Isu yang saya lempar yaitu terkait budaya matrilineal banyak mendapat berbagai 
tanggapan. Masukan-masukan baru membuat masalah makin berkembang, tentu tak 
perlu saya
membuka nama2 pengirimnya, namun membuat saya sementara ini harus
cari lagi sumber2 baru yang arahnya makin lebar.  Berat jadinya untuk
cari waktunya yang baik.

Beberapa masukan ini malah mengklaim juga bahwa kerajaan Majapahit
juga sama dengan kerajaan Pagar Ruyung yaitu penganut
system "Matrilineal".  Hanya karena sejarah kehilangan banyak
catatannya, maka terlewatlah perhatian para ahli sejarah mengenai
urusan system kekeluargaan.

Setelah saya gali2 lagi sejarah Majapahit, ternyata sebagian besar
kekuasaan raja2 Majapahit memang dipegang oleh wanita, baik ibunya,
maupun anak perempuannya yang menjadi ratu.

Lebih membingungkan lagi, katanya, Ratu Diah pitaloka juga keturunan
champa yang juga menganut matrilineal.  Menurutnya, Dyah Pitaloka itu
adalah masih cucunya Raden Wijaya dari isterinya yang puteri Champa.
Namun Dyah Pitaloka bukanlah anak Prabu Siliwangi, tetapi anak isteri
Prabu Siliwangi yang berzinah dengan Jayanegara dimana akhirnya
Jayanegara katanya dibunuh oleh seorang empu yang ditugaskan oleh
Prabu Siliwangi.  Artinya, raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka itu
masih saudara karena keduanya keturunan Raden Wijaya.  Gajah Mada lah
yang membuka rahasia Diah Pitaloka kepada Hayam Wuruk pada detik2
terakhir setelah gagal membatalkan niat Hayam Wuruk untuk menikahi
dyah pitaloka.  Setelah dalam perjalanan ke Babad, barulah gajah mada
menceritakannya kepada Hayam Wuruk.  Itulah sebabnya Hayam Wuruk juga
mendadak membatalkan pernikahan tsb.

Perang di Babat itu pecah bukan karena urusan pernikahan Dyah
Pitaloka, melainkan kemarahan prabu Siliwangi akibat Gajah Mada
melanggar sumpahnya membuka rahasia ini kepada hayam wuruk.  Dan
dalam sejarahnya, katanya Dyah Pitaloka bunuh diri.  Tetapi dalam
klaim salah satu pembaca dikatakan Dyah Pitaloka akhirnya lari
bersama pacarnya.  Perlu diketahui, Dyah Pitaloka adalah wanita jago
silat.  Seperti juga Adityawarman yang menjadi murid terbaik patih
gajah mada, maka dyah pitaloka juga murid seorang yang hebat.

Namun saya harus menemukan sumber2 klaim ini sehingga saya belum akan
menulisnya dulu.  Tetapi kalo memang ada pembaca yang kebetulan
memilik sumber2 yang bisa menjelaskan lebih detail masalah ini, boleh
juga untuk direlease kedalam milist.  Anggapan Majapahit sebagai
kerajaan Buddha Mahayana tidaklah sepenuhnya benar, karena sebenarnya
Majapahit cenderung Islam karena pendirinya, Raden Wijaya itu anak
dari puteri Champa yang beragama Islam yang "matrilineal".  Islam
dari Champa beda dari Islam umumnya, cenderung berassimilasi dengan
aliran Hindu tertentu.

Majapahit hancur, terpecah belah, ditambah lagi masuknya Islam Arab
yang patrilineal, yaitu Islam Wahabi.  Pecahlah perang antara
kerajaan2 Islam yang juga mengakibatkan hancurnya kerajaan Pajajaran.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke