http://www.indomedia.com/bpost/052007/8/opini/opini3.htm

Ketika Nurani Mulai Sakit

Oleh: dr Adiputro SpJ
Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

Suatu malam, ada seorang anak muda berobat ke tempat saya. Ia mengeluh nyeri 
ulu hati yang menjalar ke dada. Setelah anamnesa (menggali informasi dengan 
tanya jawab) dan pemeriksaan lain-lain, saya ambil kesimpulan ia hanya sakit 
tukak lambung biasa (maag) dan bukan sakit jantung. Karena ia pasien terakhir, 
maka kami pun omong-omong panjang lebar.

Komentar anak muda itu: "Sakit seperti ini saja rasanya bukan main ya dok, 
apalagi kalau ulu hati dipukul secara terus menerus seperti di IPDN. "Memang, 
pemukulan pada ulu hati atau daerah dada sangat berbahaya. Istilah popular di 
IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) adalah pukulan kancing dua (maksudnya 
setinggi kancing baju nomor 2). Bisa dibayangkan pukulan sekeras-kerasnya 
diarahkan ke daerah itu.

Dari data Inu Kencana, sejak kampus IPDN (d/h STPDN) berdiri pada 1990-an 
sampai saat ini sudah 35 prajanya yang meninggal dan hanya 10 kasus yang 
terungkap --sebagian meninggal dengan dada retak (detikcom). Hal ini belum 
termasuk yang mengundurkan diri karena tidak tahan pada pola pendidikan di IPDN.

Kita sempat terkejut oleh kematian praja Wahyu Hidayat pada 2003, ternyata hal 
yang sama terulang kembali pada Cliff Muntu tahun ini. Komentar Inu Kencana: 
"Hal-hal yang terungkap di media massa hanya sebagian kecil dari yang terjadi 
di lingkungan kampus itu." (Tempo interaktif). Jadi, kekerasan masih terjadi di 
kampus tersebut dan mungkin akan terus terjadi apabila tidak ada tindak lanjut 
masalah ini. Padahal IPDN merupakan wadah penggemblengan calon aparatur negara. 
Jadi, bisa dibayangkan out put dari pola pendidikan semacam itu. Pendidikan 
militer dengan disiplin ketat dan ada unsur kekerasan, mungkin masih wajar 
karena mereka disiapkan untuk menghadapi musuh negara. Sedangkan lulusan IPDN 
disiapkan untuk melayani masyarakat. Tapi dengan pola pendidikan seperti saat 
ini, pelayanan seperti apa yang didapat masyarakat?

Anak muda pasien saya nyeletuk: "Tapi enak dok, lulusan IPDN tidak ada yang 
disebut oknum kalau bikin kesalahan di masyarakat." Lho? Iya, biasanya kita 
selalu menyebut oknum (militer, polisi), apabila ada aparat yang melakukan 
pelanggaran hukum karena pendidikan mereka sudah bagus, hanya ada satu dua yang 
'nakal'. Sementara di IPDN, sejak semester pertama dilatih untuk jadi kasar dan 
arogan pada yang lebih yunior. Maka, saat menjadi aparat negara sifat arogan 
akan tetap melekat. Jadi tidak ada oknum, karena semua lulusannya sifatnya 
seragam dan terpola sejak awal masuk pendidikan. Benar juga argumen anak muda 
ini.

"Dan lagi dok, lulusan IPDN akan mengalami sakit yang mengakibatkan masyarakat 
luas sengsara," sambung anak muda ini. Kok bisa? Saya bertanya sambil 
mengernyitkan dahi, karena ia menyebut penyakit yang dapat menyengsarakan orang 
lain. "Yang sakit nuraninya! Bila nurani seorang aparat pemerintah sakit, maka 
ia tidak akan peduli pada keadaan masyarakat sekelilingnya. Otomatis akan 
banyak masalah di masyarakat yang tidak akan terselesaikan, karena nuraninya 
tidak peka lagi," ujar anak muda ini. "Jadi menurut saya, IPDN adalah singkatan 
dari Institut Pendidikan De-Nuranisasi alias penghilangan nurani," sambungnya.

Memang, jika kita lihat banyak kasus KKN, atau bencana alam yang tidak dapat 
diselesaikan secara tuntas karena nurani kita mulai tumpul. Meminjam istilah 
dari Bismar Siregar: mereka korupsi hati nurani! Mereka tidak merasakan yang 
dialami masyarakat lapisan terbawah seperti petani, nelayan, perajin yang kini 
hidupnya bukan sekadar Senin-Kamis. Lebih parah lagi, dicari pagi belum tentu 
ada yang dibawa sore untuk mengisi perut anak dan isteri.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya dan pasien terakhir saya itu sadar bahwa 
kami hanya bisa berharap agar nurani pemimpin negara ini selalu sehat sehingga 
bangsa ini dapat segera bangkit dari keterpurukan yang kian dalam menjerat. 
Malam itu saya mendapat pelajaran baru tentang pentingnya nurani yang sehat. 
Dan, hal ini seharusnya dimiliki oleh semua orang, termasuk saya dan kolega 
saya. Semoga.

Kirim email ke