Ratna Indraswari jelas cuma bercanda, seperti terlihat dalam konteksnya. Yang 
justru mengherankan adalah bahwa Anda menganggap gurauan itu serius dan menarik 
kesimpulan salah kaprah tentang feminisme Indonesia dari canda ringan itu.

Feminisme mana yang pernah menganjurkan agar perempuan minta ditraktir makan 
dan dibayarin nonton bioskop? Tapi, jika ada teman yang menawari traktir makan 
atau nonton, tak harus ditolak gara-gara kita feminis, kan? Yang penting, kita 
tak menuntut ditraktir, apalagi atas nama feminisme. Jadi, dalam point ini pun 
Anda keliru.

Cari dulu sumber atau referensi yang bilang bahwa feminisme itu salah satu 
aspeknya adalah minta ditraktir makan dan nonton, atau cari tokoh feminis yang 
pernah menyatakan demikian. Setelah itu, baru kemukakan di sini. Jangan 
berdasar konsep sendiri yang salah kaprah, lalu sudah menilai macam-macam, 
seolah-olah pemikiran Anda sudah terbukti benar.

manneke


-----Original Message-----

> Date: Sun Apr 22 23:16:45 PDT 2007
> From: "S yohh" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [mediacare] Apakah Saya Seorang Feminis?
> To: [email protected]
>
> 
> Suatu petang yang menggigit di Malang, saya terlibat
> diskusi dengan perempuan penggiat feminisme di Malang
> yang juga cerpenis produktif, Mbak Ratna Indraswari.
> Dari obrolan biasa, omongan akhirnya mengarah pada
> soal feminisme. Saya bertanya padanya. Kira-kira
> begini, ''Nah, unggah-ungguh (budaya) perempuan minta
> ditraktir makan, dibayarin kalau nonton bioskop, dls,
> itu kan nggak sejalan dengan feminisme?''
> 
> Mbak Ratna tertawa. Katanya kira2 begini, ''Habis
> ditraktir enak sih..."
> 
> Dari obrolan di atas saya berandai-andai, feminis
> negeri ini, kok, lebih suka menuntut persamaan dengan
> lelaki ketimbang berjuang, bereksistensi diri untuk
> menyetarakan tuntutan mereka. 
> 
> Saya pikir, bukan (hanya) feminisme diartikan sebagai
> sebuah persamaan secara lahiriah antara lelaki dan
> perempuan. Semisal hobi panjat pohon, wanita bekerja
> sebagai tukang becak, quota 30 persen di DPR, atau
> minta diperlakukan setara. Terpenting, justru
> bagaimana perempuan mencitrakan diri secara
> terus-menerus. Mulai dari hal terkecil hingga yang
> dianggap paling esensial, bahwa mereka pantas
> disetarakan. Jika sudah demikian, lelaki pun, tanpa
> diminta, akan duduk sama tinggi dengan kaum perempuan.
> 
> Salam dari Batam,
> Sultan, http://www.adalahcerita.blogspot.com/
> 
> 
> 
> 
> 
> --- redaktur web <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Apakah Saya Seorang Feminis? 
> > Jurnalis: Henny Irawati 
> > 
> > Jurnalperempuan.com-Jakarta. Belajar tentang diri
> > (self) menjadi salah satu pondasi penting dalam
> > mempelajari feminisme. Berangkat dari pemahaman
> > tentang diri tersebut, pemilahan individu sebagai
> > perempuan dan laki-laki menjadi lebih gamblang.
> > Dengan demikian formasi sistem bentukan masyarakat
> > yang diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin
> > tertentu diharapkan lebih jernih terbaca. 
> > 
> > Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan Mariana
> > Amiruddin bersama Editor Jurnal Perempuan Mikael
> > Johani memandu materi itu di hari pertama workshop
> > feminisme yang digagas YJP dengan tajuk ?Bagaimana
> > Menjawab Persoalan Perempuan?. 
> > 
> > Mariana memulai dengan menceritakan pengalamannya
> > dianggap aneh karena, sebagai anak perempuan, ia
> > gemar berenang dan memanjat pohon. ?Anak perempuan,
> > menurut mereka, tidak memanjat pohon, tidak suka
> > berenang, dan harusnya suka memakai rok,? paparnya
> > dalam workshop yang digelar di kantor YJP dan akan
> > berlangsung sejak 9 sampai dengan 20 April 2007
> > tersebut. 
> > 
> > Peserta yang berjumlah sekitar 20an pun diminta
> > berbagi pengalaman dibedakan karena jenis kelamin
> > perempuan. Berbagai pengalaman hadir dari sejumlah
> > peserta. Sebut saja Tasnim Jusuf yang bekerja di
> > Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan merasa
> > dilecehkan ketika nama yang disandangnya terdengar
> > lebih lazim dipergunakan laki-laki. Di masyarakat,
> > bahkan namapun, mengalami pengkotak-kotakan. 
> > 
> > Lanjutan perdebatan dan diskusi pada hari pertama
> > ini dapat dibaca di
> >
> http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-801%7CP
> > 
> > Baik Mariana maupun Mikael tidak keberatan dengan
> > adanya pertanyaan dan perdebatan yang terus mengalir
> > dari peserta. Hanya saja mereka mengingatkan, ?ini
> > baru pemanasan.? Esok dan 7 hari mendatang, masih
> > ada aktivis dan akademisi lain yang akan berbagi
> > pemahamannya tentang feminisme. Mereka di antaranya
> > Gadis Arivia, Nur Iman Subono, Jaleswari
> > Pramodhawardani, Melani Budianta, Sri Kusyuniati,
> > dan yang baru-baru ini mendapat penghargaan
> > International Courage of Women Musdah Mulia.
> > 
> > best regard, 
> > Redaktur Website Jurnalperempuan.com 
> > 
> > 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com

Kirim email ke