salam semuanya...
untuk soal amplop atau apapun.....
aku sangat menghargai perbedaan pendapat, atau apapun namanya di milis
terhormat ini.
tapi makin lama semakin tak berujung, apa yang hendak disuarakan dan
bagaimana cara agar maksud tadi tersampaikan. yang ada malah reuni masa lalu
yang kelam yang tak diceritakan secara lengkap pula.
siapapun di milis ini, sedikit atau banyak, pasti tau ada problem di masalah
penggajian di grup JP. tapi hendaknya ceritakan juga gerakan-meski sangat
lamban-, pembenahan di sana-sani soal penggajian yang layak di grup JP.
secara pribadi aku tak mengenal jarar siahaan, jadi pasti aku tak ada masalah
pribadi dengannya. tapi jujur saja dan ijinkan aku mau bilang: aku tak tertarik
dengan apa yang disampaikan jarar. baik melalui milis atau sarana apapun. tidak
memberikan pencerahan yang mutu...mending baca pena indonesia atau apalah...
ketik c spasi d
cape deh...
rob
sumut pos/graha pena medan
jararsiahaan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Aku baru saja tahu kalau surat Bang Edrin, anggota AJI Medan, yang
menyebut "tidak ada relevansi antara idealismeku di AJI dulu dengan
tuntutan cerai istriku" ternyata dipost di milis ini oleh rekan Darma
Lubis. [Nice work, Darma....] Pada prinsipnya aku senang, biar semua
transparan. Di sini kuteruskan surat yang telah kukirimkan sebelumnya
kepada Bang Edrin; menjawab imelnya tersebut; dan balasannya kemudian.
Surat itu juga telah lebih dulu kuteruskan kepada Bang Andreas Harsono
dan Bang Agus Sopian -- yang kemudian kuminta meneruskannya kepada Pak
Goenawan Mohamad di Tempo.
Untuk Darma;
Aku heran kenapa engkau, sahabatku sejak awal bergabung di AJI, tidak
secuil pun mengirim SMS, imel, atau komentar soal surat terbukaku ke
AJI itu. Biasanya kau paling reaktif kalau "ada kabar" dariku.
Ternyata reaksimu justru di milis ini toh. Sesekali kirimkan dong imel
untuk mendebatku. Aku rindu kau, kawan.
Terima kasih. Salam.
Jarar Siahaan.
bataknews.wordpress.com
==========
bang edrin,
terima kasih masih mau mengirim surat. kupikir takkan pernah lagi.
aku tantang abang karena mengatakan tidak ada relevansi idealismeku
dulu ketika di aji dengan sempatnya istriku nuntut cerai. kok abang
bilang gak ada?
abang tanyalah kawan-kawan di graha pena medan, tanya bang ipul, bang
choking, semua mereka. ketika aku aktif di aji dan waktu itu aku jadi
redaktur, aku tidak mau menerima amplop dan total makan dari gaji yang
cuma 700 ribu. hampir setiap pertengahan bulan istriku sms kalau
duitnya sudah habis. maka kusuruh dia minta beras & uang dari
mertuanya atau orangtuanya. sering aku harus minjam dari kawan2
kantor. bahkan aku pernah minjam 1 juta dari bang choking untuk
membayar utang kami kepada mertuaku; dan sampai kini aku belum
melunasi 800 ribu lagi kepada bang choking. suatu saat aku akan bayar
itu walau bang choking gak pernah nuntut.
jadi selama aku anggota aji aku patuh pada kode etik aji untuk menolak
amplop; lalu karena itu kebutuhan makan keluargaku terancam; kemudian
istriku menuntut cerai; apakah ini yang abang bilang tidak ada
relevansinya? oh, abangku edrin, logika apa yang abang pakai. mungkin
saat menulis surat abang tadi, abang memakai logika seorang rohaniawan
atau pertapa buddha atau malaikat yang baik hati.
kemudian abang bilang, ketika kita sadar gaji jurnalis tidak layak, di
sinilah idealisme kita diuji. logika apa pula ini bang? ini bukan pers
di zaman penjajahan belanda di mana media bukan lembaga bisnis. aku
tahu abang pernah bekerja di media besar yang kaya secara ekonomi. aku
tak tahu berapa gaji abang saat itu. kumisalkan sajalah gaji abang
kecil; apakah abang ikhlas menerima gaji kecil dari media yang kaya raya?
dan tolonglah abang simak lagi surat terbukaku itu. inti surat itu
adalah; aji desak media supaya beri gaji layak, dan sebelum itu
terkabul, maka hentikan kampanye tolak amplop. abang sebagai orang
aji, apakah batin abang tega melihat kenyataan rekan-rekan kita
wartawan makan gaji kecil dari media yang makin kaya setiap ayam
berkokok? kalau abang masih menjawab "di situlah idealisme kita diuji"
maka detik ini kukatakan abang tak lagi punya nurani. abang telah
berpihak kepada para kapitalis. abang sungguh-sungguh telah menjadi
orang suci dengan pernyataan seperti itu.
pada akhir email abang katakan; kalau semua media sudah menggaji
wartawan dgn layak dan haramkan amplop, apa perlu lagi kampanye tolak
amplop? betul yg abang bilang. tapi kubalikkan lagi kepada abang;
apakah masuk akal wartawan, termasuk anggota aji, sanggup menolak
amplop padahal gajinya tak cukup untuk makan?
jadi jujurlah bang, terutama jujur pada batinmu, pada hati nuranimu;
sampai kapan pun kampanye tolak amplop tidak akan berhasil selama
media belum memberi gaji layak. kalau abang menjawab bisa berhasil,
maka jawaban itu kupastikan tidak datang dari hati nurani abang.
ketika aku di palembang mengundurkan diri dari aji, abang pernah
membuat hatiku bangga. tak pernah kulupakan sms abang saat itu: "rar,
aku sangat menyesalkan kau mundur, kau telah menjadi teladan bagi
banyak jurnalis di medan." tapi sore ini aku tidak merasakan
kebanggaan itu lagi setelah membaca imel abang.
namun begitu, engkau tetaplah abangku.
salamku untukmu bang edrin,
jarar siahaan
bataknews.wordpress.com
================
[Dan di bawah ini adalah jawaban Bang Edrin kemudian atas suratku di atas]
Jarar yang baik,
Aku mau bandingkan dengan pekerja lainnya, misalnya
PNS atau buruh pabrik. Mereka juga tidak memperoleh
gaji yang layak namun masih bisa "hidup". Bagaimana
bisa? Aku sering ngobrol dengan kawan-kawan buruh yang
mengaku hanya bergaji 700 an ribu dengan satu istri
dan dua anak. Tinggal dirumah kontrakan yang kumuh,
gak sehat dengan perabotan seadanya. Barang paling
mewah barangkali hanya tv dan kadang magic com atau
dispenser.
Mereka bisa bertahan dengan mengandalkan dua cara
selain gaji yang pas-pasan itu. 1 Hutang, 2 Cari
tambahan (ngobjek). Artinya mereka bisa survive tanpa
mengorbankan idealisme (misalnya mencuri)dan keluarga.
Aku setuju, sama dengan kawan-kawan buruh lainnya,
bahwa perusahaanlah yang mesti bertanggungjawab atas
kehidupan buruhnya. Sama dengan jurnalis, perusahaan
media HARUS memberikan gaji yang layak.
Aku pikir bukan sekali dua kali, AJI termasuk AJI
Medan mendesak perusahaan media memberikan gaji layak,
termasuk yang terakhir adalah hasil survey aji medan
soal berapa gaji layak untuk jurnalis pemula yang
lajang di medan. Nilainya sekitar Rp 2,3 juta
perbulan.
Ketika hasil survey ini diumumkan, banyak jurnalis
yang tertawa dan mengatakan sangat tidak mungkin media
di medan mampu membayarnya. Demikian juga beberapa
pemimpin media yang aku temui mengaku tidak sangup
membayar upah setinggi itu. Pertanyaannya kemudian
adalah bagaimana kita bisa mendesak jika dikita aja
tidak bersatu, tidak menyuarakan hal yang sama, bahkan
menertawainya. Kita diibaratkan hidup diruang hampa,
diawang-awang, tidak membumi, tidak realistis.
Dalam kondisi yang seperti ini, apakah lalu kita
melepas nilai-nilai idealisme itu? dan turut dalam
kenyataan amplop?
Ada seorang kawan, redaktur disebuah media lokal hanya
bergai 700an ribu dan anggota aji, punya istri dan
satu anak, Upahnya tidak layak karenanya disela-sela
waktunya ia menjadi penulis upahan, menulis apa saja
yang diminta pemesan, dan syukur bisa mencukupi
keluarganya.
kawan lainnya, seorang redpel membuka kios kelonting
dirumahnya.
Kalau pada kenyataannya, ada teman-teman AJI yang
tidak sanggup menahan beban hidup dan terpaksa
menerima amplop, aku pikir ya dia harus keluar dari
AJI walau sebenarnya dia bukan hanya melanggar kode
etik aji tetapi juga kode etik jurnalis indonesia.
Siapa yang mengawal dan menjaga kode etik kalau bukan
organisasi media dan medianya?
Aku percaya, 10-20 tahun lagi kondisi ini akan
berubah, hanya media-media yang sehat yang mampu
bertahan.
