Untuk point pertama Abda, biarkan saja deh miliser lain yang menilainya. Saya sudah menyatakan kesan saya, dan jika saya mendebat pendapat Anda untuk soal yang satu ini, kita akan masuk debat kusir.
Point kedua, soal bagian yang Anda beri huruf KAPITAL semua: Di sinilah letak salah kaprah Anda. Feminisme sebagai sebuah gerakan kritis yang memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak terutama ditujukan kepada laki-laki, melainkan kepada pemberdayaan perempuan sendiri. Merendahkan diri di hadapan laki-laki adalah hal yang ditentang oleh feminisme. Jadi jika Anda mengenal banyak teman perempuan yang doyan minta traktir, ini bukan cerminan feminisme. Makanya, saya jadi heran bahwa Anda mengesankan hal ini adalah bentuk ambiguitas feminisme. Soal point Anda bahwa milis adalah ruang terbuka, saya setuju 100%. Maka itu, milis juga merupakan tempat untuk meluruskan data, info, pandangan, serta ajang untuk menumbuhkan pemikiran kritis. Bahwa Anda mau ngomong apa saja, ya monggo wae. Tapi, wajar juga jika akan ada reaksi dar miliser lain. Bukankah Anda menulis juga untuk ditanggapi, dan bukan untuk mendengar suara sendiri? Nah, kalo begini, baru tepat nongkrong di kamar sambil nyamil dan nonton sinetron. Point terakhir, saya tak pernah menyepelekan apa-apa maupun siapa-siapa, kecil maupun besar. Komentar Anda terakhir ini tak jelas juntrungannya. Ini mau ngomong soal gejala feminis atau gejala kebiasaan sebagian perempuan? Jangan dicampur-adukkan. Nanti salah kaprahnya nambah. manneke -----Original Message----- > Date: Tue Apr 24 00:11:57 PDT 2007 > From: "S yohh" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [mediacare] Re: Apakah Saya Seorang Feminis? > To: [email protected] > > Manneke, jika Anda membaca posting saya secara utuh, > jelas saya tidak menganggap persoalan > traktir-mentraktir sebagai sebuah hal penting dalam > pengertian feminisme yang saya pahami. Jelas pula > guyonan antara saya dan Mbak Ratna tetap saya > perlakukan sebagai guyonan. > > Anda justru tidak memperhatikan masalah pencitraan > yang saya kemukakan. Saya anggap, Anda juga gagal > menangkap essensi yang ingin saya munculkan dari > contoh kecil berupa guyonan dengan Mbak Ratna itu. > Yaitu TENTANG BUDAYA/KEBIASAAN PEREMPUAN SENDIRI YANG > SECARA SADAR MAUPUN TIDAK SADAR TELAH MEMBUAT POSISI > PEREMPUAN DI BAWAH LELAKI. > > Soal konsep dan penilaian saya tentang feminisme atau > apa pun asal masih seputar masalah yang bisa > didiskusikan, bukankah sebuah milis diskusi terbuka > semacam ini, dihalalkan yang demikian. Kalau tidak > ingin membaca 'hal berbeda', saya sarankan Anda > mengurung diri di kamar saja! Sambil nonton sinetron > memedi! Dan nyamil nyamikan berkalori! > > > Manneke, jangan pernah sepelekan sebuah > kebiasaan/contoh sekecil apa pun di sekeliling kita. > > Salam dari Batam, > Sultan > > > > > --- manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Ratna Indraswari jelas cuma bercanda, seperti > > terlihat dalam konteksnya. Yang justru mengherankan > > adalah bahwa Anda menganggap gurauan itu serius dan > > menarik kesimpulan salah kaprah tentang feminisme > > Indonesia dari canda ringan itu. > > > > Feminisme mana yang pernah menganjurkan agar > > perempuan minta ditraktir makan dan dibayarin nonton > > bioskop? Tapi, jika ada teman yang menawari traktir > > makan atau nonton, tak harus ditolak gara-gara kita > > feminis, kan? Yang penting, kita tak menuntut > > ditraktir, apalagi atas nama feminisme. Jadi, dalam > > point ini pun Anda keliru. > > > > Cari dulu sumber atau referensi yang bilang bahwa > > feminisme itu salah satu aspeknya adalah minta > > ditraktir makan dan nonton, atau cari tokoh feminis > > yang pernah menyatakan demikian. Setelah itu, baru > > kemukakan di sini. Jangan berdasar konsep sendiri > > yang salah kaprah, lalu sudah menilai macam-macam, > > seolah-olah pemikiran Anda sudah terbukti benar. > > > > manneke > > > > > > -----Original Message----- > > > > > Date: Sun Apr 22 23:16:45 PDT 2007 > > > From: "S yohh" <[EMAIL PROTECTED]> > > > Subject: Re: [mediacare] Apakah Saya Seorang > > Feminis? > > > To: [email protected] > > > > > > > > > Suatu petang yang menggigit di Malang, saya > > terlibat > > > diskusi dengan perempuan penggiat feminisme di > > Malang > > > yang