RESHUFFLE; POLITIK LUMPUR HIDUP
  Eka Sastra
  Staff Ahli DPR RI
   
  Kalau reshuffle betul dilaksanakan awal Mei ini, indikasi politik lumpur 
hidup dalam sistem ekonomi politik Indonesia semakin menemukan justifikasinya. 
Kelembagaan ekonomi politik saat ini ibarat lumpur hidup yang menenggelamkan 
siapapun pelaku politik yang sedang “beruntung” berada di panggung kekuasaan, 
tapi sayangnya tidak memiliki tempat bergantung yang kokoh dari kuatnya tarikan 
lumpur hidup di sekelilingnya. Yang terjadi adalah jatuh bangunnya pelaku dan 
kekuatan politik di pentas Nasional tanpa kejelasan penyelesaian masalah 
kebangsaan yang sedang menghadang. Secara bersama-sama, bangsa ini menghabiskan 
energy sosialnya dan membenamkan dirinya dalam kubangan lumpur hidup.  
  Lumpur Hidup Di Sekeliling Kita
  Lumpur hidup disini adalah kelembagaan ekonomi politik Indonesia yang telah 
diaransemen secara terbatas pasca runtuhnya otoritarianisme orde baru, tapi 
sayangnya belum menemukan pola baru dan titik keseimbangannya. Implikasi dari 
aransemen terbatas dan sifatnya hanya permukaan, kelembagaan yang lahir 
memiliki beberapa persoalan krusial didalamnya. Sebuah kelembagaan yang memang 
secara taken for granted memiliki masalah internal sehingga sulit untuk 
membayangkan jalan keluar permasalahan bangsa dengan berlandaskan pada 
kelembagaan yang ada saat ini. Implikasinya siapapun pelaku politik yang sedang 
berada di tengahnya akan tersandera sendiri oleh buruknya kelembagaan yang ada, 
tertelan oleh lumpur hidup disekelilingnya.
  Ada tiga unsur penting dalam kelembagaan yaitu aturan, pelaku, dan sistem 
(Yustika, 2002). Idealnya, sebuah kelembagaan harus berbasis pada sistem nilai 
yang kemudian diterjemahkan secara konsisten dalam aturan sehingga mampu 
mengikat seluruh pelaku yang ada. Dengan kelembagaan yang kokoh, pelaku dapat 
berinteraksi dalam sebuah aturan main yang pada ujungnya akan memberikan 
manfaat sosial dari  setiap kerja sama dan persaingan antar pelaku yang 
terjadi. Hal ini tidak diketemukan dalam kelembagaan ekonomi politik Bangsa 
saat ini baik pada ranah politik yang mengatur pengelolaan kuasa maupun pada 
ranah ekonomi yang mengatur pengelolaan sumber daya.
  Pada ranah politik, sistem Presidensial dengan partai politik formal maupun 
non formal yang begitu banyak mendorong maraknya transaksi politik. Presiden 
dan Kabinet dibayang-bayangi oleh ancaman pencabutan dukungan dari Partai 
Politik sehingga praktis kinerja Pemerintahan tertawan oleh kuatnya oligarki 
Partai. Bayangkan repotnya mengelola Pemerintahan dengan partai yang begitu 
beragam dengan kepentingan beragam pula. Presiden, Wapres dan menterinya harus 
berpikir bukan hanya bagaimana mengefektifkan kinerjanya tapi juga harus 
berpikir bagaimana tetap menjaga hubungan baik dengan partai yang 
mengusulkannya, mendiamkan partai lain yang kadang mempersoalkannya dan 
berdialog tanpa henti dengan Parlemen yang kadangkala begitu keras 
mempersoalkan kinerjanya tanpa ukuran yang jelas. Belum lagi persoalan 
efektifitas penyelenggaran pemerintahan yang ditimbulkan oleh perbedaan partai 
dan dukungan politik baik dalam Pemerintahan Pusat sendiri, maupun antara 
Pemerintah Pusat dengan
 Propinsi dan Kab/Kota. Kondisi ini diperparah dengan karakteristik dasar dari 
birokrasi yang belum efektif sehingga lengkaplah sudah hambatan bagi 
efektifitas kinerja Pemerintahan akibat aransemen kelembagaan yang bobrok. 
  Pada ranah ekonomi juga serupa, otoritas moneter dalam hal ini Bank Indonesia 
telah berubah bentuk dari bank yang sebelumnya berada di bawah kontrol penuh 
pemerintah menjadi lembaga yang ibaratnya negara dalam Negara. Bagaimana 
mungkin mengefektifkan kinerja sector riil tanpa dukungan dari sektor moneter 
yang otoritasnya hanya fokus pada pengelolaan inflasi semata tanpa orientasi 
terhadap pertumbuhan ekonomi ataupun perluasan lapangan kerja? 
  Kewenangan pemerintah di ranah ekonomi saat ini juga sangat terbatas karena 
harus berbagi peran bukan hanya dengan BI semata tapi juga dengan Pemerintahan 
Daerah yang telah memiliki kewenangan luas pasca desentralisasi dan sektor 
swasta domestik maupun asing seiring liberalisasi yang terjadi. Letak 
masalahnya bukan pada banyaknya pemain atau lebarnya lapangan tapi bagaimana 
menciptakan aturan main yang mengintegrasikan seluruh pelaku dalam berkompetisi 
dan bekerja sama agar mampu memberikan kemanfaatan sosial. Kelembagaan ekonomi 
kita belum memiliki hal tersebut karena yang tercipta hanyalah disharmonisasi 
antara organisasi dan pelaku ekonomi. Dimana-mana disharmonisasi pelaku tidak 
akan mampu melahirkan kekuatan ekonomi domestik yang kokoh di tengah iklim 
global yang makin kompetitif. Mungkin inilah gambaran dari sebuah proses “upaya 
meninggalkan pola lama yang tidak relevan lagi sementara pola baru belum 
terlembagakan dengan baik”.
  Ibarat lumpur hidup, kelembagaan yang tidak tertata baik siap menelan 
siapapun yang “kebetulan” menduduki jabatan publik di Pemerintahan. Terlepas 
dari bagusnya visi dan program yang dirumuskan, problem kelembagaan yang berada 
disekitarnya begitu keras menghambat realisasi visi dan program. Akibatnya 
publik yang kritis akan menilai kinerjanya jeblok, media massa akan mengulasnya 
secara konsisten dan kelak akan menjadi mainan baru bagi elit politik lainnya 
bernama reshuffle. Dengan situasi seperti ini, lumpur hidup berupa kelembagaan 
ekonomi politik yang bobrok akan menenggelamkan siapapun yang tidak memiliki 
akar untuk bergantung.
   
  Benahi Kelembagaan, Bersihkan Lumpur
            Pandangan tentang sentralisme kelembagaan tidak serta merta 
dikategorikan sebagai determinisme kelembagaan yang menafikan kemampuan pelaku 
secara aktif dalam merefleksikan diri dan mentransformasikan lingkungannya 
(Giddens, 1984). Pelaku memiliki kemampuan reflektif dan transformative tapi 
tetap saja akan berdialog dengan kelembagaan yang ada disekelilingnya. Dengan 
kapasitas kelembagaan ekonomi politik yang kita miliki saat ini, tak akan ada 
visi besar yang mampu membumi dengan baik. Sementara situasi kebangsaan yang 
kita alami saat ini adalah situasi abnormal yang membutuhkan visi besar dan 
terobosan strategi yang melampaui rutinitas sebelumnya. 
  Terkait dengan hal ini, upaya ganti mengganti Pemerintahan dalam PilPres, 
atau ganti-mengganti menteri dalam reshuffle perlu ditempatkan lebih obyektif. 
Tidak melulu semua persoalan ditimpakan seutuhnya pada pelaku dalam hal ini 
Presiden, Wakil Presiden atau Kabinetnya dan tidak semua energi sosial yang 
terbatas perlu kita habiskan untuk urusan ganti mengganti pelaku. Ini bukan 
pembelaan terhadap Pemerintahan yang ada hari ini karena data survey Lembaga 
dan Lingkaran Survey Indonesia bulan Maret lalu mengindikasikan kalau proses 
penghukuman masyarakat sedang berlangsung. Pemerintahan sebelumnya juga 
mengalami hal yang sama, dihukum oleh masyarakat secara kolektif pada Pemilu 
2004 lalu. Boleh jadi kemenangan SBY-JK bukan karena visi misi dan program 
alternatifnya tapi hanya karena keberuntungan dari upaya menghukum masyarakat 
terhadap Pemerintahan. Pola menghukum Pemerintah yang sekarang terulang, dan 
mungkin juga kemenangan sementara pihak oposisi bukan karena kemampuan
 oposisi dalam menawarkan gagasan alternative dan mengemasnya dengan baik tapi 
keberuntungan dari hukuman masyarakat terhadap pemerintah. Hukuman terhadap 
SBY-JK mungkin akan didistribusikan menjadi hukuman kepada Kabinetnya dalam 
bentuk reshuffle awal Mei ini. Kalau ini terjadi dan pola ini terus terulang 
lagi, kita semua harus waspada, Politik lumpur hidup sedang berjalan. 
  Kalau politik lumpur hidup yang berjalan, kehidupan bernegara akan terasa 
absurd, hampa makna, ibarat siklus tak berujung dan dampaknya pada kejenuhan 
politik kolektif yang mendatangkan apatisme. Energi sosial dihabiskan untuk 
urusan ganti-mengganti pelaku sementara permasalahan kebangsaan belum 
terselesaikan sehingga luapan pengangguran dan kemiskinan akan bertambah 
seiring rutinitas ganti-mengganti. Boleh jadi persoalan yang utama pada 
kelembagaan yang bobrok sehingga energi sosial bngsa perlu dialokasikan untuk 
melahirkan tindakan kolektif dalam upaya perbaikan kelembagaan secara 
komprehensif. Kalau itu yang terjadi aransemen kelembagaan yang harusnya 
menjadi prioritas bersama dan bukan hanya tugas Pemerintah tapi juga seluruh 
bangsa termasuk oposisi. Kita perlu menyusun agendanya secara lebih konkret dan 
terukur ataukah kita semua harus siap sedia tertelan oleh lumpur hidup yang 
semakin melebar.  
   

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke