Sekedar cerita pengalaman mengikuti proses masuk STPDN (sekarang berubah nama menjadi IPDN)
Pada tahun 1999 saya lulus sekolah negeri di Jombang dan waktu itu dengan beberapa teman mendaftar ke Pemda Jombang. Beberapa proses seleksi sudah saya lalui, mulai dari seleksi administrasi, keterlibatan dengan G 30 S/PKI (dilakukan di tingkat Kabupaten), Psikotest dan tes tulis (di Surabaya) dan test kesehatan di Malang. Pada tingkat Kabupaten, banyak sekali pendaftar. Dan masing2 daerah memang diberi 'jatah' sekian orang untuk bisa masuk STPDN (jumlah dari tiap Kabupaten berbeda). Di tingkat kabupaten, saya tidak menghitung jumlag pendaftarnya. Namun, pada test2 berikutnya, jumlag itu semakin mengecil. Sampai pada test tulis dan psikotest, yang lulus hanya 6 orang. Waktu itu, saya melihat pengumuman di Pemda, dan kebetulan mengenal keenam nama tersebut. Ada yang kakak kelas di SMA dulu, teman waktu di SMP dan kenalan waktu menunggu test. Test terakhir yang dilakukan adalah kesehatan, yagn dilakukan di Malang. Dimulai sejak pukul 7 pagi sampai sore. Dan ketika test berlangsung, peserta test dibagi berdasarkan atas daerah asalnya. Tentunya saya mengenal teman2 satu daerah. Dari kelima teman satu daerah, ternyata ada satu teman yang tidak mengikuti test. Dia adalah teman yang saya kenal waktu menunggu test Administrasi. Ketika saya tanya waktu itu, ternyata dia asalnya dari Malang, akan tetapi ikutan test di Jombang. Alasan dia, karena ada saudara yang bekerja di Pemda Jombang. Dari informasi yang saya dapatkan, peserta test yang akan diterima dari Kab Jombang ada 5 orang. Dan dari perhitungan saya, tentunya saya akan lolos kan. Disamping itu, saya tidak ada masalah dengan kesehatan, tidak merokok dan minum minuman beralkohol. Jadi saya yakin akan diterima. Setelah test selesai dilangsungkan, peserta test diberitahu bahwa penerimaan test tidak dilakukan dengan surat menyurat. Akan tetapi, ketika peserta test dinyatakan diterima, maka akan langsung dijemput di rumahnya. Karenanya, peserta test diminta siap pada hari penjemputan tersebut. Akan tetapi, sampai lewat waktu yang ditentukan, ternyata saya tidak dijemput. Artinya, perkiraan dan perhitungan saya tidak tepat. Saya bisa memakluminya, karena peserta yang dulu kakak kelas di SMA dan teman waktu SMP (mungkin) punya kualitas yang lebih baik dari saya. Selang beberapa bulan kemudian, saya pergi ke Malang dengan menggunakan bus. Di tengah perjalanan bus dihentikan oleh orang berseragam. Dari jauh saya mengenali seragam itu, seragam STPDN. Kebetulan waktu itu saya tidak mendapat tempat duduk, dan berdiri dekat dengan pintu. Kemudian, bus berhenti tepat di orang berseragam itu. Ketika dia naik, saya terus melihatnya, mungkin saya mengenalnya. Ternyata memang benar, dia adalah teman saya yang tidak mengikuti test kesehatan. Waktu itu, saya kaget sekali. Dia tidak mengikuti test kesehatan, tetapi bisa diterima. Ternyata dia masih mengenaliku. Kemudian saya menanyakan beberapa pertanyaan. Akan tetapi sepertinya di menghindari setiap pertanyaan yang saya ajukan. Dan perlu diketahui, ketika daftar pertama kali di Pemda, pertanyaan yang diajukan oleh orang yang menerima formulir pendaftaran adalah, "Punya saudara di Pemda?" Entah ini hal biasa atau tidak, tetapi menurut saya itu adalah hal yang aneh. Dan waktu itu saya menjawab tidak mempunyai saudara di Pemda. regards, yudie 08563069841