juga cerpenis produktif, Mbak Ratna > > Indraswari. > > > Dari obrolan biasa, omongan akhirnya mengarah pada > > > soal feminisme. Saya bertanya padanya. Kira-kira > > > begini, ''Nah, unggah-ungguh (budaya) perempuan > > minta > > > ditraktir makan, dibayarin kalau nonton bioskop, > > dls, > > > itu kan nggak sejalan dengan feminisme?'' > > > > > > Mbak Ratna tertawa. Katanya kira2 begini, ''Habis > > > ditraktir enak sih..." > > > > > > Dari obrolan di atas saya berandai-andai, feminis > > > negeri ini, kok, lebih suka menuntut persamaan > > dengan > > > lelaki ketimbang berjuang, bereksistensi diri > > untuk > > > menyetarakan tuntutan mereka. > > > > > > Saya pikir, bukan (hanya) feminisme diartikan > > sebagai > > > sebuah persamaan secara lahiriah antara lelaki dan > > > perempuan. Semisal hobi panjat pohon, wanita > > bekerja > > > sebagai tukang becak, quota 30 persen di DPR, atau > > > minta diperlakukan setara. Terpenting, justru > > > bagaimana perempuan mencitrakan diri secara > > > terus-menerus. Mulai dari hal terkecil hingga yang > > > dianggap paling esensial, bahwa mereka pantas > > > disetarakan. Jika sudah demikian, lelaki pun, > > tanpa > > > diminta, akan duduk sama tinggi dengan kaum > > perempuan. > > > > > > Salam dari Batam, > > > Sultan, http://www.adalahcerita.blogspot.com/ > > > > > > > > > > > > > > > > > > --- redaktur web <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > Apakah Saya Seorang Feminis? > > > > Jurnalis: Henny Irawati > > > > > > > > Jurnalperempuan.com-Jakarta. Belajar tentang > > diri > > > > (self) menjadi salah satu pondasi penting dalam > > > > mempelajari feminisme. Berangkat dari pemahaman > > > > tentang diri tersebut, pemilahan individu > > sebagai > > > > perempuan dan laki-laki menjadi lebih gamblang. > > > > Dengan demikian formasi sistem bentukan > > masyarakat > > > > yang diskriminatif terhadap salah satu jenis > > kelamin > > > > tertentu diharapkan lebih jernih terbaca. > > > > > > > > Manager Program Yayasan Jurnal Perempuan Mariana > > > > Amiruddin bersama Editor Jurnal Perempuan Mikael > > > > Johani memandu materi itu di hari pertama > > workshop > > > > feminisme yang digagas YJP dengan tajuk > > ?Bagaimana > > > > Menjawab Persoalan Perempuan?. > > > > > > > > Mariana memulai dengan menceritakan > > pengalamannya > > > > dianggap aneh karena, sebagai anak perempuan, ia > > > > gemar berenang dan memanjat pohon. ?Anak > > perempuan, > > > > menurut mereka, tidak memanjat pohon, tidak suka > > > > berenang, dan harusnya suka memakai rok,? > > paparnya > > > > dalam workshop yang digelar di kantor YJP dan > > akan > > > > berlangsung sejak 9 sampai dengan 20 April 2007 > > > > tersebut. > > > > > > > > Peserta yang berjumlah sekitar 20an pun diminta > > > > berbagi pengalaman dibedakan karena jenis > > kelamin > > > > perempuan. Berbagai pengalaman hadir dari > > sejumlah > > > > peserta. Sebut saja Tasnim Jusuf yang bekerja di > > > > Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan merasa > > > > dilecehkan ketika nama yang disandangnya > > terdengar > > > > lebih lazim dipergunakan laki-laki. Di > > masyarakat, > > > > bahkan namapun, mengalami pengkotak-kotakan. > > > > > > > > Lanjutan perdebatan dan diskusi pada hari > > pertama > > > > ini dapat dibaca di > > > > > > > > > > http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-801%7CP > > > > > > > > Baik Mariana maupun Mikael tidak keberatan > > dengan > > > > adanya pertanyaan dan perdebatan yang terus > > mengalir > > > > dari peserta. Hanya saja mereka mengingatkan, > > ?ini > > > > baru pemanasan.? Esok dan 7 hari mendatang, > > masih > > > > ada aktivis dan akademisi lain yang akan berbagi > > > > pemahamannya tentang feminisme. Mereka di > > antaranya > > > > Gadis Arivia, Nur Iman Subono, Jaleswari > > > > Pramodhawardani, Melani Budianta, Sri > > Kusyuniati, > > > > dan yang baru-baru ini mendapat penghargaan > > > > International Courage of Women Musdah Mulia. > > > > > > > > best regard, > > > > Redaktur Website Jurnalperempuan.com > > > > > > > > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > > Do You Yahoo!? > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > > protection around > > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com
