Saya pernah dengar dari Prof DR Saparinah Sadli,
perempuan berasal dari kata "empu" =orang yang
dihormati. Sebab itu oleh kaum perempuan aktifis dan
kaum perempuan intelektual, yang digunakan adalah
"perempuan", bukan yang lain. Saya juga menggunakan
"perempuan" sebab menghormati ibu, saudara-saudara
perempuan dan rekan-rekan perempuan sebangsa dan
setanah air. Salam kebangsaan.


--- Immanuel Rey <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Akh, bung Yuri ini suka mancing-mancing. Kita ini
> kan omong bahasa dan bukan perbuatan. Yang tidak
> sopan itu selalu adalah "perbuatan". Anda mau omong
> apa saja atau istilah apa saja, silakan. Jikalau
> Anda hendak memaki atau mengumpat atau menghina maka
> yang disebut tidak sopan itu adalah perbuatannya,
> bukan kata-katanya.
>    
>   Sebuah kata atau istilah dinilai tidak sopan,
> harus pula dilihat dari akibatnya. Anda boleh saja
> mengumpat saya dengan kata-kata apa saja, tetapi
> jika kata-kata itu tidak mengakibatkan saya terhina
> atau menyinggung perasaan saya, bagaimana mungkin
> kata-kata yang Anda lontarkan itu disebut tidak
> sopan?
>    
>   Bahasa Indonesia yang kita gunakan ini sifatnya
> demokratis. Artinya, setiap kata yang kita gunakan
> mestinya tidak lagi membangkitkan rasa feodalisme
> menurut kasta, jabatan, atau status si pembicara.
> Jikalau Presiden SBY dapat mengadakan "santap" malam
> di Istana Negara, maka si Mamat yang punya
> pekerjaaan pemulung pun boleh saja menyediakan
> "santapan" di kolong jembatan. Bahkan, anjing
> peliharaan saya pun tidak dilarang "menyantap"
> makanannya di kolong meja.
>    
>   Bandingkan dengan bahasa Jawa atau bahasa daerah
> lain di Indonesia yang suka membeda-bedakan istilah
> menurut kasta seseorang. Kata "mangan" dalam bahasa
> Jawa akan dinilai tidak sopan jika digunakan dalam
> kalangan orang priyayi. Kata yang lebih sopan dan
> pantas adalah "dahar".
>    
>   Dalam bahasa Indonesia, bagaimana Anda mengukur
> sopan tidaknya kata "makan" dan "santap" Bukankah
> semua kalangan masyarakat boleh menggunakan kata
> itu? Sejalan dengan itu, kata-kata "perempuan" dan
> "wanita" itu pun tidak bisa kita bedakan menurut
> takaran kesopanan. Kedua kata itu hanya dapat kita
> bedakan dalam pengertian makna.
>    
>   Bahasa itu sendiri juga berarti "halus", seperti
> pada ungkapan "angin bertiup sepoi-sepoi bahasa".
> Karena itu semua kata yang kita gunakan dalam bahasa
> Indonesia ini pun adalah halus. Kata "pelacur" tidak
> akan bisa kita sebut lebih kasar atau lebih sopan
> daripada kata "PSK". Demikian pun "PRT" itu tidak
> akan bisa lebih sopan dari kata "babu". Ukuran
> sopannya itu apa? Toh, perbuatannya sama saja.
>    
>   Kata orang, masalah perbuatan sopan itu pun perlu
> ada ukuran. Yang biasanya digunakan orang sebagai
> ukuran adalah "SIKONTOLPANJANG". Singkatan dari
> Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan, dan
> Jangkauan. Karena itu, perbuatan pelacur itu pun
> belum tentu disebut biadab jika dilakukan oleh dua
> orang berlainan jenis di lokalisasi yang sudah
> disediakan atau di kamar hotel. Tetapi, perbuataan
> suami-istri dapat kita sebut tidak sopan  jika
> mereka bersenggama di tempat umum dan dilihat orang
> banyak.
>    
>   Istilah Menteri Peranan Wanita itu keliru, Bung.
> Yang diurus kok cuma wanita, perempuan yang lain
> seperti nenek-nenek dan anak-anak perempuan di bawah
> umur yang telantar seakan-akan diabaikan. Karena itu
> sekarang diganti dengan Menteri Negara Pemberdayaan
> Perempuan. Ini soal makna PEREMPUAN, dan bukan soal
> sopan-santun.
