Antara Kulit Kambing Mella, Apek, dan Pulau Secantik
Bidadari  


I Am Ethnic, 2001. Berbalut kulit kambing yang menutup
hampir seluruh bagian tubuh Mella Jaarma, sang artis,
menggelontarkan tanya: secepat apa sebuah pakaian yang
biasa melekat di tubuh kita menyelesaikan fungsi
sosialnya? 

Jawabannya, tentu ada pada Anda masing-masing!

Tanya Mella yang dibikin enam tahun silam itu, saya
pastikan menarik mata setiap orang yang hendak mudik
ke Batam dari Singapura yang lewat Pelabuhan Harbour
Front. Tanya itu, juga Mella yang berbalut kulit
kambing, apik nampang di neonbox yang didominasi warna
kuning yang nangkring di dekat pintu keluar pelabuhan.
Menyenangkan, melihat karya orang Indonesia di negeri
tetangga. Sayangnya, ketika kaki menginjak Pelabuhan
Batamcentre, yang tersapa malah baleho iklan
besar-besar. Gambarnya, luar biasa bergaya pejabat
Indonesia, norak dan full kapital: Tiger Beer.

Kembali pada Mella yang berbalut kulit kambing. Ketika
mencoba memfoto neonbox itu, telinga saya menangkap
obrolan seorang apek dengan seseorang lewat HP. Siapa
yang diajak bicara? Tebak saja!

''Kalau boleh tahu, bojomu orang mane? Heheh...,
emangnya berapa umurnya?'' 

Sepenggal obrolan itu memastikan saya (pembaca di luar
Batam mungkin kurang mengerti akan situasi seperti
ini) bahwa yang diajak bicara apek 50-an tahun itu
seorang wanita muda, warga negara Indonesia bersuku
Jawa, dan yang pasti, sudah tidak perawan!

Tidak perawan? Apa pula ini? Sembari berdesakan
mengantri check boarding, apek itu terus saja
mengumbar obrolan di telepon. Saya berdiri tiga badan
di belakangnya. Obrolannya, tentu masih jelas
terdengar. Ya, Nagoya! Wanita di seberang telepon
tinggal di Nagoya. Mencari wanita perawan di Nagoya
yang berasyik telepon dengan apek Singapura, inilah
yang memastikan saya wanita di seberang sudah tidak
perawan. Terdengar sarkastik memang. Tapi jika Anda
orang Batam, juga sering keluar malam, dan tiap minggu
keluar masuk Singapura-Batam, Anda akan menyetujui
dugaan saya. Ini Batam! Bukan Jakarta bukan Surabaya.
Apalagi Malang yang berudara dingin menggigit.

Di atas kapal Batam Fast yang akan menyebrang ke
Batam, saya sudah ogah mendekati sang apek. Saya pilih
duduk di dek atas bersama para perokok, sementara sang
apek memilih di dalam. Di ruang ber-AC sembari
menenggak kaleng-kaleng Carlsberg. 

Tokh, satu kesimpulan sudah saya dapat. Dan
konfirmasinya, satu jam lagi, ketika memastikan si
penjemput apek tersebut. Apakah wanita bergincu tebal
dengan tanktop dan jins membalut ketat pantat atau
tacik berwajah sangar. Jika yang pertama yang
menjemput, saya pastikan dugaan saya 100 persen tepat.

Kapal berangkat. Menderu. Menyisakan kepul asap solar
dan buih putih yang menggelorakan. Tangkas kapal
menyusur, melewati pulau-pulau kecil bagian selatan
Singapura dan juga, berpuluh kapal besar yang tengah
buang jangkar. Ketika mata saya tertuju pada onggokan
pulau-pulau yang tengah direklamasi, tiba-tiba ingatan
saya mengalir menuju tiga tahun silam. 

Huh..., ini pulau direklamasi menjadi secantik
bidadari. Di atasnya, dibangun resort-resort nan indah
yang aku yakin, sewa per malamnya berharga ratusan
dolar Singapura. Apalagi mungkin, penyewanya
konglomerat-konglomerat Indonesia. Tiga tahun silam,
saya ingat betul, ketika seorang budak lelaki berumur
empat tahun, tenggelam dan tewas di kubangan bekas
galian pasir di Batu Besar, Batam. Mungkin, salah satu
pulau secantik bidadari itu, pasir reklamasinya
berasal dari Batu Besar. Yang telah merenggut nyawa
budak kecil itu. 

Kapal yang saya tumpangi terus menderu. Sejenak saya
bersyukur dengan pelarangan ekspor pasir darat dan
segala bentuk galian jenis C dari Kepulauan Riau.
Menurut saya ini sebuah keputusan yang tepat. Bukan
karena rasa sentimen saya terhadap kemakmuran
Singapura, melainkan kerusakan alam yang teramat parah
yang dihasilkan dari penggalian tersebut yang saya
sesalkan. 

Kapal yang membawa saya sebentar lagi memasuki
perairan Internasional. Lamat terlihat seratus meter
di ujung kanan sana, sebuah tug boat melaju pelan ke
arah dari mana saya berangkat tadi. Di belakangnya,
diancok..., segepok pasir, yang dari mana lagi, kalau
bukan dari Kepulauan Riau. 

Saya terheran. Kalau di Minggu (8/4) siang bolong
kayak begini kapal pembawa pasir bisa lolos dengan
enaknya, lalu di mana para penegak hukum kita? Yang
kemarin-kemarin nyerocos tiada habis di media: Ganyang
pengekspor pasir ke Singapura!

Ah, sudahlah! Soal pasir, itu bukan urusan saya. Saya
mungkin hanya bisa berdoa, orang-orang yang
bertanggungjawab terhadap kerusakan alam, termasuk
penegak hukum yang enak-enak bobo siang, jaksa-hakim
yang makan uang suap, juga wartawan yang suka bela
pengusaha penambang pasir, hidup mereka tak akan
tenang. Semoga dalam mimpi-mimpi mereka, arwah
budak-budak kecil yang meregang nyawa karena kubangan
penggalian pasir, mendatangi mereka. Menakuti mereka.
Hingga mereka tak sempat lagi bersetubuh ria! Amien...


Sultan,
Selengkapnya tulisan beserta foto-foto, klik http://adalahcerita.blogspot.com/


 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke