setujuuuuuuu

kalau boleh aku tambahkan kenapa ketika berbicara perempuan selalu 
ujung-ujungnya mengatakan kalau pandangan feminisme tidak sejalan dengan 
agama tertentu?

Padahal saya pernah baca di Al-Quran tercatat: "Wahai para istri, patuhlah 
pada suamimu." Namun selalu kelanjutannya kelupaan: "Wahai para suami, 
hormatilah istrimu." So, pertanyaan saya apanya dari feminisme yang tidak 
sejalan gitu lohhhh. Kan feminisme mengharapkan adanya penghargaan terhadap 
kerja dan kehormatan perempuan sehingga tidak sekedar jadi boneka manis 
untuk dibawa waktu pesta en sansak tinju waktu jengkel ;)

maria
----- Original Message ----- 
From: "Nana P" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; "Perempuan" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "Sastra" <[EMAIL PROTECTED]>; 
"sumarsastrowardoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "FIKI" <[EMAIL PROTECTED]>; "JIL" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "FPK Kompas" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "media-jateng" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "Mediacare" <[email protected]>; 
"Zamanku" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, April 29, 2007 8:04 PM
Subject: [mediacare] Feminism doesnt work?


   Pak Sumar yang terhormat, dan juga rekan-rekan milis yang lain,
  Saya terus terang agak bingung untuk memulai mengomentari tulisan di bawah 
ini. Tapi, kalau tidak salah, inti utama dari tulisan ini adalah 
ketidakpercayaan kepada gerakan para feminis karena dianggap tidak cukup 
berhasil untuk menyamakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Sebagai 
solusinya disarankan untuk kembali ke ajaran Islam yang kaffah.
  Dalam salah satu artikel saya yang berjudul "God's Law for Women?" (bisa 
dilihat di http://afeministblog.blogspot.com) saya menulis sedikit di situ 
mengapa orang mengatakan bahwa awal mula gerakan perempuan untuk kesetaraan 
dimulai pada abad ke 19 dengan diadakannya konvensi perempuan pertama 
sedunia di Seneca Falls New York tanggal 19 Juli 1848. Apakah lantas bisa 
dikatakan bahwa gerakan yang di kemudian hari disebut sebagai gerakan 
feminisme ini hanya bermula dari Barat? Karena hanya perempuan di Barat yang 
merasa tertindas, terutama dengan sistem kapitalisnya?
  Kalau tidak salah di abad 19 muncul juga para pejuang untuk perempuan ini 
di daratan negara-negara Arab sana. Salah satunya kalau tidak salah Qasim 
Amin yang bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul 
MATINYA PEREMPUAN. Kalau perempuan-perempuan di belahan bumi Timur ini tidak 
merasa tertindas hidup dalam kultur patriarki ini, saya rasa mereka tidak 
akan begitu saja "mengadopsi" gerakan feminisme ini. Semula memang gerakan 
feminisme hanya berlaku untuk kaum perempuan berkulit putih yang datang dari 
kalangan kelas menengah ke atas. Pada prakteknya kemudian karena gerakan 
feminisme ini (yang diupayakan oleh perempuan kulit putih dari kalangan 
mengenah ke atas) tidak mampu menjawab kebutuhan perempuan-perempuan dari 
kalangan lain, misal perempuan berkulit warna, perempuan yang hidup di 
negara ketiga, dan lain-lain, akhirnya muncullah yang kita kenal sebagai 
feminisme multikultural, ekofeminisme, dan lain sebagainya.
  Sudah berapa ribu tahun dunia ini male-dominated?
  Kalau kita hitung dari awal mula gerakan feminisme diperjuangkan secara 
bersama, sampai sekarang berarti baru berada dalam abad yang kedua (dari 
abad ke19 sampai abad 21). Masih terlalu muda untuk mengatakan bahwa gerakan 
feminisme ini gagal untuk menjawab tantangan ataupun untuk mengurangi 
kekerasan, diskriminasi, dll yang terjadi kepada kaum perempuan. Tentu saja 
tidak mudah untuk mendobrak status quo dari kosmologi patriarki ini.
  Mengatakan bahwa gerakan feminisme ini sama artinya dengan kaum perempuan 
ingin melupakan kodratnya sebagai perempuan (kodrat yang mana?) saya rasa 
bukanlah hal yang tepat. Saya setuju dengan pernyataan bahwa laki-laki 
perempuan diciptakan oleh Allah untuk saling mengisi, memberi, hidup 
berdampingan. Itu sebabnya ketika akan memutuskan sesuatu, atau mengambil 
satu kebijakan, suara perempuan harus didengarkan, suara perempuan yang 
benar-benar dari perempuan, bukan perempuan yang di benaknya pun dipenuhi 
oleh cara berpikir yang maskulin.
  Bagaimana agar perempuan memiliki cara berpikir mereka sendiri, dan tidak 
hanya mengadopsi cara berpikir laki-laki? Tentu saja dengan memberi mereka 
kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, memberi mereka kesempatan 
untuk berkiprah dalam segala aktifitas di ranah publik, memberi mereka 
kesempatan untuk memiliki pengalaman mereka sendiri, yang kemudian akan 
mereka analisis menggunakan cara berpikir mereka sendiri.
  Kembali ke ajaran Islam yang kaffah?
  Ajaran Islam yang kaffah yang mana yang dimaksud? Saya meragukan apakah 
masih ada orang atau satu kelompok komunitas di zaman ini yang benar-benar 
masih menjalankan ajaran Islam seperti zaman Nabi Muhammad dulu. Kita semua 
tahu bahwa Khadijah, istri pertama Nabi adalah seorang pedagang yang cukup 
sukses dan disegani oleh teman bisnisnya. Hal ini menunjukkan bahwa 
perempuan mampu berkiprah di ranah publik. Sekarang di tanah Arab sana, 
bisakah perempuan berkecimpung di ranah publik dengan leluasa? Mereka 
terpenjara di dalam rumah, yang kemudian dilabeli "untuk melindungi kaum 
perempuan". Perlindungan dari mana dan siapa? Laki-laki yang senantiasa 
menganggap mereka sebagai setan penggoda? Bukankah setan penggoda itu justru 
ada dalam benak laki-laki itu sendiri?
  Berapa abad telah berlalu setelah Nabi Muhammad wafat, tatkala kemudian 
ditulislah fikih-fikih klasik sebagai hasil tafsir Alquran yang dihasilkan 
oleh para mufassir yang bias gender? Yang begitu saja melupakan bahwa 
perempuan pun berhak untuk menjadi pemimpin di ranah publik, bukan hanya 
dalam keluarga masing-masing. Yang melupakan bahwa perempuan pun bisa 
menjadi sumber kekuatan sektor ekonomi. Karena mereka lupa, atau mengabaikan 
kenyataan itu, mereka akhirnya menghasilkan tafsir yang memenjarakan kaum 
perempuan dan kemudian berdalih bahwa itu semua untuk kebaikan kaum 
perempuan itu sendiri.
  Saya sangat terkesan dengan pernyataan mbak Dewi dari milis perempuan yang 
menyatakan "Bukankah agama lahir untuk memanusiakan manusia?" Jikalau dalam 
fikih-fikih klasik itu penuh dengan tafsir yang bias jender, apa bisa kita 
katakan bahwa ajaran agama Islam yang termuat dalam fikih klasik tersebut 
memanusiakan perempuan?

  Salam hangat,
  Nana




  Masihkah Berharap Pada Emansipasi


  Oleh: Ecy Mahfudz SST
  Lajnah I'lamiyah HTIDPD II Banjarmasin


  Agenda pemikiran feministik telah lama digulirkan. Gagasan ini menjadi 
booming pada 1995 saat konferensi perempuan sedunia yang ke-4 di Beijing. Di 
negeri tercinta ini pun
  (Indonesia) ide gender disambut dengan tangan terbuka. Lihat saja, hari 
demi hari semakin banyak perempuan yang mengorbankan dirinya guna 
memperjuangkan ide ini. Cuma perempuan yang mengerti perempuan, adalah 
slogan yang membakar semangat perempuan untuk maju pantang mundur. Tanpa 
sungkan dan babibu, kaum feminis terus mengadopsi pemikiran feministik ini 
ke dalam kehidupan sehari-hari.


