Aku baru saja tahu kalau surat Bang Edrin, anggota AJI Medan, yang menyebut "tidak ada relevansi antara idealismeku di AJI dulu dengan tuntutan cerai istriku" ternyata dipost di milis ini oleh rekan Darma Lubis. [Nice work, Darma....] Pada prinsipnya aku senang, biar semua transparan. Di sini kuteruskan surat yang telah kukirimkan sebelumnya kepada Bang Edrin; menjawab imelnya tersebut; dan balasannya kemudian. Surat itu juga telah lebih dulu kuteruskan kepada Bang Andreas Harsono dan Bang Agus Sopian -- yang kemudian kuminta meneruskannya kepada Pak Goenawan Mohamad di Tempo.
Untuk Darma; Aku heran kenapa engkau, sahabatku sejak awal bergabung di AJI, tidak secuil pun mengirim SMS, imel, atau komentar soal surat terbukaku ke AJI itu. Biasanya kau paling reaktif kalau "ada kabar" dariku. Ternyata reaksimu justru di milis ini toh. Sesekali kirimkan dong imel untuk mendebatku. Aku rindu kau, kawan. Terima kasih. Salam. Jarar Siahaan. bataknews.wordpress.com ========== bang edrin, terima kasih masih mau mengirim surat. kupikir takkan pernah lagi. aku tantang abang karena mengatakan tidak ada relevansi idealismeku dulu ketika di aji dengan sempatnya istriku nuntut cerai. kok abang bilang gak ada? abang tanyalah kawan-kawan di graha pena medan, tanya bang ipul, bang choking, semua mereka. ketika aku aktif di aji dan waktu itu aku jadi redaktur, aku tidak mau menerima amplop dan total makan dari gaji yang cuma 700 ribu. hampir setiap pertengahan bulan istriku sms kalau duitnya sudah habis. maka kusuruh dia minta beras & uang dari mertuanya atau orangtuanya. sering aku harus minjam dari kawan2 kantor. bahkan aku pernah minjam 1 juta dari bang choking untuk membayar utang kami kepada mertuaku; dan sampai kini aku belum melunasi 800 ribu lagi kepada bang choking. suatu saat aku akan bayar itu walau bang choking gak pernah nuntut. jadi selama aku anggota aji aku patuh pada kode etik aji untuk menolak amplop; lalu karena itu kebutuhan makan keluargaku terancam; kemudian istriku menuntut cerai; apakah ini yang abang bilang tidak ada relevansinya? oh, abangku edrin, logika apa yang abang pakai. mungkin saat menulis surat abang tadi, abang memakai logika seorang rohaniawan atau pertapa buddha atau malaikat yang baik hati. kemudian abang bilang, ketika kita sadar gaji jurnalis tidak layak, di sinilah idealisme kita diuji. logika apa pula ini bang? ini bukan pers di zaman penjajahan belanda di mana media bukan lembaga bisnis. aku tahu abang pernah bekerja di media besar yang kaya secara ekonomi. aku tak tahu berapa gaji abang saat itu. kumisalkan sajalah gaji abang kecil; apakah abang ikhlas menerima gaji kecil dari media yang kaya raya? dan tolonglah abang simak lagi surat terbukaku itu. inti surat itu adalah; aji desak media supaya beri gaji layak, dan sebelum itu terkabul, maka hentikan kampanye tolak amplop. abang sebagai orang aji, apakah batin abang tega melihat kenyataan rekan-rekan kita wartawan makan gaji kecil dari media yang makin kaya setiap ayam berkokok? kalau abang masih menjawab "di situlah idealisme kita diuji" maka detik ini kukatakan abang tak lagi punya nurani. abang telah berpihak kepada para kapitalis. abang sungguh-sungguh telah menjadi orang suci dengan pernyataan seperti itu. pada akhir email abang katakan; kalau semua media sudah menggaji wartawan dgn layak dan haramkan amplop, apa perlu lagi kampanye tolak amplop? betul yg abang bilang. tapi kubalikkan lagi kepada abang; apakah masuk akal wartawan, termasuk anggota aji, sanggup menolak amplop padahal gajinya tak cukup untuk makan? jadi jujurlah bang, terutama jujur pada batinmu, pada hati nuranimu; sampai kapan pun kampanye tolak amplop tidak akan berhasil selama media belum memberi gaji layak. kalau abang menjawab bisa berhasil, maka jawaban itu kupastikan tidak datang dari hati nurani abang. ketika aku di palembang