Menyambung soal fenomena bullying di sekolah, berikut ada 2 berita tentangnya: Awas! Bullying di Sekolah Nurvita Indarini - detikcom
Jakarta - Sekolah memang tempat untuk menuntut ilmu. Namun disadari atau tidak, di beberapa sekolah di Indonesia, masih banyak terjadi kasus bullying. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Dan peristiwanya, sangat mungkin terjadi berulang. Menurut siaran pers yang diterima detikcom dari aktivis Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), Diena Haryana, Sabtu (28/4/2007), bullying terbagi menjadi tiga. Pertama, fisik, seperti memukul, menampar, dan memalak atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya. Kedua, verbal, seperti memaki, menggosip, dan mengejek. Ketiga, psikologis, seperti mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, dan mendiskriminasikan. Dari hasil penelitian Sejiwa, bullying adalah persoalan penting di sekolah-sekolah. Sebab di sekolah, bullying muncul dalam berbagai bentuk. Kegiatan inisiasi seperti ospek dan ritual yang biasa diadakan para senior di sekolah, merupakan bentuk bullying yang tidak disadari. Kegiatan yang seharusnya bertujuan memperkenalkan sekolah dan program yang ada di sekolah, malah melenceng menjadi ajang untuk mempemalukan para siswa baru dengan kegiatan yang merendahkan dan mengintimidasi. Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying. Karena itu, tindakan ini akan merusak generasi penerus di Indonesia. (nvt/nvt) ========== Banyak Guru Anggap Bullying Bukan Masalah Serius Nurvita Indarini - detikcom Jakarta - Bullying bisa mengakibatkan depresi. Namun, ternyata masih banyak guru yang menganggap bullying bukan masalah serius. Demikian penelitian Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), sebagaimana keterangan pers yang dikirimkan kepada detikcom, Sabtu (28/4/2007). Penelitian yang dilakukan pada 2004 hingga 2006 itu menyatakan, dampak negatif bullying masih belum disadari sepenuhnya oleh para guru. Berdasar survei terhadap guru-guru di 3 SMA di dua kota besar di Pulau Jawa menunjukkan, 1 dari 5 guru menganggap penggencetan dan olok-olok adalah hal biasa dalam kehidupan remaja dan tak perlu diributkan. Selain itu, 1 dari 4 guru berpendapat bahwa sesekali penindasan tidak akan berdampak buruk pada kondisi psikologi siswa. Sebuah studi yang dilakukan oleh ahli pendidikan Amy Huneck di sebuah SD di Indonesia menemukan sejumlah data. Amy mencatat, 45 persen siswa mengaku menerima perlakuan bullying ketika berada di dalam kelas, sedangkan 43 persen mendapat perlakuan bullying saat istirahat. Dia juga mencatat, 65 persen siswa SD yang mengalami bullying tidak melaporkan kepada orang dewasa. Dan hanya 1 dari 10 orang dewasa yang diwawancarai merasa bullying adalah masalah. Sedangkan lainnya menganggap, bullying adalah bagian dari cara anak-anak bermain. Hironimus Sugi dari Plan Internasional menyatakan, kesimpulan konsultasi dengan anak-anak di 18 propinsi pada 2005 memperlihatkan bahwa sekolah bisa menjadi tempat yang berbahaya untuk anak-anak, karena banyak ragam bentuk kekerasan di sekolah. Mengingat bullying masih menjadi masalah tersembunyi karena tidak disadari para pendidik dan orang tua murid, Sejiwa mengimbau agar masalah ini segera ditangani secara serius. Apalagi data di negara tetangga, Jepang, 10 persen anak-anak korban bullying mencoba bunuh diri. Mengerikan! (nvt/nvt)