  Emansipasi awalnya merupakan perlawanan dari perempuan Barat yang merasa 
dirinya tertindas dan diinjak oleh laki-laki dalam sistem negara di barat. 
Negara di barat yang notabene penganut sistem kapitalis, juga melahirkan 
perempuan terus berada dalam ketertindasan dan tidak lebih hanya dijadikan 
komiditas yang mudah diperdagangkan. Kungkungan sistemik kapitalis juga 
telah membuat perempuan menjadi objek garapan industri. Mereka menjadi objek 
perdagangan (trafficking), eksploitasi (model iklan, kontes kecantikan dll), 
korban kekerasan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan sebagainya.


  Keterwakilan perempuan dalam parlemen sebenarnya tidak menjawab secara 
penuh persoalan perempuan. Ini disebabkan, perempuan yang ada di parlemen 
mempunyai visi dan misi berbeda dalam penyelesaian masalah perempuan. 
Terlebih lagi apabila ia mewakili partai yang mempunyai pandangan khas 
mengenai solusi permasalahan. Maka, perempuan yang satu belum tentu sama 
pemikiran solusi untuk permasalahan perempuan dengan lainnya. Ditambah lagi 
dengan mekanisme suara terbanyak, sudah pasti perempuan yang ada di parlemen 
mempunyai beragam pendapat sehingga akan terjadi perpecahan suara.


  Dulu, Indonesia memcatat top leader-nya adalah seorang perempuan. Bukan 
selesainya masalah perempuan, namun masalah di luar perempuan pun bertambah 
kusut.


  Pandangan feminis tentang persoalan perempuan terpisah dari persoalan 
masyarakat pun, sangat bertentangan dengan fakta yang ada. Sebab, yang 
dimaksud dengan persoalan perempuan adalah persoalan manusia juga. Ia lahir 
dari kompleksitas persoalan manusia secara umum, yang kebetulan menimpa 
manusia berjenis kelamin perempuan. Jika penyelesaian persoalan perempuan 
hanya di pandang dengan sudut pandang perspektif gender, jelas sampai saat 
ini tidak akan berhasil. Persoalan perempuan seharusnya dipandang sebagai 
persoalan manusia yang siapa pun bisa menyelesaikannya, tidak harus 
perempuan itu sendiri.


  Konsep pemberdayaan feminis sangat berbeda dengan konsep pemberdayaan 
perempuan dalam Islam. Mereka berpijak pada paham demokrasi, sekularis, dan 
individualis. Sedangkan dalam Islam, setiap muslim/muslimah harus menjadikan 
wahyu Allah sebagai
  sumber pemikiran dalam pemecahan persoalan kehidupan. Allah SWT 
menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai partner yang saling mengisi, 
dengan perbedaan peranan sesuai kodrat masing-masing dalam menjalani 
kehidupan sesuai aturan Allah.


  Dalam Islam, rakyat jelata pun mendapatkan kehormatan guna mengoreksi 
pemerintah yang keluar jalur Islam, meskipun ia seorang perempuan. Semua, 
baik yang memegang kekuasaan maupun rakyat jelata sama-sama diminta 
pertanggungjawabannya di hadapan Allah mengenai keterikatan mereka dengan 
hukum Allah. Islam telah membuktikannya dalam kurun waktu 13 Abad.


  Dalam kepemimpinan peradaban Islam, perempuan tidak pernah merasakan 
ketidakadilan. Mereka justru mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya sesuai 
fitrahnya, terjaga haknya dan terlindungi kehormatannya. Kenapa kita tidak 
kembali ke
  aturan Islam kaffah? Hanya dengan kembali ke aturan Allah, perempuan akan 
terjaga kehormatannya dan diridhai Allah. Apa pun bentuk persoalannya, semua 
harus dikembalikan kepada aturan Sang Khalik, Sang Pencipta manusia. Wallahu 
a'lam bi ash-shawab.






For the world, you are just someone; for someone, you can be his/her world

  visit my blogs please, at the following sites
  http://afemaleguest.blog.co.uk
  http://afeministblog.blogspot.com
  http://afemaleguest.multiply.com

  THANK YOU
  Best regards,
  Nana



---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.6.2/780 - Release Date: 29/04/2007 
6:30

Kirim email ke