Novel Sejarah: Trend 2007?
--------------------------
>> Anwar Holid


Sudah banyak novel sejarah hadir dalam khazanah sastra kita. Waktu SD, saya 
sempat baca Suropati
dan sekuelnya Robert Anak Suropati (Abdul Muis) sampai menangis-nangis. Di 
zaman kini orang boleh
berdebat mana lebih menarik atau berhasil mengolah sejarah, misalnya antara 
Ronggeng Dukuh Paruk
(Ahmad Tohari) atau katrologi Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer). Remy Sylado 
juga intens
mengolah tema ini, Hermawan Aksan menulis Dyah Pitaloka: Senja di Langit 
Majapahit, Emil W. Aulia
menulis Berjuta-Juta dari Deli. Persis pada momen bersejarah, 30 September, 
Noorca M. Massardi
tahun lalu meluncurkan September, novel sejarah setebal 619 hal. yang ditulis 
dengan gaya parodi.

Novel sejarah senantiasa fokus pada konteks periode, sosial-politik, dan 
tempat. Genre ini sudah
lama melibatkan tanggung jawab para penulisnya agar memberi gambaran yang 
sebenarnya (sejujurnya)
tentang sebuah zaman atau fakta. Indonesia kaya peristiwa dan sejarah, tapi 
tampaknya upaya
pencatatan sejarah masih bisa dibilang masih minimal. Asvi Warman Adam, 
misalnya, pernah
mengajukan Pramoedya Ananta Toer sebagai anggota kehormatan MSI (Masyarakat 
Sejarah Indonesia),
meski ditolak. 

Tanpa bermaksud menerka-nerka, dari akhir 2006 ke awal 2007 ini kita mudah 
mendapati sejumlah
novel yang menggali khazanah sejarah, baik karya penulis Indonesia maupun 
terjemahan. Sekadar
mencatat: Tiga Serangkai meneruskan penerbitan trilogi Gajah Mada (Langit 
Kresna Hadi), Qanita
merilis Gelang Giok Naga (Leny Helena), Jalasutra menerbitan Schindler's List 
(Thomas Keneally),
GPU menghadirkan The Historian (Elizabeth Kostova), diteruskan Aditera-Syaamil 
menerbitkan
Pitaloka: Cahaya (Tasaro), sebentar kemudian Matahati menyusul menerbitkan 
Kisah 47 Ronin (John
Allyn). Saya membatin, banyaknya fiksi sejarah yang terbit di awal 2007 ini apa 
bukan tanda bahwa
genre ini bakal jadi trend hingga akhir tahun nanti? Tentu sulit mengira-ngira. 
Buku sejenis
terbit beruntun sering menimbulkan tanya, apa semua direncanakan, atau penerbit 
membaca gejala
serupa dan menyiapkan respons sebaik-baiknya?

Contoh judul tersebut memberi dua mode pendekatan dalam fiksi sejarah, yaitu 
(1) catatan dari
kejadian nyata, merupakan hasil dari serangkaian riset maupun pembacaan serius 
atas peristiwa masa
lalu; (2) menggunakan periode dan kejadian sejarah sebagai latar belakang suatu 
kisah. 

Buku yang mengolah mode penulisan pertama misalnya Gajah Mada, Schindler's 
List, Pitaloka: Cahaya,
Kisah 47 Ronin. Para penulisnya tentu mesti mengumpulkan rincian beragam kisah 
tentang subjek
bersangkutan, baru memutuskan apa sebaiknya mengagungkan seserpih kisah 
tertentu atau meleburnya
menjadi bagian dari peristiwa lain. Hermawan Aksan mengaku menghabiskan lebih 
dari satu bulan
untuk berkutat dengan segala jenis arsip yang mendukung penulisan Dyah 
Pitaloka, Thomas Keneally
mesti mengunjungi berbagai narasumber yang tersebar di berbagai benua, John 
Allyn berusaha
menghidupkan lagi kisah heroik di Jepang yang terjadi dua abad lalu. Kadar 
faktual kesejarahannya
lebih kental. Jenis kedua dengan baik diwakili Gelang Giok Naga dan The 
Historian. Kedua novel ini
memanfaatkan peristiwa dan periode sejarah tertentu, lalu dengan halus 
menyelipkan kisah. Leny
Helena di Gelang Giok Naga memanfaatkan sejarah panjang dinamika akulturasi 
etnis Tionghoa
Indonesia, termasuk waktu masa gelap dan periode menyakitkan bersamaan 
kelahiran Reformasi '98;
sementara Elizabeth Kostova menelaah banyak arsip dan mitologi tentang vampir 
di berbagai tempat
dan periode, menemukan hal baru yang mengejutkan.

