ibu Roslina, walaupun kami tinggal di Indonesia yang mana iklim berdemokrasi
tdk sepekat jika dibandingkan dgn negara lain, dimana demokrasi ditanamkan
sejak didalam keluarga, yaitu anak maupun orang tua bebas berpendapat, bahkan
bebas berdebatan, yg tentu dalam hal berargumentasi positif, demikian juga
keluarga yang saya bangun dengan 3 orang anak kami. di keluarga kami, siapa
pun berhak untuk berpendapat dan jika tidak setuju atau menyatakan pendapat
orang, itu salah, dia harus menunjukan dimana salah dan letak tdk setujunya
dan jelaskan, apa yg menurut pendapat dia adalah benar.!
nah berdasarkan hak demokrasi penuh, maka jangan heran dimana kami orang tua
bisa berdiskusi dengan masing-masing memegang hak penuh untuk mengemukakan
pendapatnya. itulah yang terjadi dgn anak-anak kami yang sudah keluar rumah
untuk merasakan cuaca kehidupannya secara mandiri sejak muda, maka kami
membiasakan mempercayai kebebasan yang kami berikan sebagai ortu nya, tidak
akan disalahgunakan oleh anak-anak, dan mereka diizinkan utk kost atau
tinggal di asrama sekolah ketika mereka baru lulus SD.
dalam postingan lalu saya sertakan artikel yang ditulis anak gadis saya,
yang berargument tentang masalah sex remaja dewasa ketika kami berdiskusi dan
mempersoalkan kejadian mahasiswi yg ditemukan terbunuh oleh pacarnya, yang
panik karena dikejar utk menikahi, di postingan ini saya kirimkan artikel anak
ke 2 saya yang berargument dan berdikusi dgn saya, karena dia, saya tegur
waktu kedapatan membawa pulang film terlarang beredar.
2 artikel ini contoh yg menjadi kebiasaan kami untuk membawa diskusi kami ke
masyarakat luas, untuk melihat mana pendapat terbanyak yang merespon, maka ke
2 artikel yg ditulis thn 2004 ketika mereka baru berusia 17 dan 20 thn,
memperoleh banyak sekali respon pro dan kontra dari para pembaca yang mewakli
para ortu dan anak2
SUARA PEMBARUAN DAILY Minggu.
12 september 2004
BCG, Imunisasi Muda Mudi yang Perlu di Waspadai
Ketika bayi sampai usia balita, para ibu pasti rajin mengimunisasi
anak-anaknya, agar virus tidak membuat masalah pada tubuh anak tercinta.
Contohnya pemberian imunisasi B.C.G, pada umumnya imunisasi B.C.G atau lebih
dikenal dengan Bacillus Calmette Guerin adalah Mycobacterium bovis yang telah
dilemahkan dan dipergunakan sebagai vaksin hidup untuk pencegahan penyakit
Tuberkulosis atau TBC.
Nah saat ini kaum muda Indonesia khususnya ibu kota, sedang mendapat
imunisasi moral, namanya sama imunisasi B.C.G Tapi itu bukan imunisasi dengan
isi vaksin yang sama dengan yang disuntikkan pada bayi dan balita. Imunisasi
ini lebih menjabarkan anak muda sebagai topik Vaksin atau injeksinya, dan
dampak demamnya bisa dikatakan cukup luas dalam masyarakat muda Indoneia.
Perbincangan panas antara kaum dewasa (orang tua) dan kalangan muda di
bumi pertiwi ini, lagi-lagi pro dan kontra dalam media visual pemutaran film
Buruan Cium Gue yang kita singkat menjadi B.C.G yang sebetulnya dapat
menjadi perihal umum dan mungkin tidak akan seheboh seperti yang terlihat.
Memang pada umumnya para remaja akan menganggap sesuatu yang baru itu patut
dicoba, tapi sebenarnya tidak sedemikian mudahnya anggapan tersebut diterima.
Kebetulan kaitannya dengan kaum remaja saat ini. Sebagai kaum remaja atau
lebih spesifik adalah kaum muda kita sudah diberi pengetahuan pembelajaran dan
tentunya norma-norma antara yang baik dan tidak baik didalam kehidupan, yang
didapat dari formal maupun hanya informal contohnya didalam keluarga.
Dari segi yang lain pemutaran film tersebut terutama efeknya bagi
pemeran utama kita yaitu para muda tentunya, mereka berpikir malah justru
mereka semakin ingin mencari-cari yang rata-rata tidak tahu apa-apa sebelumnya
dan bahkan ada yang benar-benar kurang berminat menontonnya karena menganggap
film remaja biasa yang diproduksi per filman Indonesia, Tapi dengannya
gembar-gembor kritik, protes dan sebagainya, justru menjadi hal yang membuat
kaum remaja/ muda menjadi penasaran. Mereka akan tertarik untuk mencari dan
berusaha menontonnya. Karena mereka berpikir seperti apa sih film yang
diprotes yang dianggap bisa merusak moral kaum muda itu.
