Maaf, perang antara Majapahit dan Pajajaran bukan perang Babad tetapi perang 
Bubat.



  ----- Original Message ----- 
  From: Hafsah Salim 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, May 07, 2007 1:24 PM
  Subject: [mediacare] Informasi baru membanjir terkait budaya matrilineal 
Minang


  Isu yang saya lempar yaitu terkait budaya matrilineal banyak mendapat 
berbagai tanggapan. Masukan-masukan baru membuat masalah makin berkembang, 
tentu tak perlu saya 
  membuka nama2 pengirimnya, namun membuat saya sementara ini harus 
  cari lagi sumber2 baru yang arahnya makin lebar. Berat jadinya untuk 
  cari waktunya yang baik.

  Beberapa masukan ini malah mengklaim juga bahwa kerajaan Majapahit 
  juga sama dengan kerajaan Pagar Ruyung yaitu penganut 
  system "Matrilineal". Hanya karena sejarah kehilangan banyak 
  catatannya, maka terlewatlah perhatian para ahli sejarah mengenai 
  urusan system kekeluargaan.

  Setelah saya gali2 lagi sejarah Majapahit, ternyata sebagian besar 
  kekuasaan raja2 Majapahit memang dipegang oleh wanita, baik ibunya, 
  maupun anak perempuannya yang menjadi ratu.

  Lebih membingungkan lagi, katanya, Ratu Diah pitaloka juga keturunan 
  champa yang juga menganut matrilineal. Menurutnya, Dyah Pitaloka itu 
  adalah masih cucunya Raden Wijaya dari isterinya yang puteri Champa. 
  Namun Dyah Pitaloka bukanlah anak Prabu Siliwangi, tetapi anak isteri 
  Prabu Siliwangi yang berzinah dengan Jayanegara dimana akhirnya 
  Jayanegara katanya dibunuh oleh seorang empu yang ditugaskan oleh 
  Prabu Siliwangi. Artinya, raja Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka itu 
  masih saudara karena keduanya keturunan Raden Wijaya. Gajah Mada lah 
  yang membuka rahasia Diah Pitaloka kepada Hayam Wuruk pada detik2 
  terakhir setelah gagal membatalkan niat Hayam Wuruk untuk menikahi 
  dyah pitaloka. Setelah dalam perjalanan ke Babad, barulah gajah mada 
  menceritakannya kepada Hayam Wuruk. Itulah sebabnya Hayam Wuruk juga 
  mendadak membatalkan pernikahan tsb.

  Perang di Babat itu pecah bukan karena urusan pernikahan Dyah 
  Pitaloka, melainkan kemarahan prabu Siliwangi akibat Gajah Mada 
  melanggar sumpahnya membuka rahasia ini kepada hayam wuruk. Dan 
  dalam sejarahnya, katanya Dyah Pitaloka bunuh diri. Tetapi dalam 
  klaim salah satu pembaca dikatakan Dyah Pitaloka akhirnya lari 
  bersama pacarnya. Perlu diketahui, Dyah Pitaloka adalah wanita jago 
  silat. Seperti juga Adityawarman yang menjadi murid terbaik patih 
  gajah mada, maka dyah pitaloka juga murid seorang yang hebat.

  Namun saya harus menemukan sumber2 klaim ini sehingga saya belum akan 
  menulisnya dulu. Tetapi kalo memang ada pembaca yang kebetulan 
  memilik sumber2 yang bisa menjelaskan lebih detail masalah ini, boleh 
  juga untuk direlease kedalam milist. Anggapan Majapahit sebagai 
  kerajaan Buddha Mahayana tidaklah sepenuhnya benar, karena sebenarnya 
  Majapahit cenderung Islam karena pendirinya, Raden Wijaya itu anak 
  dari puteri Champa yang beragama Islam yang "matrilineal". Islam 
  dari Champa beda dari Islam umumnya, cenderung berassimilasi dengan 
  aliran Hindu tertentu.

  Majapahit hancur, terpecah belah, ditambah lagi masuknya Islam Arab 
  yang patrilineal, yaitu Islam Wahabi. Pecahlah perang antara 
  kerajaan2 Islam yang juga mengakibatkan hancurnya kerajaan Pajajaran.

  Ny. Muslim binti Muskitawati.



   

Kirim email ke