http://www.suarapembaruan.com/News/2007/05/09/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Belajar dari Arab Saudi Oleh Zuhairi Misrawi Aksi terorisme telah menjadi ancaman seluruh pihak. Tidak ada jaminan sebuah negara akan aman dari ulah teroris. Dalam sebulan terakhir, publik di Timur Tengah dikejutkan dengan meletusnya bom bunuh diri di Maroko dan Aljazair. Sementara itu, aparat keamanan Arab Saudi berhasil menggagalkan rencana aksi teror di sebuah pesawat. Untuk kasus Maroko, aksi terorisme dianggap banyak kalangan tidak beralasan. Sebagai sebuah negara, Maroko merupakan salah satu negara multikultural. Di negara itu, orang-orang dari pelbagai agama bisa hidup, termasuk mereka yang beragama Yahudi. Dalam sejarahnya, Maroko juga dikenal sebagai salah satu negara Arab paling rasional, karena secara geografis berdekatan dengan negara-negara Eropa, seperti Spanyol. Lalu apa yang menyebabkan negara itu menjadi langganan bom bunuh diri? Menurut Hasyim Shaleh, terorisme dapat berkembang di Maroko bukanlah karena konteks masyarakat yang pemahaman keagamaannya dangkal, melainkan karena secara geografis negara itu berdekatan dengan Eropa. Karena letak geografis yang demikian itu, amat dimungkinkan bila para teroris memilih Maroko sebagai tempat transit bagi teroris yang hendak masuk ke Eropa. Tatkala mereka tidak mampu atau tidak mempunyai kesempatan masuk ke Eropa karena faktor ketatnya keamanan, mereka pun tidak mempunyai alasan lain kecuali melakukan aksi teror di tempat transit. Berbeda dengan Maroko, aksi terorisme yang terjadi di Aljazair disebabkan karena faktor lain. Ada fakta sosial-politik yang menurut banyak pihak telah memungkinkan para teroris mempunyai ruang gerak cukup luas. Ya- itu kebijakan Pemerintah Aljazair yang belakangan ini membebaskan tahanan kelompok yang selama ini terlibat dalam perang saudara. Mereka adalah kelompok yang mengusung aliran dan tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan politiknya. Nah, tatkala mereka diberi keleluasaan kembali dan tanpa ada perhatian yang serius dari pemerintah, mereka dengan leluasa dapat mengambil tindakan-tindakan anarkis. Kebijakan tersebut pada mulanya diambil oleh Pemerintah Aljazair untuk mendapatkan simpati dari lawan-lawan politiknya, sehingga dalam pemilu yang akan datang terpilih kembali. Tapi, rupanya kebijakan politik yang terlalu berani itu menyebabkan lahirnya aksi terorisme. Demikianlah potret dari konteks-konteks sosial-politik munculnya aksi terorisme di dunia Arab. Belajar dari kedua negara tersebut tidak ada jaminan sebuah negara tidak akan dihuni oleh para teroris. Negara yang selama ini dianggap aman dari terorisme, amat dimungkinkan dapat dijadikan sebagai tempat transit para teroris. Begitu pula, para teroris juga amat dimungkinkan mempunyai tujuan politik, sebagaimana terjadi di Aljazair. Kendatipun demikian, amat disayangkan karena baik Maroko dan Aljazair belum mempunyai langkah-langkah antisipatif menumpas ruang gerak teroris. Karena itu, tidak ada jaminan kedua negara tersebut akan selamat dari akasi terorisme. Arab Saudi Dalam hal ini, langkah Arab Saudi perlu mendapatkan apresiasi sepatutnya. Beberapa saat lalu, Pemerintah Arab Saudi berhasil menggagalkan rencana aksi teror. Peristiwa tersebut telah mendapat perhatian luas di pelbagai analis di media massa di Timur-Tengah, baik dari Arab Saudi maupun beberapa negara lainnya. Meluasnya kelompok-kelompok aliran keras di Arab Saudi, menurut Turki al-Hamd disebabkan kebijakan kerajaan pada tahun 1960-an, khususnya pasca-Perang Dingin. Pada saat itu, kerajaan telah membuka ruang politik bagi kalangan garis keras dan memperluas cakupannya hingga ke Mesir dan Suriah. Mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang mengampanyekan wacana pengafiran dan otoritas lembaga-lembaga keagamaan. Setidaknya kebijakan tersebut bertahan hingga tahun Raja Abdul Aziz pada 1979. Pasca-revolusi Iran, kebijakan kerajaan di atas merangsang sejumlah pihak untuk mendirikan gerakan-gerakan politik yang mengusung kekerasan. Lalu, lahirlah Ikhawan al-Muslimin di Mesir yang pengaruhnya meluas di negara-negara Arab lainnya. Sedangkan di Afghanistan, lalu muncul gerakan Taliban yang mengusung gagasan yang sama. Karena itu, menurut Turki al-Hamd, apa yang terjadi di Arab Saudi dan beberapa negara Arab lainnya merupakan buah atas sesuatu yang ditanam pada tahun- tahun sebelumnya. Ia mengibaratkan sebuah ungkapan yang terkenal, "Mereka telah menanam dan kita yang memakan buahnya. Sedangkan kita sedang menanam, dan anak cucu kita yang akan menikmati buahnya." Satu hal yang cukup menggembirakan, dalam minggu ini Lembaga Fatwa Arab Saudi mengeluarkan sebuah fatwa yang patut mendapatkan perhatian, tidak hanya bagi negara Arab, tetapi juga masyarakat di Tanah Air. Fatwa tersebut berisi tentang kecaman terhadap kelompok-kelompok yang mengusung aksi kekerasan dan mereka yang tidak patuh pada konstitusi. Mereka itu tersebut sepadan dengan kalangan Khawarij, yaitu kalangan yang dikecam sebagian umat Islam karena telah membunuh Imam Ali. Fatwa di atas lahir karena gerakan yang mengusung aksi terorisme adalah mereka yang selama ini membangkang terhadap kerajaan. Bahkan dikabarkan telah melakukan baiat terhadap tokoh tertentu. Karena itu, fatwa tersebut memberikan kecaman terhadap gerakan tersebut, termasuk larangan menggunakan senjata di luar kewenangan konstitusi. Di dalam beberapa butir fatwa disebutkan, tindakan kekerasan terhadap sesama Muslim merupakan dosa besar, apalagi melakukan pembunuhan seperti terorisme. Tentu saja, fatwa di atas menunjukkan, Arab Saudi telah mengambil sikap perihal upaya meredam kelompok-kelompok garis keras. Di antaranya larangan menggunakan senjata bagi kelompok garis keras dan kalangan separatis. Karena itu, tidak ada salahnya bila pemerintah dan institusi keagamaan jika belajar dari Arab Saudi dalam rangka melawan kalangan Khawarij modern. Penulis adalah Intelektual Muda NU, Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah Last modified: 9/5/07