Hal yang terjadi, semakin dilarang, akan semakin membuat penasaran, dan
para pembajak kesenangan karena hasil karyanya dicari orang muda dan laku
keras. Jika hal ini terjadi justru, keadaan lebih gawat! Ratarata mereka yang
masih berjiwa demikian bisa lebih memperburuk keadaan yang terselubung,
maksudnya bagi mereka yang diatas (baca kaum tua) masih asyik memperdebatkan
dan semakin terlena dengan masalah tersebut membuat kesadaran dan kesigapan
mereka lemah akan yang dibawah (baca kaum muda), mereka yang dibawah tanpa
suara akan dengan semakin gigih dan semakin penasaran mencari-cari harta yang
mungkin akan lenyap itu, dengan cara-cara anak muda tentunya yang memungkinkan
diluar nalar para dewasa. Justru inilah masalah yang sebenarnya, karena nasi
telah menjadi bubur marilah bersama menjadi pengalaman bagi kita dan umum dalam
menghadapi pelbagai problema serupa.
Sebenarnya pro dan kontra tentang hal baik dan buruk yang dikemukakan
diatas, sebelumnya amat bergumul didalam otak kami untuk berfikir dua kali
untuk menanggapinya, dan hal tersebut juga tergantung hati sanubari tiap pihak
(disini didalam segi kaum muda) yang menganggap apa sebenarnya makna dari
pemutaran film tersebut. Demikian secarik kata hati remaja yang angkat
berbicara (mudah-mudahan ada yang mendengar dan mengerti).
Secara garis besar orang tua juga akan berfikir kritis untuk serapan
dan masukan bagi anaknya yang selalu diajarkan agar menyaring segala bentuk
penyimpangan dalam pergaulan ataupun hiburan yang kalau-kalau bisa menyebabkan
efek negatif bagi anaknya. dapat dilihat secara agamis, kita yang menganut
budaya timur yang seharusnya mencerminkan ciri khas bangsa kita, yang
menghargai norma-norma ketimuran.
Tidak perlu ditekankan lagi kita hidup di zaman apa saat ini, tetapi
alangkah baiknya pula kita tidak terintimidasi dan terlena akan kemajuan zaman
yang tidak selalu baik adanya. Sebagai orang tua kita akan selalu memberikan
yang terbaik bagi anak-anak, akan terasa sakit memang apabila kebaikan kita
tidak terbalas bahkan disepelekan, tetapi sebenarnya disinilah peran orang tua
untuk semakin baik dan semakin diterima akan jalan pikir anak setiap waktu dan
menjadikan kesalahan lalu adalah batu loncatan kita untuk menjadi lebih baik
dan matang. Demikian pula tanggapan dari kalangan orangtua terhadap
permasalahan sejenis.
Contoh lain yang mungkin lebih umum diluar masalah lainnya. Sebenarnya
secara global yang harus dipertanyakan adalah mengapa negara-negara yang
menganut paham bebas tersebut aman-aman saja dan bahkan menjadi negara amat
maju dan mengapa kita yang amat banyak batasan-batasan (baca Norma-norma) malah
semakin terpuruk dan akhirnya kehilangan arah. Tidak menjadi adil apabila
pertanyaan tersebut dilayangkan menjadi sebuah ciri tetapi sekali lagi
apabila kita dapat mengambil sisi positif dan negatif yang berbeda paham,
kebijakan ada ditangan masing-masing.
Mengapa negara tersebut maju, segala daya dan upayanya amat efektif .
Karena mereka berprinsip bebas serta mereka memiliki disiplin dari setiap
individu karena tidak adanya batasan-batasan untuk berkarya, tetapi dilain hal
karena mungkin terlalu bebas maka hal-hal lain diluar perkembangan IPTEKnya,
mereka mungkin kurang bahkan cenderung dibawah kita.
Dan bila dilihat, negara berkembang yang sulit sekali maju karena
batasan-batasan dari norma- norma dan banyak peraturan yang dibuat secara
instant dan kurang akurat, serta tidak melihat situasi dan kondisi yang
sebenarnya terjadi. Tetapi kepositifan dari negara berkembang yang masih kental
dengan batasan-batasan norma-norma, masih ada kebanggaan tersendiri yaitu,
dapat mempertahankan keaslian diri sebagai moral bangsa dan inilah keunggulan
yang dimiliki (walaupun saat ini keadaannya memprihatinkan).
Sekali lagi sudah menjadi hal yang umum, karena pasti ada saja
kekurangannya dikesampingkan dari kelebihannya karena memang manusia tidak akan
luput dari kekurangan dan tidak terhindar dari keunggulan yang dimiliki juga .
Mereka akan bilang terlalu mengedepankan moral salah , kebalikannya terlalu
modern juga dibilang salah, memang disinilah letak visi kita sebagai manusia
yang diharapkan dapat selalu Balance dalam menjalani hidup.
Juga secara tidak langsung sebagai kaum muda melihat kaum dewasa
berbicara demikian adalah mereka tidak mempercayai kami (kaum muda) yang sudah
dapat berfikir layaknya orang dewasa, kami bisa memilah mana yang baik dan
tidak, juga mengapa hal demikian tidak diperbolehkan untuk kami dan masih
mengangap kami masih terlalu dini dan mungkin dianggap merusak mentalitas
kami. Bisa jadi anggapan tersebut benar juga tidak dipungkiri lagi
adegan-adegan yang dirasa kurang senonoh bagi bangsa timur pasti akan
menimbulkan respon bagi mereka yang memiliki moral tinggi, gimana tidak
adegan-adegannya dapat menimbulkan respon seksual dan dirasa bisa menyebabkan
hal-hal yang tidak baik bagi mereka yang kurang bisa mencernanya dengan
positif.
Ada banyak pendapat, dua pasangan DJ di sebuah stasiun radio
memperbincangkan bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan, yang mereka
katakan sebetulnya amat mewakili hati masing-masing kaum muda. Ya, memang
film tersebut adegannya lumayan hot tapi kurang adil memang karena filmnya
bakal ditarik, sebenarnya tergantung pribadi masing-masing individu. Mengapa
selalu menanggapi sesuatu hal dengan kenegatifan padahal banyak sisi positif
yang bisa diambil, contohnya adegan-adegan tersebut bisa lebih memacu pikiran
kaum muda untuk berfikir kritis bagaimana sebuah film itu ditanggapi dari
berbagai aspek. Nah tentu saja ini pendapat kaum muda yang belum pernah jadi
orang tua. Tapi bagaimana pendapat orang tua yang pernah jadi orang muda,
tentu lain cerita dan bunyinya!
Memang bila dilihat dari segi Penyajian cukup Lumayan, dari Para
Tokoh-tokohnya juga bisa di nilai cukup Menyenangkan (mungkin telah populer/
familiar dalam versi sinetronnya), Respon Konsumennya dapat dikatakan cukup
Heboh (bisa jadi semenjak kasus ini), dan dari segi Agama tentu saja nilainya
Nihil / nol. Tergantung tujuan dan sikap kita yang menanggapinya dan
menyikapinya. Dan masih banyak penilaianpenilaian yang bisa diambil dari segi
pemikiran positifnya.
Masalah lain, Sepertinya juga pernah diperbicarakan, yaitu tentang
masalah judul yang dianggap kurang senonoh. Ada seorang kaum muda menanggapi,
Mengapa judulnya tidak diganti saja dengan Jangan Paksa Gue Cium Loe atau
Haruskah dengan Ciuman Toh sama saja intinya bila dilihat dari ceritanya
Sebenarnya, apabila suatu permasalahan dilancarkan dengan suatu hal yang tidak
terlalu menonjol dan diributkan, tentu bisa lebih tepat sasaran apabila
dilakukan dengan pelan dan pasti, dapat di sharringkan dengan menangkap sisi
positif dan sisi negatif, dalam lingkup formal ataupun informal dan sedapatnya
dilakukan dengan melibatkan dua pihak yang berselisih, akan lebih baik lagi
dilakukan dengan sesantai mungkin, tanpa terlihat suguhan yang berat, pasti
akan lebih tepat guna.
Demikian sedikit banyak argumen, pendapat yang dikemukakan dari
sedikitnya para muda dan dewasa yang mungkin mewakili. Dan apakah vaksin
ini dapat diterima atau tidak, jawabannya hanya ada di hati bijak saudara.
Ditulis oleh: Raymond Ganie Hendranata
(siswa kelas 3 SMA Saint Mikael Sleman- Jogyakarta)
Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Benar pendapat anak anda Bu Lianny,
Mungkin saya menambahkan ttg kunci melawan kekhawatiran itu adalah Iman dan
usaha atau Ora et Labora. Artinya para orangtua tidak hanya beriman kepada
Tuhan bahwa anak-anak itu adalah anugrah Tuhan melainkan juga harus memelihara
anugrah itu agar benar-benar menjadi berkat bagi sekelilingnya, yaitu dengan
memberinya cukup perhatian dan kasih sayang, tentu sekaligus teladan yg baik.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com