Pamor Golkar-JK turun. 
  Citra SBY drop. 
  Nama Kabinet KIB anjlok.
   
  Keuntungan penguasa pembisnis meroket.
  Kemiskinan dan kesengsaraan rakyat meningkat.
   
  Seimbang, bukan? 
  Jadi apa pasal?
   
  DM
  

samiaji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Minggu, 15 Apr 2007,
Kalla: Pamor Golkar Turun karena Pemerintah 

  
Instruksikan Kadernya Hindari Konflik Politik
JOGJAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla mengakui, turunnya pamor 
partai yang dipimpinnya itu tidak bisa dipisahkan dari kualitas kinerja 
pemerintah. Sebab, partai berlambang beringin itu adalah pendukung terbesar 
pemerintah. 

"Memang pada bulan Februari-Maret banyak masalah yang menjadi bahan pembicaraan 
masyarakat. Ada masalah beras, banyak terjadi kecelakaan. Tentu (itu) 
memberikan nuansa terhadap citra pemerintah dan juga Partai Golkar," kata Kalla 
menjelaskan korelasi antara citra pemerintah dan Golkar di sela-sela Rakornas 
Golkar di Grand Hyatt Hotel Jogjakarta kemarin. 

Kalla yang juga wakil presiden itu melihat, turunnya kepercayaan masyarakat 
terhadap pemerintah dan Partai Golkar banyak dipicu masalah ekonomi. Karena 
itu, dia yakin pada kuartal kedua tahun ini dan tahun depan, pertumbuhan 
ekonomi akan semakin membaik dan kepercayaan masyarakat akan pulih. "Produksi 
beras sudah kita tingkatkan. Peningkatan ekonomi terus dilakukan," tandasnya.

Menurunnya citra Partai Golkar itu ditangkap dari sejumlah survei politik. 
Salah satu hasil survei LSI (Lembaga Survei Indonesia) menunjukkan bahwa 
popularitas Golkar drop dan kini berada di bawah PDIP. 

"Solusinya sangat sederhana. Yaitu, dengan memperbaiki semuanya," ujar Kalla. 
Dia yakin, dalam waktu dekat -jika survei dilakukan lagi- citra pemerintah 
sekaligus Partai Golkar akan pulih. 

Partai Golkar juga harus ngebut mengevaluasi program-programnya demi 
mengembalikan citra. Ketua DPP Partai Golkar Theo L. Sambuaga mengatakan, dua 
tahun ke depan (sebelum Pemilu 2009), kader-kader partai yang berkesempatan 
menjadi kepala daerah harus memprioritaskan berbagai program kerakyatan.

"Kami minta kepala daerah dari Golkar menggerakkan perekonomian rakyat, 
khususnya sektor riil, sesuai dengan spesifikasi daerah masing-masing," kata 
Theo. Di antara program yang akan dikebut adalah pelatihan kerja lapangan 
terhadap para relawan penanganan bencana alam. Program tersebut dinilai sangat 
efektif untuk meraih simpati masyarakat. Dalam berbagai survei, TNI dinilai 
sebagai lembaga negara terpopuler karena selalu hadir paling awal ketika 
bencana alam terjadi. 

Pelatihan akan dilakukan para penyuluh terhadap relawan kader Golkar di seluruh 
Indonesia. "Termasuk pelatihan evakuasi korban bencana alam," lanjut ketua 
Komisi I DPR tersebut. Selain itu, akan dipersiapkan berbagai penyuluhan 
antinarkoba dan pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM).

Pernyataan Theo itu diperkuat Ketua DPP Partai Golkar Syamsul Muarif. Menurut 
dia, tidak bisa lagi Partai Golkar mengandalkan jumlah kader di eksekutif dan 
legislatif, baik di daerah maupun pusat, untuk meraup simpati masyarakat. 
Sebab, masyarakat lebih membutuhkan aksi nyata dalam peningkatan kesejahteraan.

"Kader Golkar yang menjadi kepala daerah harus segera mengubah arah prioritas 
program kerja. Dalam dua tahun ke depan, kami minta agar ada pemberdayaan 
ekonomi rakyat dan pembangunan infrastruktur," tandas Syamsul. Penyikapan 
terhadap hasil survei LSI juga mendorong DPP PG untuk mengubah strategi politik 
di tingkat daerah dan nasional. Kalla dalam rapat tersebut menginstruksikan 
agar kadernya menghindari setiap pertarungan atau konflik politik yang sangat 
mungkin bisa terjadi. (cak)





Kirim email ke