Yang dinilai cakram : Kreativitas adalah dalam hal mengolah isi - pertama kerja sama dengan NYT dalam rubrik Jack Welch - kedua kerja sama rubrik dengan Berita Harian dari Malaysia - mungkin juga perubahan format hari Sabtu dan Ahad
Cakram juga melihat trend bisnisnya Maklum bertahun-tahun Republika kan rugi terus dan 2006 lalu akhirnya untung Iklannya tak hanya terbatas travel haji dan umrah, atau yang melulu Islami Tapi juga produk2 yang umum. Banyak orang bilang koran Islam (mungkin kalian lebih nyaman bilang Sektarian) gak akan laku. Ya jelas gak laku kalo ngurusnya bukan sebagai business as usual Yang jelas, sektarian itu ada pasarnya lho ... Dan dengan bosan saya menunggu, kapan gaji saya naik ya? he he he Ingat Kompas dan Jawa Pos pun pernah mendapat penghargaan Cakram sebagai koran terbaik Ketika Kompas beralih format (menghemat) ke delapan kolom dari semual sembilan kolom Saya tak tahu atas kriteria apa Jawa Pos menjadi yang terbaik, mungkin keluasan jaringannya. Jadi, jangan terlalu curiga Pak Leokyh. Tauun depan saya yakin bisa saja Sindo yang menggelar koran sore atau Kontan yang memakai gaya bahasa funky tiba-tiba menjadi koran terbaik. Asal bisnisnya jelas. Kalau Media Indonesia? Yah, asal tidak terus menerus halamannya dipenuhi iklan proyek pemerintah On 4/7/07, loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "harryfadil" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bos...ini bisnis...media itu yang sekarang dipikirkan adalah > bisnis.....so terbaik atau tidak....berpaling pada kita...gimana > LANGGANANNYA....ECERANNYA...dan tentunya IKLAN......toh kelompok media > yang paling besar udh tidak peduli dengan Nielsen atau tetek bengek > lainnya....yang penting iklannya banyak sirkulasinya bagus..dan gaji > karyawannya naik setiap tahun... > > selamat untuk republika.. L: Nah, ini baru jawaban yang jujur bahwa media sekarang, secara implisit termasuk Republika, Kompas, dsb - mengutamakan bisnis. Ini fakta yang saya percaya benar. Tetapi kalau anda semua benar2 berjiwa wartawan, kedua aspek bisnis dan idealisme tetap harus berjalan bersama-sama dan sejajar. Jadi idealisme tidak bisa jadi topeng dan kedok untuk bisnis (ini bukan cuma untuk Republika lho). Mengenai komentar buwono putro ttg banyaknya penghargaan untuk Republika, yang saya tanyakan adalah kesesuaian antara KRITERIA penghargaan tsb dengan NAMA penghargaaan yang terkait. Misalnya penghargaan secara eksplisit (tertulis misalnya) diberikan untuk kenaikan oplag (pangsa pasar?) tertinggi dalam tahun tertentu misalnya, penghargaan ini sudah jelas dan obyektif kriterianya. Ya besar oplaag majalah tsb. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung, maklum di Indonesia yang sudah terbiasa dengan sistem popularitas karbitan untuk 'sesama teman', kuantitas tidak selalu menggambarkan kualitas. Salam > -- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, bowono putro <bowono@> wrote: > > > > He..he... orang yang dapat penghargaan koq Anda yang senewen. Heran. > > Tenang saja bos. > > Menurut pengamatan saya Republika itu memang makin bagus koq. Saya > kira pengamatan banyak orang juga begitu. Terbukti mereka diganjar > banyak penghargaan. Kita harus jujur mengakui itu. > > > > Salam, > > > > Bowo
-- Rahmad Budi H Republika Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel 0856 711 2387
