Dari milis tetangga, Pak K Soekadar adalah insinyur teknologi kimia, alumnus VSCT, Praha. Salam, Bismo DG
----- Original Message ----- From: koentyo soekadar To: BDG KUSUMO Cc: pepicek post Sent: Monday, May 07, 2007 6:50 PM Subject: Re: [mediacare] Surabaya, panasnya seperti di Arab Saudi Untuk bung Radityo : mungkin keterangan saya ini agak aneh, tetapi logis dan scientific (ini ukuran saya lho!), begini : Lumpur panas yang keluar dari perut bumi itu tentunya lembab dan karena suhunya relatif tinggi, maka setelah tekanannya berkurang (diudara bebas), maka airnya menguap sehingga menambah kelembaban udara disekitarnya. Oke. Kalau kelembaban udara sudah tinggi, maka air (keringat) yang berada diatas kulit tidak mudah menguap, walaupun sebenarnya suhunya sudah cukup tinggi karena sinar matahari, tetapi masih tidak mau menguap dan tetap berada diatas kulit terus, sehingga rasanya panas, seperti direbus saja rasanya. Kalau seumpamanya kelembaban udaranya rendah (seperti di Eropa misalnya), maka air/keringat yang berada diatas kulit akan cepat menguap dan mendinginkan kulit dibawahnya. Tidak jarang di daratan Eropa suhu udaranya pada musim panas hingga mencapai 35 derajat Celsius atau lebih (malah kadang-kadang bisa mencapai 40 derajat Celsius), tetapi rasanya masih oke oke saja. Di Indonesia sering-sering untuk mendinginkan badan dipakai kipas (klasik maupun kipas angin), ini untuk membantu penguapan keringat (dengan panas penguapan keringat) sehingga suhu kulit turun. Fungsi kipas itu adalah untuk menghalau uap air yang berada diatas permukaan kulit sehingga memunginkan moleku-molekul air yang ada dalam keringat untuk menguap. Begitulah kira-kira prosesnya. Maaf ini bukan menggurui tetapi saya berpikir keras (laut denken, myslet nahlas, loudly thinking), jadi sebenarnya ini hanya untuk diri saya sendiri. Wassalam Koentyo ----- Original Message ---- From: BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]> To: Mas Koen dan Mas Anwari yang para Arek Suroboyo yb, kalau mudik untuk menyesuaikan diri dengan iklim terkini di SRBY mungkin sebaiknya Mas-Mas memakai jubah, sorban dan sandhal jepit jadi supaya rasanya silir sepoi-sepoi basa seperti di Padang Pasir Gobi, gitu lho.. Salam, Bismo DG ----- Original Message ----- From: radityo djadjoeri To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, May 07, 2007 2:52 AM Subject: [mediacare] Surabaya, panasnya seperti di Arab Saudi Minggu lalu saya bertandang ke Surabaya. Tak seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, kini saya banyak mendengar berbagai keluhan tentang panasnya ibukota Provinsi Jawa Timur tersebut. Ada serombongan alumnus SMA Negeri 3 Yogyakarta yang lagi bikin acara reuni di Hotel Garden Palace sepakat, bahwa panasnya Surabaya sudah seperti di Arab Saudi. Untung, mereka bikin acaranya di ballroom - alias indoor. Sedangkan saya musti mengunjungi Festival Jajanan Bango 2007 yang mengambil lokasi di ruang terbuka - alias outdoor. Tepatnya di Lapangan Basuki Rachmad, dekat Arca Joko Dolog dan Monumen Gubernur Suryo. Memang benar, panasnya Surabaya luar biasa menyengat. Anda yang tak biasa berpanas-panas ria, kulit Anda bisa nampak seperti udang rebus. Apakah panasnya Surabaya terkait erat dengan lumpur Lapindo? Kini saya lagi mengumpulkan opini dari Anda semua. Menurut Anda, apa yang perlu dibenahi d ari Surabaya? -------------------------------------------------------------------------------- Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? Check out new cars at Yahoo! Autos. -------------------------------------------------------------------------------- Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? Check out new cars at Yahoo! Autos.
