Refleksi: Bagaimana kalau presiden disebut raja dan disembah seperti raja 
dipertuan agungkan pada djaman tempo doeloe

http://www.sinarharapan.co.id/nasional/index.html

Presiden Memosisikan seperti Raja  

Oleh
Suradi/Herdjoko


Jakarta- Presiden yang mempunyai hak prerogatif untuk melakukan perombakan 
kabinet atau reshuffle tidak menggunakannya secara efektif . Sebaliknya, 
Presiden malah memosisikan diri seperti raja dan semua menteri tergantung pada 
dirinya. Sebaliknya, harga diri para menteri tidak ada lagi. Presiden pun 
memainkan emosi masyarakat selama dua pekan ini.


Penilaian tersebut dikemukakan politisi senior dari PDIP Sutradara Gintings 
ketika dihubungi SH, Senin (7/5) siang. Menurutnya, Presiden Yudhoyono seperti 
bermain sinetron bertema "Kerajaan Cikeas". Pada saat bersamaan, masalah 
subtansi reshuffle tidak diutamakan.


Menurut Wakil Sekjen DPP PDIP bidang pemerintahan ini, urgensi reshuffle adalah 
bagaimana meningkatkan kinerja pemerintahan. Namun yang terjadi, Presiden lebih 
mengutamakan seremoni pemanggilan menteri-menteri dan melakukan uji kelayakan 
dan kepatutan. "Padahal, evaluasi terhadap menteri itu kan bisa dilakukan 
setiap hari," katanya.


Menurutnya, dramatisasi tanpa substansi yang dilakukan Presiden di kediamannya 
di Cikeas selama tiga hari itu tidak banyak membawa manfaat. Sebaliknya para 
menteri justru dibuat sangat tergantung pada presiden, meskipun mereka adalah 
para pembantunya. 


"Menteri di masa sekarang ini seperti tak terhormat lagi," kata Gintings sambil 
menambahkan Presiden seperti ingin mengobati kanker dengan obat flu yang bisa 
dibeli di sembarang tempat.

Kental Nuansa Politik 
Sementara itu, Sekjen DPP PDIP Pramono Anung menilai reshuffle kabinet yang 
dilakukan Presiden Yudhoyono lebih kental nuansa politiknya daripada untuk 
perbaikan kinerja pemerintah. 
Pramono Anung yang hadir dalam Apel Siaga PDIP Jawa Tengah di GOR Jatidiri, 
Semarang, Minggu (6/5), dalam reshuffle itu tidak ada terobosan yang besar. 
"Oleh karena itu, rakyat jangan terlalu berharap banyak. Reshufle itu 
normal-normal saja," tutur Pramono.


Ia menambahkan sebenarnya PDIP berharap dalam persoalan reshuffle ini bisa 
memberikan langkah yang lebih baik bagi kabinet. "Namun setelah melihat 
nama-nama yang ada maka bisa dibaca bahwa politik akomodasi masih sangat 
dominan. Akomidasi terhadap parpol masih tinggi daripada ingin melakukan 
perbaikan terhadap bangsa," ujarnya.


Pramono melihat beberapa nama yang akan dimasukkan ternyata hanya dengan 
menggeser saja. Penentuan menteri, katanya, tidak betul-betul berdasarkan 
kapabilitas dan kapasitas seseorang.
Politik akomodasi itu, kata Pramono, dengan munculnya nama Sekjen DPP PKB 
Lukman Edy yang diperkirakan menggantikan Syaifullah Yusuf dan Ketua DPP Partai 
Golkar Andi Mattalata sebagai Menteri Negara BUMN.


"Dari pantauan dua hari terakhir, nama-nama yang muncul lebih mengesankan 
politik akomodasi itu. Di sini pengaruh Partai Golkar juga sangat kuat," 
katanya. n

Kirim email ke