Menanggapi tulisan mengenai balada pekerja infotainment, sebaiknya jangan
dilihat sebagai pekerja infotainment semata, saya lebih cenderung menyebutnya
BURUH, karena hal ini yang sebenarnya terjadi pada buruh, hanya saja bidangnya
lebih keren, televisi.
Tapi saya tidak akan mengomentari mengenai perburuhan, karena para pekerja
tersebut memilih profesi itu dengan sadar dan saya yakin dengan pertimbangan
tertentu -bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Saya juga tidak mau mengomentari dari betapa rendahnya biaya produksi
infotainment, karena tidak mungkin bisnis ini berjalan terus kalau rugi, jadi
pasti sang pengusaha rumah produksi untung. Yah..bisa kita samakan dengan
betapa murahnya produk -produk China di Indonesia yang rasanya tidak masuk akal
kalau dihitung seperti cara berhitung normal.
Saya lebih tertarik untuk mengomentari mengenai kualitas infotainment tersebut,
yang kemudian bisa kita hubungkan dengan biaya produksi maupun gaji pekerja
infotainment.
Pertama, Secara kuantitas infotainment kita sudah terlalu banyak dengan isi
yang relatif homogen alias sama. Tidak ada nilai tambah yang didapatkan walau
kita nonton beberapa acara infotainment yang berbeda. Lain jika kita nonton
beberapa acara berita yang berbeda, tetap ada perbedaan berita, angle dsb. Jadi
kalau kita nonton acara berita yang berbeda, rasanya selalu ada tambahan
informasi.
Kedua, secara kualitas isi infotainment, tidak ada kualitasnya sama sekali.
Isinya adalah perceraian, gossip yang kebenarannya diragukan, kasus pribadi
selebritis yang berkaitan dengan hukum. Jadi dari sisi jurnalistik, patut
dipertanyakan. Secara kualitas gambar, sama sekali tidak ada tatacara
pengambilan yang benar, baik untuk di lapangan maupun di studio. Mulai dari
tatacahaya, wardrobe, set, makeup, rambut presenter, bahkan kualitas presenter
itu sendiri- terutama kualitas performancenya seperti suara, cara berbicara
bahkan patut dipertanyakan kualitas intelektual ybs.
Memang kalau kita kembali ke pokok awal pembicaraan, what can you get with Rp.
5.000.000 per episode? Seperti premis awal saya, pasti pengusahanya untung,
kalau tidak, tidak mungkin infotainment jalan terus. Pertanyaannya, bagaimana
caranya? Dari kualitas yang tadi saya sebutkan diatas, pasti sang pengusaha
melakukan subsidi silang dengan menggunakan resource yang sama misalnya Gambar
yang sama, wartawan yang sama, kemungkinan tidak membayar lisensi untuk musik
yang digunakan dsb.
Ada 3 hal yang sebenarnya bisa di-upgrade dan cukup penting yang sebenarnya
tidak berpengaruh banyak terhadap biaya yaitu pesan yang mau disampaikan - yang
tersurat dalam tiap berita (yang menjadi benang merah atau prinsip dalam
penyampaian keseluruhan program ybs) , script (yang berhubungan kualitas news
editorial dan kreatifitas) dan kualitas pekerjanya (yang berhubungan dengan
masalah rekruitmen).
Ketiga hal ini tidak akan secara signifikan berpengaruh terhadap biaya produksi
karena yang berbeda hanyalah pada hal-hal yang bersifat non material. Jika
rekrutmen bagus dan mendapatkan tenaga yang baik, news editornya cukup kreatif
dan mau usaha sedikit untuk membuat infotainment yang berbobot sesuai dengan
misi maupun pesan yang ditujukan untuk memberi added value untuk penontonnya,
saya yakin infotainment kita tidak seperti "sampah" yang tidak memberi nilai
tambah bagi siapapun kecuali pengusaha rumah produksi infotainment.
Anda bayangkan saja, infotainment yang ada sekarang ini adalah program yang
menyiksa semua orang yaitu pekerja infotainment (seperti yang ditulis oleh
Amazone), selebritis itu sendiri (coba tanyakan pada Tamara Blezynski bagaimana
perasaannya terhadap infotainment), penonton (yang menghabiskan waktu dan tidak
mendapatkan nilai tambah alias tidak tambah pintar, tidak tambah pengetahuan,
tidak belajar apapun, selain buang waktu).
Jadi, menurut saya, infotainment yang dimiliki oleh televisi Indonesia saat ini
menjadikan pekerja infotainment, selebritis dan penonton sebagai obyek
penderita bagi pengusaha rumah produksi yang hasilnya tidak win-win. Kalau kita
mau, kita bisa ubah infotainment kita menjadi infotainment yang win-win bagi
semua stakeholders dengan sedikit usaha dan kreatifitas dari pengusaha rumah
produksi dan pekerjanya.
Apa yang bisa kita pelajari dari infotainment yang baik? Pertama, bagaimana
seorang selebritis merangkak dan bekerja keras serta memiliki determinasi kuat
hingga dia bisa mencapai posisi sukses saat ini. Kedua, menjadi aktor, aktris,
penyanyi, sutradara, pemain musik adalah suatu pekerjaan yang sama seriusnya
dengan pekerjaan dokter, guru, akuntan dan pekerjaan profesional lainnya, yang
membutuhkan bakat dan kerja keras agar bisa sukses. Ketiga, selebritis adalah
manusia biasa. Keempat, pekerja infotainment adalah jurnalis, camera person,
produser dan editor yang juga merupakan pekerja berbakat sehingga menghasilkan
tayangan yang luar biasa dan mampu mengemas tayangan yang bernilai tambah bagi
masyarakat. Dengan mengetahui betapa bakat dan kerja keras yang menghasilkan
kesuksesan yang luar biasa, maka seharusnya masyarakat mengapresiasi kelebihan
tersebut.
Saya mau mengajak rekan-rekan jurnalis spesialis entertainment dan yang peduli
terhadap media entertainment untuk menjadikan semua yang terlibat termasuk
selebritis kita sebagai role model sekaligus subyek media pembelajaran bagi
masyarakat kita.
Saya adalah orang yang percaya bahwa televisi dapat menjadi "guru" informal
bagi masyarakat kita. Apakah kita akan membuatnya menjadi "guru" yang baik atau
"guru" yang buruk?
"Whether we like it or not, People do learn from TV"
Salam,
Chrisma Albandjar
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
------ Forwarded Message
From: amazon dalimunthe <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 16 Apr 2007 20:32:10 -0700 (PDT)
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [forum-wartawanhiburan-jakarta] balada pekerja infotainmen
Masih seputar infotainmen.
Tahukah anda berapa harga jual satu produk infotainmen ke stasiun televisi?
Mengejutkan!,
Data yang saya peroleh dari beberapa rekan yang bekerja di stasiun maupun di
PH yang memproduksi infotainmen. Ternyata ada lho infotainmen yang dijual
secara flat atau jual putus, sebesar Rp. 5.000.000 saja perepisode.
Kenapa mengejutkan?
Karena saya mencoba menghitung dari berbagai sudut, mulai ongkos produksi,
frekwensi, sampai efisiensi, kok gak ketemu?
Artinya gak ketemu, adalah pada saat menghitung komponen gaji, atau lebih
tepat honor kali ya, berdasarkan UMR Provinsi DKI aja tetap tidak bisa
membagi angka Rp 5.000.000 tadi.
Itu mengapa, masih ada pekerja infotainmen yang bulanannya, masih ada yang
dibawah UMR tadi.....
Sungguh menyedihkan memang........
Saya tidak tahu. apakah ada hubungannya antara kemampuan PH membayar
pekerjanya berimbas pada kualitas SDM. Makanya, kita mungkin masih akan
menemukan pekerja infotainmen yang "asal" mencari berita. Asal terpenuhi
target yang diberikan kantornya. Asal PH nya bisa memenuhi target yang
diberikan oleh stasiun. Asal stasiun punya program Infotainmen seperti
stasiun-stasiun lain. Asal pengiklan punya tempat untuk mempromosikan
produknya. Asal..... asal......... asal-asalan.
Dari pengamatan saya, memang menguntungkan bagi PH yang punya sekian
infotainmen. Karena berita dari Infotainmen A, bisa nongol di infotainmen B,
C, D dan seterusnya. Mungkin ini salah satu mensiasati harga jual program,
dimana stasiun pasti mencari yang termurah.....
Gak peduli apakah hasil liputan itu diperoleh dengan cara-cara yang tidak
mengindahkan etika jurnalistik. Tidak mengindahkan nilai-nilai kepantasan.
Yang penting punya infotainmen.
Makanya, setiap kali membicarakan infotainmen yang khususnya membahas
tentang etika, saya selalu meminta pihak stasiun ikut berbicara.
mudah-mudahan harapan saya bisa terwujud.
Hingga
Salam Infotainmen
Amazon Dalimunthe
(tulisan diatas, pendapat pribadi)