Pemerkosaan Massal Masuk Dalam Catatan Pelanggaran HAM di UN

Sia2 kalo mau menganggap pemerkosaan massal itu tidak ada atau bohong,
karena korban2nya jelas ada dan telah mendapat visum dari dokter di RS
di berbagai negara maju yang memberi assylum kepada mereka.  Satu dari
korban2nya adalah anak tokoh Indonesia keturunan Cina yang terkenal berinisial 
CW.  Selain anaknya menjadi korban pemerkosaan juga
rumah keluarga anaknya di Kapuk hangus dilalap api setelah sebelumnya dijarah 
oleh mereka yang mendambakan pahala dari Allah.

CW sekeluarga mendapatkan Visa sebagai assylum
imigran langsung dari kedutaan Amerika di Jakarta yang juga
menyaksikan kejadian2 yang diluar peradaban manusia ini.

Korban2 pemerkosaan massal bukan terbatas hanya dialami oleh keturunan
Cina tapi juga meluas kepada orang2 asing di Jakarta seperti orang
Korea Selatan, orang Hongkong, Taiwan, Singapore, Phillipina, dan ada
satu wanita Jepang yang juga jadi korban pemerkosaan.  Mereka semuanya
kembali ke-negara masing2 dengan bantuan masing2 kedubesnya di
Jakarta.  Jadi masalah pemerkosaan massal ini juga dimonitor oleh
berbagai kedutaan besar asing di Jakarta termasuk duta besar Australia.

Pelanggaran HAM tanggal 13 Mei itu bukan hanya berupa pemerkosaan
massal tetapi juga disertai penjarahan toko2, pembakaran rumah dan
toko2, serta perampasan motor dan mobil yang dikendarai keturunan cina
di-jalan2.  Juga terjadi pembakaran mobil dan motor di perparkiran di
Ancol dan berbagai tempat lainnya.  Foto2 dokumentasinya semuanya bisa
anda temukan di lembaga HAM di UN.


> "L.Meilany" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kalo saya percaya bahwa memang ada perkosaan, pelecehan,
> perundungan, penjarahan, pembakaran terhadap perempuan etnis Cina,
> terhadap hartabenda milik etnis Cina.


Kejadian penjarahan dan pemerkosaan bukanlah kepercayaan, jadi tidak
usah percaya atau tidak percaya karena kejadian ini merupakan
kenyataan yang telah menjadikan ekonomi Indonesia mengalami kehancuran
dan juga menyebabkan sanksi ekonomi dari seluruh dunia untuk berbagai
pelanggaran2 hak azasi manusia lainnya, mulai dari Aceh, Papua, Poso,
Ambon, g30s, hingga termasuk didalamnya adalah kejadian pemerkosaan
massal dan penjarahan massal terhadap etnis cina.



> Isu SARA memang dikedepankan; ada orang2 Islam yg dijadikan sebagai
> pembuka acara pesta perkosaan massal. Saya punya beberapa teman
> etnis Cina yg ada keluarganya mati bunuh diri karena tak mau
> menanggung malu. Ada yg kemudian melahirkan dan menjadi gila.



Ini bukanlah issu SARA tapi murni masalah ajaran Islam yang mewajibkan
untuk membasmi semua yang bukan Islam yang dalam hal ini dimaksudkan
juga Yahudi.  Cina Indonesia disamakan dengan Yahudi karena dalam
AlQuran tidak ada kata Cina tetapi ada kata Yahudi.  Jadi definisi
SARA sama sekali salah karena bukan kesukuan, bukan rasialisme tetapi
murni ajaran Islam yang menjanjikan pahala disorga kepada siapapun
umat Islam yang berhasil memusnahkan musuh2 Islam.



> Sebenernya ini menurut saya peristiwa politik. Pelakunya konon para
> napi/preman yg di dandanin kayak anak SMU, badannya kekar. Sebelum
> beraksi mereka diberi semacam obat perangsang hingga mereka bisa
> secara brutal bertindak sadis.



Para pelakunya bukan preman tetapi pemuka2 agama dan orang2 soleh yang
selesai sembahyang Jum'at.  Mereka yang dari luar kota dibawa dengan
bus yang dipimpin langsung oleh seorang Dai keturunan Cina yang
bernama Anton Medan yang akhirnya dia jugalah yang dijadikan kambing
hitamnya dengan hukuman 5 tahun.  Dalam kesaksiannya dipengadilan,
Anton Medan menyangkal turut serta dalam pemerkosaan massal maupun
penjarahan, tugasnya hanyalahah mengumpulkan dan membawa umat Islam
yang berhasil dikumpulkannya ketempat yang dituju.

Tidak ada satupun yang diberi obat perangsang, karena kalo diberi obat
perangsang maka mereka tidak akan dapat bersenandung "allahuakbar"
secara demikian khidmad dalam memperkosa dan menjarahnya.

Memang dalam melindungi pemerkosaan massal ini, mereka dikawal oleh
kopasus dibawah pimpinan langsung Prabowo.  Jadi kopasus hanyalah
bertindak sebagai pengawal untuk keamanan berlangsungnya pengejaran
pahala oleh umat Islam yang haus pahala Allah seperti yang
dijanjikannya dalam AlQuran.

Akhirnya Prabowo melarikan diri ke Yordania, dia menolak membayar para
ulama yang dijanjikannya sebelum peristiwa pemerkosaan massal tsb.
Para ulama mengejar dan mengancam Prabowo untuk dana pemerkosaan
massal dan penjarahan.  Prabowo dalam kesaksian tertulisnya dari
Yordania menyatakan bahwa dia memang membayar para ulama untuk hanya
berdemo bukan menjarah dan memperkosa, karena itulah dia menolak untuk
membayar uang yang telah dijanjikannya karena demo yang dilakukan oleh
para ulama itu berubah menjadi pemerkosaan massal dan penjarahan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.








Kirim email ke