mengundurkan diri dari aji, abang pernah membuat hatiku bangga. tak pernah kulupakan sms abang saat itu: "rar, aku sangat menyesalkan kau mundur, kau telah menjadi teladan bagi banyak jurnalis di medan." tapi sore ini aku tidak merasakan kebanggaan itu lagi setelah membaca imel abang. namun begitu, engkau tetaplah abangku. salamku untukmu bang edrin, jarar siahaan bataknews.wordpress.com ================ [Dan di bawah ini adalah jawaban Bang Edrin kemudian atas suratku di atas] Jarar yang baik, Aku mau bandingkan dengan pekerja lainnya, misalnya PNS atau buruh pabrik. Mereka juga tidak memperoleh gaji yang layak namun masih bisa "hidup". Bagaimana bisa? Aku sering ngobrol dengan kawan-kawan buruh yang mengaku hanya bergaji 700 an ribu dengan satu istri dan dua anak. Tinggal dirumah kontrakan yang kumuh, gak sehat dengan perabotan seadanya. Barang paling mewah barangkali hanya tv dan kadang magic com atau dispenser. Mereka bisa bertahan dengan mengandalkan dua cara selain gaji yang pas-pasan itu. 1 Hutang, 2 Cari tambahan (ngobjek). Artinya mereka bisa survive tanpa mengorbankan idealisme (misalnya mencuri)dan keluarga. Aku setuju, sama dengan kawan-kawan buruh lainnya, bahwa perusahaanlah yang mesti bertanggungjawab atas kehidupan buruhnya. Sama dengan jurnalis, perusahaan media HARUS memberikan gaji yang layak. Aku pikir bukan sekali dua kali, AJI termasuk AJI Medan mendesak perusahaan media memberikan gaji layak, termasuk yang terakhir adalah hasil survey aji medan soal berapa gaji layak untuk jurnalis pemula yang lajang di medan. Nilainya sekitar Rp 2,3 juta perbulan. Ketika hasil survey ini diumumkan, banyak jurnalis yang tertawa dan mengatakan sangat tidak mungkin media di medan mampu membayarnya. Demikian juga beberapa pemimpin media yang aku temui mengaku tidak sangup membayar upah setinggi itu. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita bisa mendesak jika dikita aja tidak bersatu, tidak menyuarakan hal yang sama, bahkan menertawainya. Kita diibaratkan hidup diruang hampa, diawang-awang, tidak membumi, tidak realistis. Dalam kondisi yang seperti ini, apakah lalu kita melepas nilai-nilai idealisme itu? dan turut dalam kenyataan amplop? Ada seorang kawan, redaktur disebuah media lokal hanya bergai 700an ribu dan anggota aji, punya istri dan satu anak, Upahnya tidak layak karenanya disela-sela waktunya ia menjadi penulis upahan, menulis apa saja yang diminta pemesan, dan syukur bisa mencukupi keluarganya. kawan lainnya, seorang redpel membuka kios kelonting dirumahnya. Kalau pada kenyataannya, ada teman-teman AJI yang tidak sanggup menahan beban hidup dan terpaksa menerima amplop, aku pikir ya dia harus keluar dari AJI walau sebenarnya dia bukan hanya melanggar kode etik aji tetapi juga kode etik jurnalis indonesia. Siapa yang mengawal dan menjaga kode etik kalau bukan organisasi media dan medianya? Aku percaya, 10-20 tahun lagi kondisi ini akan berubah, hanya media-media yang sehat yang mampu bertahan. Jadi menurutku adalah kita tidak perlu cengeng, mari melawan ketidakadilan tapi juga harus cerdas agar tidak terlindas. salam untuk keluarga edrin =============== [Ini adalah jawabanku selanjutnya] abangku edrin yang juga baik, aku sangat tertarik membaca argumen-argumen abang. abang percaya kondisi [gaji] wartawan indonesia akan membaik dalam 10-20 tahun mendatang. kalau aku bang tidak yakin. aku baru yakin akan ada perubahan hanya jika ada gerakan lebih konkret dari para wartawan, organisasi-organisasi pers, dan dewan pers. misalnya, seperti saran budiman s hartoyo, dengan mogok kerja. tapi memang bukan cuma dengan mogok, menurutku ada upaya lain yang lebih elegan. misalnya para wartawan berdemo ke dpr dan istana: sampaikan apa adanya bahwa gaji wartawan di bawah standar dan bahkan banyak yang tidak bergaji, lalu tuntut dibuat sebuah peraturan hukum yang mengatur soal standar gaji wartawan sesuai jabatannya dan aspek lain. aku sangat setuju membaca komentar seorang pembaca bataknews yang menulis, "kenapa aji mati-matian membela wisudo, wartawan kompas yang bergaji 10 juta itu, sementara aji tidak melakukan upaya yg sama kerasnya terhadap gaji wartawan indonesia." aku tahu, aji pernah menuntut gaji wartawan dinaikkan, antara lain seperti abang bilang dengan survey itu. tapi itu nyaris tak ada artinya secara signifikan. dulu aji, dengan anggota relatif sedikit, mampu berjuang habis-habisan menuntut dihapuskannya siupp, bredel, dan organisasi tunggal pwi; tapi kenapa sekarang dengan anggota lebih banyak tidak mampu melakukan upaya yg sama untuk menaikkan gaji wartawan? padahal aji punya pengalaman, kekuatan, lobi ke dunia luar, dan "trik" untuk melakukan itu. jawaban untuk pertanyaan ini akan terdengar lucu bang kalau dipaksakan untuk dijawab. aku setuju abang bilang wartawan idealis bisa mencari nafkah halal dengan menulis buku, cerpen, atau karya lain yg berkaitan dengan kemampuan jurnalistiknya. tapi jawab jujur aja bang, berapa persen sih jurnalis yang mampu begitu? segelintir kan? nah, jadi gimana, apakah aji masih harus terus diam dan berseru, "ya udah, kalian tulis buku kek, jadi penyiar radio kek, bicara di seminar ...." kesimpulanku cuma satu bang, dan aku berani bertaruh semangkuk bakso dengan abang jika opiniku ini salah nantinya: sampai kapan pun gaji wartawan indonesia tidak akan layak selama para wartawan dan asosiasi pers tidak mau menuntutnya dengan keras -- yaitu dengan mogok kerja atau mendesak pemerintah bikin peraturan hukum yg mengatur secara khusus soal itu. dan aku berani mentraktir abang semangkuk bakso spesial lagi jika ini salah nantinya: bahwa kalau aji cuma bikin survey dan statemen bahwa gaji wartawan minim, maka sampai kapan pun bos-bos media takkan pernah mengupah wartawan dengan layak. jadi menurutku satu-satunya jalan agar gaji wartawan naik adalah dengan "bergerak" seperti kata bsh. aku sangat setuju abang bilang, jika ada anggota aji yang terpaksa terima amplop karena gajinya kecil, maka dia harus mundur dari aji. hebat bang! itu jugalah yang kulakukan ketika di palembang aku mengundurkan diri dari aji. saat itu aku belum terima amplop, tapi aku sudah langsung mundur karena memang aku berencana/tidak tahan lagi untuk menolak amplop karena honorku yang kecil. kalau abang masih abang endrinku yang dulu, kalau abang pada prinsipnya mendukung apa yang kutuntut di blogku selama sepekan ini, aku tantang abang: ayo abang serukan lebih gencar kepada seluruh anggota aji di indonesia bahwa kalau mereka terima amplop maka mereka harus berani mengundurkan diri secara jantan. aku ingin abang menulis opini abang soal itu [bahwa anggota aji yg terima amplop, mundur dong ..., jangan munafik, tiru tuh adikku jarar]. beranikah abang menulis itu secara terbuka di milis-milis wartawan indonesia dan di blog-blog umum? aku masih yakin abang berani. dan kalau abang menulis soal itu, kirimkanlah ke imelku, pasti kutaruh di halaman depan bataknews. kutunggu bang. walau aku sempat kecewa kemarin dengan surat abang, tapi siang ini aku kembali memperoleh sedikit harapan bahwa abang mampu melakukan itu. mungkin semacam "seruan dari edrin untuk anggota aji yang terima amplop: ayo mundur, jangan munafik, jangan membohongi dirimu sendiri." hebat kalau abang berani bikin itu, dan akan kutraktir semangkuk lagi bakso [sampai penjual baksonya membelalakkan mata]. oke ya bang. selamat bekerja. semoga apa yang kuperjuangkan sepekan ini disahuti rekan-rekan, termasuk abang, secara positif. salamku untuk abang dan keluarga. -- Jarar Siahaan http://bataknews.wordpress.com/ Balige, Kabupaten Tobasa, Sumut. ========= Akhirnya, untuk semua jurnalis Indonesia, kusampaikan salamku; Jangan bohongi nuranimu. Semoga Tuhan membukakan hati kita semua. Salam. =========
