http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=290754&kat_id=16
Rabu, 25 April 2007



Kemiskinan Inspirasi Kolektif 
Oleh : 
Eka Sastra
Staf Ahli Komisi VII DPR RI

Ada beberapa publikasi yang mengoyak nurani berbangsa yaitu data kemiskinan dan 
data survei persepsi masyarakat terhadap situasi ekonomi sekarang yang keduanya 
menunjukkan pesan yang sama; gagalnya tindakan kolektif bangsa dalam 
memberantas kemiskinan. Peningkatan angka kemiskinan dan semakin beratnya beban 
ekonomi masyarakat memberi pesan yang lebih dalam bahwa bangsa ini tidak hanya 
miskin pendapatan tapi juga sedang mengidap kemiskinan inspirasi kolektif. 
Kemiskinan ini yang lebih parah karena menjadi akar dari ketidakmampuan bangsa 
dalam merumuskan dengan baik strategi pemberantasan kemiskinan secara 
komprehensif dan berkelanjutan.

Kemiskinan inspirasi kolektif dapat ditangkap dari keterbatasan strategi 
pemberantasan kemiskinan yang diterapkan di negeri ini sepanjang waktu. 
Ketidakpuasan masyarakat atas kegagalan Pemerintahan Megawati-Hamzah dalam 
mentransformasi beban sosial ekonomi masyarakat menjadi alasan pemilih 
menghukum pemerintah. Hal ini dapat diamati dari beberapa survei menjelang 
Pilpres 2004 yang menempatkan ketidakpuasan masyarakat atas situasi ekonomi 
sebagai alasan utama untuk tidak lagi memilih incumbent. Masyarakat mendambakan 
situasi lain dan tawaran perubahan SBY-JK menjadi alternatif yang kelak 
diharapkan membawa situasi ekonomi baru.

Belum hilang dalam ingatan bagaimana tim ekonomi pemerintahan Mega-Hamzah 
merumuskan strategi pemberantasan kemiskinan dengan mengulang produk lama 
trickle down effect yang menjadi akar kegagalan orde baru sebelumnya. 
Pencapaian sasaran menengah berupa perbaikan indikator makro (tingkat inflasi, 
pengurangan defisit anggaran, nilai tukar) yang dipercaya pada akhirnya akan 
mendatangkan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Tapi yang terjadi adalah 
paradoks ekonomi dalam bentuk membaiknya alternatif makro, sektor rill tidak 
bergerak, dilihat dari pengangguran yang tidak berkurang. Situasi ini menjadi 
salah satu alasan yang membuatnya tidak terpilih lagi.

Pemerintahan SBY-JK yang pada awalnya adalah harapan baru bagi masyarakat 
ternyata juga mengidap kemiskinan inspiratif. Hal ini dapat dilihat dari 
strategi pemberantasan kemiskinan yang sebenarnya tetap mengulang produk lama. 
Memperbaiki sasaran antara dengan harapan investasi akan berjalan secara 
paralel untuk kemudian menggerakkan sektor riil. Hasil akhirnya dapat diketahui 
melalui data yang ada, kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat 
bahkan lebih parah dari era sebelumnya. 

Reaksi masyarakat dapat dibaca dalam hasil survei dua LSI Maret lalu. Survei 
itu menggambarkan tingginya tingkat ketidakpuasan masyarakat atas situasi 
ekonomi yang ada dan penurunan popularitas SBY-JK serta dua partai pendukung 
utamanya, Partai Demokrat dan Partai Golkar. PDIP menjadi alternatif baru bagi 
masyarakat berdasarkan dua hasil survei dari dua LSI. Tapi pertanyaan yang 
belum ditemukan jawabnya adalah apakah ada alternatif baru dari tim ekonomi 
PDIP dalam memberantas kemiskinan. Yang terjadi hanyalah hukuman terhadap 
pemerintahan yang ada seperti sebelumnya, tanpa lahirnya inspirasi baru untuk 
keluar dari jebakan kemiskinan.

Sebuah jebakan
Siklus antara produk pemerintah dan oposisi dengan kebutuhan masyarakat yang 
begitu menggelikan, menggambarkan jebakan kemiskinan inspirasi kolektif yang 
sedang menghinggapi bangsa ini. Politik ibarat pasar dalam ekonomi. Masyarakat 
sebagai konsumen memerlukan perbaikan situasi ekonomi, sementara pemerintah dan 
oposisi sebagai produsen menawarkan barang yang sama dari waktu ke waktu. 
Kegagalan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan alternatif menyebabkan masyarakat 
tidak membelinya dalam bentuk dukungan suara. Ini yang terjadi pada 
pemerintahan sebelumnya dan sedang berlangsung pada pemerintahan saat ini. 
Pendeknya, produk yang ditawarkan oleh pemerintah dianggap tidak layak beli 
oleh masyarakat tapi tetap ditawarkan oleh pemerintah, dan oposisi tidak secara 
jelas merumuskan karakteristik produk alternatifnya. 

Yang menggelikan adalah tidak ada barang baru yang ditawarkan oleh produsen. 
Pemerintah dan oposisi tidak menawarkan barang yang berbeda sehingga masyarakat 
memiliki pilihan. Program peningkatan kesejahteraan masyarakat sepanjang waktu 
masih produk lama. Padahal pengalaman penerapan produk tersebut menunjukkan 
kegagalannya dalam memenuhi kebutuhan alternatif. Hal ini berlaku bukan hanya 
pada pemerintahan sekarang tapi juga pada pemerintahan sebelumnya.

Implikasinya tentu saja pada dua hal yaitu defisit dari sisi demokratisasi 
dalam bentuk kegagalan dalam mendorong politik berbasis isu, dan lahirnya 
sistem kepartaian yang berbasis program bahkan yang lebih parah adalah semakin 
meningkatnya pengangguran serta kemiskinan. Mengapa pemerintah tidak memiliki 
alternatif baru pemberantasan kemiskinan sehingga produk yang ditawarkan adalah 
produk lama yang telah gagal dan ditolak oleh konsumen? Akar dari hal ini 
adalah terjadinya jebakan kemiskinan inspirasi kolektif bangsa dalam wujud 
kegagalan dalam merumuskan strategi pemberantasan kemiskinan alternatif. Bangsa 
ini tersandera dalam sebuah pusaran tidak adanya alternatif lain dalam 
pemberantasan kemiskinan selain mengulang strategi lama trickle down effect.

Jalan keluar
Kemiskinan inspirasi tidak hanya terjadi di level pemerintah pusat atau partai 
politik, tapi hampir menjadi kenyataan umum. Premis ini didasarkan pada 
kenyataan bahwa pemerintah memiliki kewenangan terbatas dalam sistem ekonomi 
nasional yang ada saat ini. Globalisasi mendorong semakin kuatnya pengaruh 
eksternal dalam mempengaruhi ekonomi domestik. Sementara desentralisasi telah 
memangkas berbagai kewenangan pemerintah pusat dan mengalihkannya ke pemerintah 
daerah. Pada sisi lain, liberalisasi ekonomi mendorong semakin besarnya peranan 
sektor swasta dalam perekonomian domestik. 

Di level pusat sekalipun, kewenangan pemerintah juga terbatas. Otoritas moneter 
berada dalam kendali BI, sementara otoritas fiskal harus melalui konsensus 
eksekutif dan legislatif, pemerintah dan oposisi. Lapangan ekonomi yang semakin 
terbuka memberi ruang bermunculannya banyak pelaku ekonomi. 

Sayangnya di tengah ruang yang semakin terbuka seperti ini, inspirasi-inpirasi 
baru yang lebih segar tidak juga bermunculan. Bangladesh boleh jadi negara 
miskin tapi setidaknya mampu melahirkan inspirasi segar dalam pemberantasan 
kemiskinan ala Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya yang telah mengangkat 58 
persen peminjamnya ke atas garis kemiskinan. Atau pengalaman Hernando De Soto 
dan Lembaga Kebebasan dan Demokrasinya yang telah berhasil membuka jalan lain 
bagi kaum miskin di Peru. Tentu masih banyak inspirasi lain, tapi yang menarik 
dari mereka berdua adalah mereka menemukan bahwa masih ada jalan lain 
pemberantasan kemiskinan dan boleh jadi masih banyak jalan lain yang belum 
ditemukan. 

Ikhtisar
- Kemiskinan inspirasi kolektif dampaknya jauh lebih berbahaya dibanding 
kemiskinan materi.
- Bangsa ini terus terjebak dalam kemiskinan inspirasi kolektif, sehingga 
program pemberantasan kemiskinan jalan di tempat.
- Program pemberantasan kemiskinan yang sebelumnya menemui kegagalan, 
ditawarkan lagi oleh pemerintahan yang baru, seolah-olah menjadi program yang 
terkini.
- Muhammad Yunus dengan Grammen Bank dan Hernando De Soto, bisa menjadi contoh 
untuk mengatasi jebakan kemiskinan inspirasi kolektif

Kirim email ke