http://www.indomedia.com/bpost/052007/8/opini/opini1.htm

Sekolah Generik untuk Rakyat Miskin

Orang miskin di negeri yang miskin ini masih sangat banyak. Hal inikah yang 
menjadi pedoman pokok kita dalam membangun dunia pendidikan berbasis high cost?

Oleh: HA Syamsuddin
Tenaga kesehatan RS Swasta di Banjarmasin

Tetap segar di ingatan saya saat ingin masuk perguruan tinggi (PT) hampir 15 
tahun lalu. Dari kota kecil di utara Kalimantan, merantau cukup jauh ke kota 
besar agar bisa melanjutkan sekolah di bidang kedokteran. Seperti kandidat 
mahasiswa yang lain, setelah lulus seleksi administrasi jalur PMDK tentu 
berharap bisa lulus seleksi akademik, tes kesehatan dan psikotes agar diterima 
menjadi mahasiswa di fakultas kedokteran.

Alhamdulillah, harapan diri dan orangtua untuk bisa jadi mahasiswa kedokteran 
dan tentu suatu saat menjadi dokter, cita-cita yang mungkin paling banyak 
diucapkan anak balita, dapat terwujud. Saya diterima menjadi mahasiswa 
kedokteran.

Di tahun yang sama saat ini, bagaimana dengan sekolah di negara kita? Sudah 
menjadi rahasia umum, untuk masuk Fakultas Kedokteran yang sama dengan yang 
meluluskan saya dulu juga fakultas favorit lainnya di Indonesia baik negeri 
maupun swasta, orangtua calon mahasiswa harus menyiapkan dana hingga puluhan 
bahkan ratusan juta rupiah. Bukan hanya di PT, sekolah yang dianggap favorit 
mulai SD sampai menengah seperti tidak mau ketinggalan untuk menaikkan tarif 
masuk. 

Mungkin ini juga mengindikasikan, di negeri tercinta ini tolak ukur utama 
seseorang untuk bisa menimba ilmu adalah: Pertama, uang pangkal yang mumpuni. 
Ketiga, kemampuan intelegensi dan mental yang memadai. Kedua? Sebut saja faktor 
X yang bisa diterjemahkan bermacam-macam seperti kekerabatan, jalan tol, 
rekomendasi atasan dll. 

Zaman memang cepat berubah, saat ini bukan lagi 15 tahun lalu. Hanya orang yang 
sulit menerima perubahan yang mungkin membanggakan masa lalunya dan selalu 
berpandangan When I was younger .... Bukankah Indonesia (salah satu negara 
dengan harga mobil termahal di dunia) adalah satu dari beberapa negara di Asia, 
tempat pasar mobil mewah tumbuh sangat pesat.

Membeli mobil mewah built up sudah menjadi tren populer di kalangan orang kaya 
di Indonesia, terutama di Jakarta. Di sisi ekstrim lain dari kemewahan yang 
sudah biasa jadi gaya hidup segelintir masyarakat kita, rawan pangan atau 
busung lapar di kalangan anak balita juga merupakan cerita biasa. Busung lapar, 
misalnya, menyebabkan kematian 26 bayi di Jateng hanya dalam waktu satu bulan. 
Bahkan rawan pangan ternyata bukan hanya langganan daerah terpencil yang susah 
dijangkau seperti di Papua, tetapi juga terjadi di ibukota negara.

Kita memang punya UUD yang punya semangat tinggi untuk memakmurkan 
masyarakatnya. Tapi UUD yang kita pilih adalah paradigma Ujung Ujungnya Duit. 
Institusi pendidikan tidak lebih dari sekadar sarana memperkaya diri lewat 
sumbangan penerimaan siswa dan mahasiswa baru, dengan nyaris tanpa 
mempertimbangkan kapasitas potensi akadamik dan ke arah mana mereka kelak 
dibawa tanpa mempedulikan apa pun dampaknya di kemudian hari, mentalitas money 
talk, rasa keadilan yang terinjak-injak, jurang kesenjangan yang makin menganga 
dan berujung perpecahan dan kehancuran.

Namun, bila potret dunia pendidikan kita yang kian suram seperti sekarang dan 
fenomena high cost sulit dibendung karena terlanjur berakar dan menjalar ke 
mana-mana, mestinya harus ada langkah alternatif dari pemerintah agar 
pendidikan murah masih bisa dirasakan rakyat miskin. Di bidang kesehatan kita 
mengenal obat generik yang diklaim khasiatnya sama dengan obat paten, namun 
dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau. Maka demi keadilan, sudah 
saatnya pula pemerintah memikirkan untuk menyediakan sekolah generik mulai dari 
pendidikan dasar, menengah, hingga PT. Sekolah khusus bagi rakyat miskin di 
mana hak untuk menimba ilmu, meraih cita-cita, memperbaiki taraf hidup dapat 
dipenuhi. Bukan masalah kalau lulusannya nanti juga dicap sebagai lulusan 
generik, sarjana generik, dokter generik. Tentang kualitasnya, meminjam iklan 
obat generik, yang diperlukan tubuh kan isinya, bukan mereknya. Wallahua'lam bi 
shawab. Selamat Hardiknas !

e-mail : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke