SUARA MERDEKA
Sabtu, 28 April 2007

Soal Nasib Para Menteri
SB dan JK Pasrah ke SBY

       
      SM/dok 
        a.. Soetrisno Bachir 
      
     
JAKARTA - Reshuffle kian dekat. Menjelang hari pergantian, tanggapan dari 
sejumlah ketua parpol beragam. Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir (SB) dan 
Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) pasrah dan menyerahkan sepenuhnya 
nasib menteri dari PAN dan Golkar kepada SBY.

"Karena reshuffle adalah prerogatif Presiden, ya itu terserah Presiden. Seorang 
menteri dari PAN yang dipilih oleh Presiden itu sudah kita wakafkan kepada 
Presiden. Tidak ada hubungan secara struktural dan terputus secara partai," 
kata Soetrisno di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat (27/4).

Menurut pengusaha nasional itu, Presiden tidak bisa mentolerir lagi 
menteri-menteri yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi, menteri yang 
mengalami sakit dan menteri ekonomi yang gagal memberdayakan sektor riil. "Jika 
lebih efektif Presiden harus mengganti mereka itu lebih baik. Kalau yang sakit 
tidak ganti zalim," ujar Soetrisno.

Saat ditanya apakah sudah dimintai pendapat oleh SBY soal reshuffle, politisi 
asal Pekalongan ini mengaku 4 hari lalu dihubungi Menseskab Sudi Silalahi. 
Namun belum ada kepastian kapan rencana pertemuan dengan SBY. "Empat hari lalu 
saya dihubungi tetapi saya belum ketemu karena itu saya belum tahu," kata 
Bachir.

Terkait dengan rencana pergeseran posisi Menhub Hatta Rajasa, dia minta agar 
pergeseran tidak dilakukan atas pertimbangan politik. Tapi harus semata-mata 
karena dinilai Hatta kurang cakap di jabatan itu.

"Ada indikasi terdapat gerakan politik untuk membunuh karakter Hatta. Kita 
sebagai pimpinan parpol akan membantunya," janjinya.



Partai Golkar

Sementara itu Partai Golkar mengambil sikap pasif. Belum ada kader yang 
disiapkan sebagai kandidat pengganti menteri yang dicopot Presiden SBY.

"Saya kira Golkar menunggu saja Pak Presiden mengumumkan itu. Saya belum tahu 
siapa yang akan diganti, bagaimana mau mempersiapkan kader," kata Ketua Umum 
Partai Golkar Jusuf Kalla.

Hal itu disampaikan menjawab pertanyaan wartawan seusai salat Jumat di Kantor 
Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (27/4).

Secara pribadi JK mengaku bosan mendengar pertanyaan atas masalah yang 
sebenarnya menjadi hak prerogatif Kepala Negara. Maka akan lebih baik bila 
semua pihak bersabar menunggu pengumuman resmi.

"Ini pertanyaan yang diulang-ulang. Terpaksa jawabannya juga diulang-ulang," 
ujar JK dengan nada bosan. 

Sikap DPD

Sikap Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mengajukan anggotanya menjadi menteri 
dinilai dapat menurunkan kewibawaan lembaga tersebut. Meningkatkan peran DPD 
lebih penting daripada merekomendasikan anggotanya untuk menjadi menteri.

''Selama ini DPD cukup bagus saat mengusulkan wacana amandemen UUD 1945. DPD 
sebaiknya konsentrasi pada peningkatan perannya. Ngapain mengirim orang untuk 
menjadi menteri. Tindakan tersebut sangat tidak patut,'' kata Direktur 
Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicated, Sukardi Rinakit, dalam diskusi bertema 
''Hitungan Mundur Reshuffle Kabinet'' di Gedung DPD RI Senayan Jakarta, Jumat 
(27/4).

Seperti diberitakan, 30 anggota DPD telah menandatangani surat yang ditujukan 
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berisi dukungan terhadap anggota 
DPD dari Bengkulu, Bambang Soeroso untuk menjadi menteri. Menurut Wakil Ketua 
DPD Laode Ida, pihaknya juga tengah menyiapkan dukungan serupa terhadap Wakil 
Ketua DPD Irman Gusman, untuk kemudian disampaikan kepada SBY.

Sukardi mengatakan, DPD seharusnya lebih berperan dalam konsolidasi demokrasi. 
Penguatan fungsi DPD adalah hal yang jauh lebih penting dibanding dengan 
ikut-ikutan merekomendasikan nama calon menteri. ''Padahal selama ini, citra 
DPD jauh lebih baik dibanding dengan DPR. Mengapa sekarang DPD menurunkan diri 
sendiri,'' ujarnya.

Di tempat yang sama, anggota DPD Ichsan Loulembah (Sulawesi Tengah) mengatakan, 
usulan dari DPD dimaksudkan untuk memperbanyak pilihan bagi Presiden SBY dalam 
melakukan reshuffle.

''Apa yang dilakukan sama dengan apa yang dilakukan oleh kelompok lain, mulai 
dari DPR dan LSM. Presiden SBY tidak perlu merasa terdesak. Tidak ada satu 
institusi apa pun yang dapat menekan Presiden SBY,'' katanya.

Menurutnya, DPD mengusulkan pergantian menteri terutama di bidang yang 
berkaitan dengan daerah. Misalnya, menteri dalam negeri, menteri keuangan, 
menteri perhubungan, menteri pekerjaan umum.

Tidak Efektif

Pengamat ekonomi dari INDEF Aviliani menegaskan ketidaksetujuannya terhadap 
reshuffle kabinet. Reshuffle dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini tidak 
akan efektif. Yang selama ini ribut soal reshuffle kabinet hanyalah kalangan 
elite yang mengincar posisi menteri. 

''Masyarakat tidak peduli dengan reshuffle,'' katanya.

Reshuffle, menurutnya, justru akan menambah persoalan. Kinerja pemerintah akan 
semakin buruk, karena para menteri baru memerlukan waktu untuk konsolidasi, dan 
mempelajari masalah yang dihadapi.

Dikatakan, bila para menteri ekonomi diganti para profesional, maka akan 
dipengaruhi kekuatan partai politik. ''Profesional yang tidak masuk dalam 
partai politik akan sulit untuk menjadi menteri. Jadi, pergantian susunan 
kabinet bukan satu hal yang penting bagi dunia ekonomi,'' tandasnya.

Aviliani mengatakan, yang terpenting bagi kalangan pebisnis adalah kepanstian 
dari sisi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. ''Presiden SBY harus segera 
berkoordinasi dengan menteri ekonominya, karena masih banyak permasalahan 
ekonomi yang harus dituntaskan, menyusul semakin tingginya angka pengangguran 
dan kemiskinan.''

Dia mengaku takut bila reshuffle dilakukan secara radikal bisa membahayakan 
posisi Presiden sendiri. ''Presiden akan dimusuhi banyak parpol yang tidak puas 
karena kadernya tidak dilibatkan di kabinet,'' ujarnya.

Sebaiknya, kata dia, pergantian sebaiknya dilakukan pada level pejabat 
direktorat jenderal. Alasannya, mereka yang paling dekat dengan perumusan 
kebijakan. Bahkan bila perlu, posisi dirjen ditempati oleh pejabat 
non-karier.(H28, dtc-49

<<attachment: sm1sutrisnobachir28x.jpg>>

Kirim email ke