http://www.balipost.com/balipostcetak/2007/5/7/o1.htm


Kemewahan Birokrat Ciptakan Kesan Buruk 

IMPIAN akan kemewahan yang ditampilkan para birokrat telah menciptakan kesan 
buruk masyarakat terhadap birokrat. Terlebih lagi banyak kebijakannya yang 
tidak pro-rakyat. Lihat kasus Loloan Yeh Poh yang ditentang rakyat, kasus 
dugaan korupsi dana rakyat miskin di RS Sanglah, pungli di jalanan, pungutan di 
lembaga perizinan dan sejumlah kasus lainnya yang kini tengah disidangkan 
maupun masih disidik penegak hukum.

Di sisi lain perekonomian berada dalam stagnasi yang berlarut-larut. Meski 
ekonomi makro sudah relatif stabil, dan restrukturisasi sektor finansial sudah 
menuju babak akhir, sektor riil masih belum mulai bekerja. Kondisi ekonomi 
mikro masih jauh dari situasi pulih. Dalam konteks ini, buruknya kualitas 
pelayanan publik menyumbang persoalan yang cukup besar.

Apa yang terjadi itu memperlihatkan reformasi birokrasi jalan di tempat. 
Padahal reformasi birokrasi telah menjadi agenda pemerintahan SBY-JK.

Keberadaan birokrat yang tidak pro-rakyat memang sudah lama dipertanyakan 
masyarakat. PNS yang mottonya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat ternyata 
tidak demikian kenyataan di lapangan. Banyak yang kesal ketika berurusan dengan 
birokrasi. Birokrasi sekarang identik dengan uang dan dimanfaatkan betul oleh 
oknum-oknum tertentu untuk memperkaya diri.

Untuk membangun tatanan birokrasi yang pro-rakyat perlu kompetensi yang tinggi. 
Selama ini lingkungan birokrat (baca: CPNS) lebih banyak terindikasi KKN. 
Apalagi sekarang kebijakan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara yang mengangkat 
100 persen pegawai honda (honor daerah) yang dulu masuknya tanpa testing. 
Mereka-mereka ini hanya menjadi beban negara dan dikhawatirkan tidak memiliki 
kepekaan terhadap kepentingan takyat.

PNS yang ramping dan produktivitas yang tinggi berulang kali diungkapkan Kwik 
Gian Gie ketika menjadi Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas. Dia mengusulkan 
rasionalisasi PNS dan audit birokrasi. Tanpa adanya audit ini birokrasi akan 
tetap gemuk dan sulit meningkatkan kesejahteraan jutaan PNS di Tanah Air.

Dari sudut prinsip-prinsip dan proses bekerjanya organisasi agar mencapai 
tujuannya secara optimal, birokrasi tidak berbeda dengan organisasi-organisasi 
perusahaan swasta/BUMN lainnya. Penentuan garis-garis komunikasi, garis-garis 
kewenangan, dan garis-garis pertanggungjawaban, termasuk dalam ilmu organisasi 
harus dapat dipertanggungjawabkan. 

Birokrasi sejak berdirinya RI sampai saat ini tidak pernah ditelaah secara 
sistematis dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang sudah demikian jauh 
perkembangan dan kecanggihannya. Jumlah PNS membengkak terus sampai sekitar 4 
juta orang sekarang ini. Kini ditambah lagi dengan perekrutan baru sekitar 
300.000 orang. Memang ada teori bahwa jumlah PNS harus sekian persen dari 
jumlah penduduk. Teori seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip yang 
rasional, objektif, dan dengan orientasi membentuk organisasi yang efektif dan 
efisien. Yang kita hadapi sekarang globalisasi yang mengedepankan persaingan 
dan kemajuan teknologi informasi.

Dengan audit dan standar kompetensi akan dapat diketahui jumlah kebutuhan PNS. 
Apakah PNS yang ada sekarang berlebih atau kurang. Bila didapatkan dari hasil 
perhitungan bahwa jumlah PNS yang ada melebihi kebutuhan, tentu perlu dilakukan 
pengurangan. 

Dalam percaturan internasional -- menghadapi daya saing global -- dibutuhkan 
birokrasi yang berjiwa wirausaha dan pro-rakyat. Birokrasi yang berjiwa 
wirausaha digambarkan sebagai birokrasi ramping yang memberdayakan, 
memfasilitasi, dan menguatkan masyarakat. Kemampuan wirausaha merupakan 
kemampuan memanfaatkan sumber daya dengan cara inovatif untuk meningkatkan 
efektivitas dan produktivitas kerja.

Kirim email ke