Upaya menerbitkan novel sejarah patut terus diupayakan agar kita dapat tambahan 
wawasan selain
kisah berlatar belakang perjuangan, negara, atau politik, melainkan meluas ke 
arah berbagai aspek
kehidupan, misalnya bagaimana universitas mula-mula berkembang di suatu kota 
atau tentang keluarga
yang konsisten mengembangkan bisnis kopi, bagaimana industri rokok bangun dan 
menjadi ciri khas
kota---subjek seperti itu meski boleh jadi terasa sederhana tetap menarik 
dijelajahi. T.C. Boyle
menulis The Road to Wellville, tentang John Harvey Kellog dan keluarga yang 
mengembangkan proses
pembuatan makanan kaleng.

Dalam konteks keindonesiaan, bagaimana upaya meningkatkan penulisan fiksi 
sejarah, mengumpulkan,
mengolah, dan menarik kesimpulan dari data-fakta sejarah maupun arsip, catatan, 
dan surat tentu
akan semakin menarik bila kita bisa sekalian mendapat pengajaran dan peristiwa 
masa lalu, karena
kita seakan-akan berkesempatan bisa membangun masa depan lebih baik. Dari sana 
apa mungkin penulis
mengajukan proposal pada penerbit atau bagaimana penerbit mendukung upaya 
tersebut. Memang setiap
penerbit punya pertimbangan kepentingan kenapa menerima atau menolak naskah. 
Tapi, bukankah konon
selalu ada kesempatan bahkan bagi buku berat sekalipun bila semua dipersiapkan 
masak-masak?

Manusia bermain-main dengan kenyataan dan cerita yang pernah didengarnya; 
mereka menafsir sesuai
penglihatan atau keyakinan, dan itu bisa membuat pandangan bisa jadi sangat 
berbeda. Di dalam Dyah
Pitaloka, Gajah Mada menjadi oknum; sementara di dalam Gajah Mada, dia jadi 
protagonis. Genre ini
memungkinkan aspek sejarah atau tokoh yang selama ini tersingkir atau sulit 
meraih perhatian massa
secara pantas bisa tampil maksimal menampilkan kualitas diri maupun peran yang 
dulu dia ambil.[]


NB: Seorang teman menyatakan pada 2007 ini tampak sulit sekali memperkirakan 
trend yang
benar-benar dominan di industri perbukuan, berbeda tahun-tahun lalu yang amat 
didominasi chicklit
dan teenlit. Barangkali memang begitu. Bila kita jalan-jalan ke toko buku 
hampir semua genre
berusaha menonjolkan diri. Beberapa yang mencolok ialah buku bertema misteri 
agama-agama kuno berikut konspirasinya, kemudian thriller. Novel sejarah yang 
sekilas aku
perhatikan ini tentu hanya sedikit dari yang tengah beredar di pasar; minimal 
buku tersebut sudah
aku baca.


Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid,  Panorama II No. 26 B  Bandung 40141  | 
Telepon: (022) 2037348 
| HP: 08156-140621  | Email: [EMAIL PROTECTED]

Never underestimate people. They do desire the cut of truth. 
Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati.

© Natalie Goldberg
----------------------------------------------------------------------
Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog 
sederhana ini:

http://halamanganjil.blogspot.com



 
____________________________________________________________________________________
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091

Kirim email ke