Jadi menurutku adalah kita tidak perlu cengeng, mari
melawan ketidakadilan tapi juga harus cerdas agar
tidak terlindas.
salam untuk keluarga
edrin
===============
[Ini adalah jawabanku selanjutnya]
abangku edrin yang juga baik,
aku sangat tertarik membaca argumen-argumen abang.
abang percaya kondisi [gaji] wartawan indonesia akan membaik dalam
10-20 tahun mendatang. kalau aku bang tidak yakin. aku baru yakin akan
ada perubahan hanya jika ada gerakan lebih konkret dari para wartawan,
organisasi-organisasi pers, dan dewan pers. misalnya, seperti saran
budiman s hartoyo, dengan mogok kerja. tapi memang bukan cuma dengan
mogok, menurutku ada upaya lain yang lebih elegan. misalnya para
wartawan berdemo ke dpr dan istana: sampaikan apa adanya bahwa gaji
wartawan di bawah standar dan bahkan banyak yang tidak bergaji, lalu
tuntut dibuat sebuah peraturan hukum yang mengatur soal standar gaji
wartawan sesuai jabatannya dan aspek lain.
aku sangat setuju membaca komentar seorang pembaca bataknews yang
menulis, "kenapa aji mati-matian membela wisudo, wartawan kompas yang
bergaji 10 juta itu, sementara aji tidak melakukan upaya yg sama
kerasnya terhadap gaji wartawan indonesia." aku tahu, aji pernah
menuntut gaji wartawan dinaikkan, antara lain seperti abang bilang
dengan survey itu. tapi itu nyaris tak ada artinya secara signifikan.
dulu aji, dengan anggota relatif sedikit, mampu berjuang habis-habisan
menuntut dihapuskannya siupp, bredel, dan organisasi tunggal pwi; tapi
kenapa sekarang dengan anggota lebih banyak tidak mampu melakukan
upaya yg sama untuk menaikkan gaji wartawan? padahal aji punya
pengalaman, kekuatan, lobi ke dunia luar, dan "trik" untuk melakukan
itu. jawaban untuk pertanyaan ini akan terdengar lucu bang kalau
dipaksakan untuk dijawab.
aku setuju abang bilang wartawan idealis bisa mencari nafkah halal
dengan menulis buku, cerpen, atau karya lain yg berkaitan dengan
kemampuan jurnalistiknya. tapi jawab jujur aja bang, berapa persen sih
jurnalis yang mampu begitu? segelintir kan? nah, jadi gimana, apakah
aji masih harus terus diam dan berseru, "ya udah, kalian tulis buku
kek, jadi penyiar radio kek, bicara di seminar ...."
kesimpulanku cuma satu bang, dan aku berani bertaruh semangkuk bakso
dengan abang jika opiniku ini salah nantinya: sampai kapan pun gaji
wartawan indonesia tidak akan layak selama para wartawan dan asosiasi
pers tidak mau menuntutnya dengan keras -- yaitu dengan mogok kerja
atau mendesak pemerintah bikin peraturan hukum yg mengatur secara
khusus soal itu. dan aku berani mentraktir abang semangkuk bakso
spesial lagi jika ini salah nantinya: bahwa kalau aji cuma bikin
survey dan statemen bahwa gaji wartawan minim, maka sampai kapan pun
bos-bos media takkan pernah mengupah wartawan dengan layak.
jadi menurutku satu-satunya jalan agar gaji wartawan naik adalah
dengan "bergerak" seperti kata bsh.
aku sangat setuju abang bilang, jika ada anggota aji yang terpaksa
terima amplop karena gajinya kecil, maka dia harus mundur dari aji.
hebat bang! itu jugalah yang kulakukan ketika di palembang aku
mengundurkan diri dari aji. saat itu aku belum terima amplop, tapi aku
sudah langsung mundur karena memang aku berencana/tidak tahan lagi
untuk menolak amplop karena honorku yang kecil.
kalau abang masih abang endrinku yang dulu, kalau abang pada
prinsipnya mendukung apa yang kutuntut di blogku selama sepekan ini,
aku tantang abang: ayo abang serukan lebih gencar kepada seluruh
anggota aji di indonesia bahwa kalau mereka terima amplop maka mereka
harus berani mengundurkan diri secara jantan. aku ingin abang menulis
opini abang soal itu [bahwa anggota aji yg terima amplop, mundur dong
..., jangan munafik, tiru tuh adikku jarar]. beranikah abang menulis
itu secara terbuka di milis-milis wartawan indonesia dan di blog-blog
umum? aku masih yakin abang berani. dan kalau abang menulis soal itu,
kirimkanlah ke imelku, pasti kutaruh di halaman depan bataknews.
kutunggu bang.
walau aku sempat kecewa kemarin dengan surat abang, tapi siang ini aku
kembali memperoleh sedikit harapan bahwa abang mampu melakukan itu.
mungkin semacam "seruan dari edrin untuk anggota aji yang terima
amplop: ayo mundur, jangan munafik, jangan membohongi dirimu sendiri."
hebat kalau abang berani bikin itu, dan akan kutraktir semangkuk lagi
bakso [sampai penjual baksonya membelalakkan mata].
oke ya bang. selamat bekerja. semoga apa yang kuperjuangkan sepekan
ini disahuti rekan-rekan, termasuk abang, secara positif.
salamku untuk abang dan keluarga.
--
Jarar Siahaan
http://bataknews.wordpress.com/
Balige, Kabupaten Tobasa, Sumut.
=========
Akhirnya, untuk semua jurnalis Indonesia, kusampaikan salamku;
Jangan bohongi nuranimu.
Semoga Tuhan membukakan hati kita semua. Salam.
=========
---------------------------------
New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more
at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.