>    
>   IUR
> 
> yuri aladdin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Penjelasan bung Immanuel Rey (sepertinya 
> saya pernah bertemu Anda di salah satu forum diskusi
> bahasa ya ?) itu menarik sekali mengenai beda kata
> "perempuan" dan "wanita". Cuma, ada yang saya agak
> heran bung Immanuel, kenapa penggunaan kata
> "perempuan" itu kemudian makin menurun dan orang
> lebih suka menggunakan "wanita"  ?  Biasanya,
> menurunnya penggunaan kata tertentu itu karena ada
> trauma tertentu yang membuat orang cenderung
> menggunakan kata  lain yang dianggap lebih sopan,
> contohnya "pelacur" sekarang menjadi "PSK",
> "penjara" jadi "lembaga  pemasyarakatan", "babu"
> jadi "PRT" dsb, dsb. Lalu untuk perempuan itu kenapa
> ?  Walaupun onderbouw PKI "Gerwani" (Gerakan Wanita
> Indonesia) katanya melakukan penyiksaan terhadap
> para jenderal di tahun 1965 , kenapa kata "wanita"
> ini tidak mengalami penurunan rasa ? Kita  malah
> punya Menteri Urusan Peranan Wanita (UPW) bukan
> Menteri Urusan Peranan Perempuan (UPP) ?
> Hehehe...Dasar wanita !   
> 
>   Pada tanggal 09/04/07, elok dyah messwati
> <[EMAIL PROTECTED]> menulis:               Wanita =
> wani ditata (mau diatur-atur)
>   hmmm?
>   makanya kenapa para aktivis perempuan lebih suka
> pakai kata perempuan... seperti yang dipaparkan pak
> Immanuel di bawah ini.
>       ----- Original Message ----- 
>   From: Immanuel Rey 
>   To: [EMAIL PROTECTED] 
>   Sent: Monday, April 09, 2007 2:32 PM
>   Subject: Re: [mediacare] Lebih Sopan Perempuan
> atau Wanita?
>   
>  
>   Kata PEREMPUAN dan WANITA  kita gunakan bukan
> karena yang satu lebih sopan daripada yang lain.
> PEREMPUAN adalah jenis kelamin, yakni orang
> (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi,
> hamil, melahirkan anak, dan menyusui. WANITA adalah
> perempuan yang sudah dewasa. (Lihat Kamus Besar
> Bahasa Indonesia - KBBI) 
>    
>   Kata PEREMPUAN dapat digunakan untuk segala usia
> (perempuan kecil, perempuan dewasa atau perempuan
> tua) tetapi kita tidak lazim menyebutkan bayi yang
> baru lahir itu adalah WANITA.
>    
>   Kata PEREMPUAN pada masa kini sudah jarang
> digunakan atau bahkan tidak lagi digunakan orang
> karena menganggap kata lama yang sudah usang.
> Mungkin karena itu orang cenderung menganggap
> PEREMPUAN itu tidak sopan. Karena itu jika orang
> sedang mengumpat sering terucap "Dasar perempuan,
> lu!", tetapi kita belum pernah mendengar orang
> berkata "WANITA, lu!. 
>    
>   Sesungguhnya, PEREMPUAN itu memberi kesan yang
> lebih mulia daripada WANITA. Kata itu berasal dari
> kata dasar "empu" yakni gelar kehormatan yang
> berarti "TUAN". Jika kita mengatakan "mengempu"
> berarti kita sedang memuliakan atau menghormati
> seseorang. 
>   Dalam kesusastraan Melayu Klasik kita mengenal
> kata EMPUAN yang juga berarti "perempuan" yakni
> sebuatan bagi istri raja.
>    
>   Mungkin dari situlah muncul kata PEREMPUAN yang
> lebih kurang berarti "orang yang dimuliakan atau
> yang dihormati".
>    
>   IUR
>    
>   
> 
> Lady Asther <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>       Dear all ...
> Aku mohon info dunks ...
> Kabarnya, penyebutkan kata PEREMPUAN lebih sopan
> daripada WANITA benarkah ???
> 
> Thx yaa
> 
> GBU
> 
> lady asther
> 081384555527
>     
> ---------------------------------
>   Sucker-punch spam with award-winning protection. 
> Try the free Yahoo! Mail Beta.   
> 
> 
> 
> 
>     
> ---------------------------------
>   Now that's room service! Choose from over 150,000
> hotels 
> in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your
> fit.   
>   
> 
>   
>   
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
>   
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Never miss an email again!
> Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail
> arrives. Check it out.


 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke