Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org 
           
                  SADAR 

                  Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
                  Edisi: 37 Tahun III - 2007
                  Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
                 

--------------------------------------------------------------
                 


                  KARTINI

                  Oleh: Eko Bambang Subiyantoro[1]

                    

                  Setiap tanggal 21 April kita sangat bersemangat untuk 
memperingati lahirnya RA Kartini, perempuan asal Jepara, Jawa Tengah, yang 
telah berjuang untuk melawan pembodohan atas dirinya dan kaum perempuan pada 
umumnya. Kartini sendiri memang tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman 
budaya patriakhi, tetapi justru karena itulah, Kartini melakukan perlawanan. 
Bukunya yang cukup inspiratif "habis gelap terbitlah terang" telah memberi 
banyak kontribusi bagi kaum perempuan Indonesia untuk berdaya dan keluar dari 
kebodohan yang sistemik. Itulah Kartini, dan itulah alasan mengapa ia terus 
dikenang.

                  Sosok Kartini memang menjadi inspirasi bagi kita saat ini. 
Kemajuan yang dialami perempuan hampir tidak bisa dilepaskan dari peran 
Kartini. Sejumlah perempuan yang berhasil meraih medali emas dalam kejuaraan 
olahraga, perempuan yang menjadi penguasaha, perempuan yang menjadi pilot, 
perempuan yang menjadi politisi, profesional hampir mengidentifikasikannya 
sebagai Kartini-kartini Indonesia. Demikianlah Kartini, bagi banyak pihak ia 
telah menjadi Ikon kemajuan perempuan Indonesia.

                  Kartini memang menjadi ikon bagi kemajuan perempuan, namun 
demikian kita jangan keliru untuk memahami semangat Kartini hanya sekedar pada 
tataran simbol semata. Harapan Kartini memang mengarah pada kemajuan-kemajuan 
perempuan, sehingga perempuan tidak hanya sebagai subordinat laki-laki semata 
dan perempuan bisa berdaya. Perempuan dimata Kartini adalah sejajar dalam peran 
dan tanggungjawab dalam setiap ruang dengan laki-laki. Relasi yang timpang 
inilah yang ingin dibongkar oleh Kartini.

                  Menjadikan Kartini sekedar simbolisasi kemajuan tentu saja 
menyimpan akar persoalan yang serius dalam memahami perjuangannya. Memang 
banyak perempuan yang berhasil, banyak perempuan yang kini telah bekerja di 
ruang-ruang publik. Namun demikian ketika kita tengok pola relasi mereka di 
dalam keluarga pola relasi yang timpang dan dominasi kekuasaan patriakhi masih 
tetap terjadi. Persoalan ini sering tidak terungkap dalam setiap semangat perju 
angan Kartini. Keluarga masih belum terlepas pada pemikiran yang menempatkan 
perempuan secara setara. Meskipun perempuan boleh bekerja, namun pola pikir 
bahwa perempuan bekerja tidak bisa meninggalkan kewajibannya mengurus keluarga, 
mengurus anak dan mengurus suami masih belum berubah. Dalam ruang privat, 
mekanisme patriakhi masih tetap berlaku.

                  Beberapa teman perempuan yang bekerja sebagai profesional 
keuangan mengeluh sikap dan tingkah laku suami dan keluarga ketika ia harus 
pulang kerumah sedikit terlambat karena harus menghadiri sejumlah kegiatan. Ia 
mengeluh karena sedikit saja ia terlambat pulang bukan perhatian yang diperoleh 
atas kerja kerasnya selama sehari namun tuduhan sebagai perempuan yang tidak 
bertanggungjawab kepada keluarga, anak atau suami yang ia dapat. 
Keterlambatannya pulang menunjukkan ketidakbecusannya sebagai perempuan, 
sebagai istri untuk mengurus rumah tangga. Sebagai perempuan dianggap tidak 
pantas ketika suami pulang ia tidak berada dirumah.

                  Kejadian seperti ini ternyata tidak terjadi pada masyarakat 
biasa. Persoalan domestifikasi perempuan ini juga terjadi pada sejumlah publik 
figur seperti yang dialami oleh keluarga Ahmad Dani, pentolan Band DEWA 19 
terhadap istrinya Maia yang juga mempunyai nama besar dengan grup RATU. Dalam 
wawancara media massa dengan sangat lantang Ahmad Dani mengancam istrinya akan 
diceraikan jika ia tidak membubarkan grup RATU. Menurut Ahmad Dani, karena 
kesibukan Maia yang tinggi rumah tangga dan anak-anak menjadi tidak terurus. 
Sebagai perempuan dan sebagai istri, Ahmad Dani menuduh Maia tidak becus dalam 
mengatur keluarga karena sering ditinggal show.

                  Hanya karena penghasilan lebih besar dari suami, seorang 
rekan perempuan saya harus rela melepaskan pekerjaannya. Perempuan dianggap 
tidak pantas mempunyai penghasilan lebih tinggi daripada laki-laki. Belum lagi 
pendapat umum yang mengatakan kalau istri mempunyai gaji lebih besar 
kecenderungan untuk menyeleweng dan semena-mena terhadap suami menjadi pemicu 
suami rekan perempuan saya untuk melarangnya bekerja lagi. Ia kini menganggur, 
boleh bekerja hanya sebatas mendapat kesibukan.

