JUGUN IANFU


Bayangkan. Dalam usianya yang masih 13 tahun, Mardiyem dipaksa melayani
nafsu bejat tentara Jepang yang yang bermarkas di Telawang, Kalimantan
Selatan. Gadis cilik asal Yogyakarta ini dibujuk ke Telawang untuk
dijadikan penari. "Tapi sesampai di sana saya disuruh melayani
tentara Jepang. Dalam sehari bisa belasan tentara antri," ungkapnya.

Tak heran jika Mardiyem cilik menderita. Baik bathin maupun fisik.
Apalagi pada usianya yang ke-15, dia hamil. Oleh tentara Jepang dia
dibawa ke rumah sakit lalu secara paksa, dengan menekan-nekan perutnya
tanpa dibius, jabang bayi yang masih muda di rahimnya dipaksa keluar.

Nasib yang sama dialami Emah Kartimah, perempuan asal Cimahi yang juga
dijadikan budak nafsu para balatentara Dai Nipon pada 1942. Waktu itu
Emah, yang masih berusia 13 tahun, diculik enam tentara Jepang saat
sedang berbelanja di pasar. Dia kemuian dilarikan dengan mobil dan
disekap dalam barak tentara di Cimahi.

Tiga tahun Emah yang masih bau kencur itu harus melayani pria-pria
dewasa. Jika dia melawan, maka pukulan dan tendangan akan diterimanya.
Beberapa perempuan di tempat itu juga mengalami hal yang sama.

Cerita di atas dituturkan Mardiyem dan Emah yang usianya kini sudah
mencapai 80 tahun saat tampil di Kick Andy. Bersama sejumlah korban
lainnya mereka berjuang agar pemerintah Jepang mengakui "dosa"
tentara mereka dulu dan kemudian meminta maaf. Bahkan Mardiyen dan Emah
pernah hadir sebagai saksi pada pengadilan tribunal di Jepang dan
Belanda.

Sementara Suhanah, juga asal Cimahi, diculik dengan todongan pistol pada
usianya yang baru 14 tahun. Tapi karena mengalami pendarahan, setahun
setelah disekap dia dibebaskan. Tapi, apa lacur, kondisinya sudah parah.
Rahimnya rusak dan harus diangkat. Sejak itu Suhanah tidak bisa
mempunyai keturunan.

Kesaksian Mardiyem, Emah, dan Suhanah -- yang baru saja meninggal karena
stress -- merupakan catatan hitam dalam sejarah perempuan Indonesia.
Terutama dalam periode 1942 sampai 1945 saat tentara Jepang menduduki
Indonesia. Pada saat itu sejumlah perempuan Indonesia, banyak di antara
mereka masih anak-anak, dipaksa menjadi "wanita penghibur" atau
jugun ianfu.

Jika pemerintah Korea Selatan dinilai proaktif membantu para mantan
jugun ianfu di negara mereka, para pejuang nasib mantan jugun ianfu di
Indonesia justru menilai pemerintah Indonesia terkesan tidak peduli pada
nasib mantan jugun ianfu di Indonesia. "Padahal akibat dari
peristiwa itu, mantan jugun ianfu tidak diterima oleh lingkungannya.
Mereka dianggap pelacur yang menjijikan," ujar Eka Hindra, aktivis
Jaringan Advokasi Jugun Ianfu Indonesia.



Tayang setiap Kamis pukul 22.30 WIB dan Minggu pukul 15.05 WIB







Copyright © 2007 Website Team Kick Andy. All rights reserved.





Kirim email ke