inilah yang 
menjadi bumerang, ekspektasi atau harapan publik yang sengaja dibuat melambung 
sangat tinggi ini tidak dapat dipenuhi. Wajarlah kalau kekecewaan publik pun 
makin menggunung, dan makin hari makin besar.

Dalam guraun rakyat sehari-haripun sering kita dengar orang-orang berseloroh, 
"SBY-JK membuat rakyat stress, Tukul membuat rakyat tertawa."
 
Manajemen ekspektasi adalah masalah strategis bagi kita semua, baik Presiden, 
Tukul, perusahaan, produk atau siapapun dan apapun yang memerlukan dukungan 
publik untuk bisa exist.
 
Sampai di sini apakah kita perlu mengangkat Tukul yang "katro" tapi 
menyenangkan itu menjadi presiden? Wah embuh lah, he..he..he.. nggak 
tahu.....lebih baik kita kembali ke....LAP TOP!


Kirim email ke