                  Berbagai tekanan-tekanan keluarga terkait dengan eksistensi 
perempuan diruang publik ini sangat berdampak pada kehidupan perempuan. Karena 
tidak sanggup terus-menerus ditekan hanya sekedar pulang sedikit terlambat atau 
berbagai persoalan-persoalan lain menyebabkan banyak perempuan memutuskan untuk 
berhenti bekerja. Mereka yang tadinya menjadi pekerja profesional, mereka yang 
menjadi publik figur harus rela meninggalkan semuanya demi menghindarkan 
tuduhan-tuduhan yang tidak adil. Tidak sedikit para perempuan yang bekerja di 
ruang publik ini harus mengalami kekerasan fisik.

                   
                  Mekanisme Patriakhi

                  Memahami kemajuan perempuan di ruang publik sebatas 
simbol-simbol saja yang ditampilkan dan dicitrakan oleh banyak pihak termasuk 
media massa sangat ironis ketika kita melihat pada kehidupan sebenarnya. Hal 
ini disebabkan akar persoalan yang sebenarnya masih belum diputus. 
Kemajuan-kemajuan perempuan yang banyak dicitrakan ini masih dalam bungkus 
mekanisme patriakhi yang justru melanggengkan kekuasaan laki-laki atas 
perempuan.

                  Apa yang dialami oleh sejumlah perempuan di atas sangat jelas 
menunjukkan bagaimana perempuan masih belum terlepas dari cengkeraman mekanisme 
patriakhi, yaitu satu mekanisme sosial yang dimainkan secara penuh atau 
dikonstruksi dalam cara pandang laki-laki. Mekanisme patriakhi ini bekerja 
secara cermat. Ia tidak melarang perempuan untuk bekerja apa saja di ruang 
publik. Namun demikian, ia memberi catatan kepada perempuan yang bekerja untuk 
tetap harus ingat keluarga, harus ingat suami, harus ingat anak dan 
pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Sedikit saja sejumlah tanggungjawab keluarga 
ini terlewatkan hanya karena beberapa kesibukan, maka mekanisme patriakhi tidak 
segan-segan menyeretnya untuk tunduk.

                  Dalam konteks ini, mekanisme patriakhi menginginkan perempuan 
boleh beraktivitas ke ruang publik, namun sebagai perempu an aktivitas itu 
tidak boleh kebablasan. Perempuan yang beraktivitas dir uang publik harus juga 
mempunyai beban rumah tangga (Beban Ganda). Inilah yang menyebabkan beban 
perempuan semakin besar ketika ia harus bekerja. Lebih tepatnya, mekanisme 
patriakhi ini tidak menginginkan perempuan untuk memperoleh kemajuan di ruang 
publik, namun perempuan cukup punya kesibukan saja di ruang publik, sembari 
mengurus anak, mengurus keluarga dan suami. Sungguh menyedihkan.

                  Terciptanya mekanisme patriakhi ini memang cukup berat untuk 
begitu saja dibongkar. Nilai-nilai patriakhi dalam masyarakat kita telah 
menjadi tirani dalam kepala setiap insan. Ia mengumpal dalam kepala yang sangat 
sulit untuk bisa dibongkar, karena ia sudah memasuki ruang-ruang kesadaran 
manusia.

                  Pada titik inilah yang saya cemaskan dari pencitraan dan 
simbolisasi Kartini dari kemajuan perempuan yang simbolik, seperti yang 
disampaikan di awal tulisan ini. Perempuan maju saya sangat mendukung, namun 
ketika simbol-simbol saja yang dimunculkan saya menjadi sedih karena persoalan 
sebenarnya jarang terungkap. Bagi hemat saya, perjuangan Kartini bukanlah 
sekedar simbol-simbol semata. Kartini membongkar tatanan, nilai-nilai dan pola 
pikir patriakhi yang mendasar dari budaya masyarakat yang patriakhi.

                  Dalam konteks itulah, perayaan hari Kartini ini saya berharap 
tidak sekedar simbolisasi saja yang muncul, namun "fighting spirit" dari 
Kartini inilah yang harus dirayakan. "Figthing spirit" Kartini harus terus 
tumbuh untuk melawan tirani patriakhi, sehingga kemajuan perempuan tidak hanya 
simbol tetapi atas kesadaran masyarakat akan pentingnya kesetaraan dan keadilan 
gender. Itulah yang harus direbut, karena kesataraan dan keadilan tidak datang 
dengan sendirinya. Selamat Hari Kartini!
                   


                    
--------------------------------------------------------------

                  [1] Penulis adalah Program Manajer Sekolah Demokrasi 
Indonesia, sekaligus sebagai anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari 
simpul Jabodetabek.








                 
                    
           
            [EMAIL PROTECTED]    
     


Kirim email ke