Buku Baru: Memahami Revolusi Venezuela dan Angin Burangrang

Memahami Revolusi Venezuela
 
Judul      : Memahami Revolusi Venezuela - Perbincangan Hugo Chavez 
             dan Marta Harnecker
Editor     : Pius Tumangger
Penerjemah : Aan Rusdianto, Astri Suryandari et.al.
Penerbi    : Aliansi Muda Progresif dan Institute for Global Justice
Tahun      : 2007
Halaman    : 241 Halaman, 21 x 14 cm
ISBN       : 978-979-16096-0-9
Harga      : Rp. 45.000,-
 
Cuplikan Perbincangan Hugu Chavez dan Marta Harnecker dalam Buku
Memahami Revolusi Venezuela

Soal Korupsi: Kami sedang  berada di tengah-tengah pertempuran yang
sulit, karena hal baru harus dibangun di atas reruntuhan yang lama,
dan itulah dimana kebiasan buruk menyeret Anda ke belakang. Hingga
kini, kami telah mengubah keseluruhan struktur politik-hukum, namun
karena hakikat proses damai dan demokratik yang kuat, struktur ini
masing ditandai dengan kebiasaan buruknya yang lama, disusupi oleh
musuh, dan kadang-kadang jajaran kami sendiri melemah karena hilangnya
kesadaran revolusioner. Itulah mengapa kami belum dapat menghilangkan
marabahaya korupsi. (bab 2)

Awal Perjuangan: Di samping itu, saya adalah seorang pemimpin tanpa
sumber daya. Kadang-kadang bahkan tidak memiliki uang yang cukup untuk
membeli bahan bakar, kami berjalan kaki ke sini dan ke sana dalam
kelompok kecil, banyak dari kami yang ditangkap. Kadang-kadang—sekali
atau dua kali dalam satu tahun—Jose Vicente Rangel mengundang saya
untuk ikut acaranya di TV; kadang-kadang Alfredo Pena juga mengundang
saya masuk ke programnya. Saya ingat saya mengadakan sebuah konferensi
pers karena saya baru kembali dari sebuah perjalanan ke Kuba, dan
hanya dua orang jurnalis yang menampakkan diri.

Perdebatan Soal Elektoral: Kami berdebat secara mendalam mengenai arah
yang akan diambil. Saat itu, terdapat cukup banyak kontradiksi;
beberapa grup menolak jalur elektoral, dan mereka meninggalkan
gerakan. Mereka menuduh kami telah mengabaikan revolusi karena tidak
melanjutkan perjuangan bersenjata, tapi siapakah yang pernah berkata
bahwa senjata menjamin arah revolusi? Sama seringnya, senjata telah
menjadi alat kontra-revolusioner. Masih terdapat beberapa individu
atau grup yang kritis terhadap proses pemilihan, namun yang lainnya
telah kembali bersama kami.Kami tahu, bahwa dengan mengambil jalur
elektoral, itu adalah sebuah keputusan strategis yang bisa menjadi
sebuah bencana, yakni kami bisa terperangkap ke dalam jebakan yang
dibuat oleh sistem kepada kami, menggiring kami ke dalam pasir hidup.

Soal Hubungan Internasional: Marta, saya ingin Anda mengetahui bahwa
kami tidak memiliki ketertarikan untuk memperumit atau merusak
hubungan kami dengan AS, apalagi memutusnya. Namun demikian, untuk
persoalan kedaulatan dan kemerdekaan kami selalu jelas dan tegas, dan
kami telah menyatakan sikap ini bukan hanya kepada AS namun juga
kepada semua negara lainnya di dunia.

Angin Burangrang - Sajak-sajak Petani Tua
 
Judul   : Angin Burangrang - Sajak-sajak Petani Tua
Editor  : Bilven
Cetakan : Pertama, April 2007
Penerbit: Ultimus
Tahun   : 2007 
Halaman : xii + 148 Halaman, 14 x 20 cm
ISBN    : 979-99560-7-2
Harga   : Rp. 22.000,-
 
Sekilas tentang Samsir Mohamad, 81 Tahun
Pada masa mudanya pernah ikut berjuang bersama pemuda-pemuda Menteng
31 sekitar proklamasi kemerdekaan. Turut bergerilya mempertahankan
republik selama agresi militer Belanda. Bersama bersama beberapa orang
orang kawannya mendirikan organisasi tani. Pernah menjadi anggota
Dewan Konstituante RIS dan anggota DPP Angkatan '45. Saat ini tinggal
di lereng gunung Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung. Menghabiskan
masa tuanya dengan memancing, merokok dan minum kopi sesekali turun
gunung atas undangan beberapa para muda untuk berbincang-bincang...
 
Angin Burangrang Kata Mereka….

Ibarurri Sudharsono, penikmat sastra 
Generasi perintis kemerdekaan dan pendiri republik, bagaikan raksasa
tumbang satu persatu mendahukui kita. Sajak-sajak Samsir adalah
rekaman sejarah yang tak ternilai dari cita-cita, perjuangan,
semangat, serta instrospeksi mereka, bagaikan api yang akan senantiasa
mengilhami generasi pewaris.
 
Rahmat Jabaril, seniman-aktivis
Ungkapan-ungkapan muncul dalam kata atau kalimat, tak ubahnya
merepresentasikan siapa sebetulnya diri kita. Samsir Mohamad mampu
mengukur dirinya pada teks: alas cermin mewujudkan diri dengan
kemanusiaannya.
 
Soni Farid Maulana, penyair
Sajak-sajak dalam Angin Burangrang adalah sajak-sajak yang ditulis
dengan kalimat yang sederhana namun kaya makna. Ada kesepian,
kesunyian, dan kesendirian yang bergerak didalamnya menyapa kita.
Semua itu terjadi bukan karena ia semata-mata ditinggal pergi oleh
istri tercinta untuk selama-lamanya, akan tetapi disebabkan pula oleh
sebentuk pengkhianatan yang menyebabkan dirinya terlempar dari garis
edar perjuangan yang diidealkannya. Secara esensial, itulah yang ingin
diekspresikan Samsir Mohamad dalam kumpulan sajak ini yang ditulis
dengan kalimat yang sederhana dalam tarikan napas sejarah yang luka:
sejarah bangsa dan negeri ini, negeri yang kini carut-marut dihajar
bencana alam dan krisis multidimensi dalam berbagai sendi kehidupan.
 
Jakob Sumarjo, budayawan
Buku ini kesaksian seorang sepuh yang telah melewati masa-masa genting
republik ini. Ia patut dipercaya karena kesaksiannya, karena
kejujurannya, karena penderitaannya, karena ia "berani menanggung dosa
masuk neraka" untuk bersaksi. Semuanya sebuah keluhan panjang, bukan
tentang dirinya, tetapi tentang nasib rakyat seperti disaksikannya.
Keindahannya terletak pada keterbatasan dan kejujurannya. Juga pada
empirinya. Inilah Indonesia yang dia telah ikut ambil bagian dalam
membangun berdirinya. Dan dia disingkirkan oleh pemerntah yang dia
ikut membentuk adanya.
 
Kelompok Kerja Rumah Kiri
Lewat Samsir kita bisa menapak sejarah, melihat masa lalu yang kelabu
secara lebih terang. Melalui perjalanan hidupnya kita banyak melihat
betapa perjalanan negeri ini banyak dikelirukan oleh mereka yang
selama ini kita anggap paling benar. Samsir memang bukan satu-satunya
sumber yang bisa memberi kita terang lika-liku perjalanan negeri ini,
tetapi satu yang pasti: Samsir mampu menyadarkan kita hakikat
Materialme-Dialektika-Historis tidak dengan bahasa teknis-ilmiah, tapi
kenyataan keseharian dan pengalaman hidup yang tampak sangat biasa. 
Melalui dia pula kita bisa meraba dan membedah jantung
ketidakmanusiawian kapitalisme tanpa harus berteriak slogan revolusi
dan lawan kapitalisme. Akhirnya, melalui dia kita bisa belajar tentang
banyak hal mengapa Indonesia carut-marut hingga kini.

Pemesanan Buku 
Buku bisa diperoleh di Rumah Kiri Buku Kiri
Situs: http://bukukiri.com/
Email: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke