Tips Menjadi Wartawan yang Baik dan Benar
Bagian terakhir dari tiga tulisan
[jarar siahaan; bataknews; jurnalisme]
Mulai alinea pertama ini: jangan langsung percaya. Sebab, apa yang akan anda
baca selanjutnya adalah kebenaran menurut akalku. Sangat subyektif.
Inilah bagian paling mengasyikkan dari ketiga seri tulisan ini; setelah
kemarin, Redaktur bukan tukang gergaji ekor berita, dan kemarinnya lagi, Apa
yang seharusnya dipahami seorang reporter.
Seperti biasa, peringatanku agar anda tidak percaya bulat-bulat pada apa yang
kutulis juga berlaku di sini; malah makin kutegaskan. Kalau pada dua tulisan
sebelumnya [mungkin] masih ada sedikit opiniku yang sesuai dengan teori ilmu
jurnalisme, maka pada bagian ini kupikir justru sebaliknya. Ini adalah bagian
yang hampir seluruhnya merupakan pendapatku yang sangat subyektif.
Maka sebaiknya anda jangan [mudah] percaya. Jangan pula langsung dipraktikkan.
Baca saja dengan santai. Anggaplah ini sebuah hiburan berbentuk cerpen, atau
tulisan pada sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.
Selamat datang di dunia kata-kata versi Jarar Siahaan.
1. Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan
tidak terlalu renggang.
Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi
wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan — tapi mencari
berita.
Maka kalau ada wartawan [yang merasa] senior menegur anda, “Sudahlah, ngapain
nulis kasus Pak Walikota, kita wartawan ini kan harus menjaga hubungan baik
supaya banyak kawan,” jangan terpengaruh. Itu ajaran sesat. Tidak pernah ada
dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara
hantu belau mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan
profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ingat: wartawan
mencari berita — bukan mencari kawan, juga bukan lawan.
Dalam istilahku, setelah perenungan dan pergumulan batin selama 12 tahun
bekerja sebagai jurnalis: “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat;
yang sanggup kesepian di tengah keramaian; karena dia lebih peduli pada APA
daripada SIAPA.”
Waktu pilkada Tobasa dua tahun lalu ada tiga dari lima calon bupati yang
memintaku menjadi tim sukses. Dua calon menyampaikannya secara langsung dan
satu lagi lewat orang terdekatnya. Jabatanku semacam kepala publikasi. Gaji dan
fasilitas disediakan. Tapi tidak satu pun yang aku iyakan. Jawabanku untuk
mereka sama: “Aku akan tulis kegiatan anda. Kalau mau visi-misi, itu iklan.
Kalau mau gratis, lakukan atau ucapkan sesuatu yang menarik dan punya nilai
berita.”
Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari
menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang
disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham,
pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari
Tempo suatu ketika kepadaku di Medan.
2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca
yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .
Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa
— yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau
berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, iya. Mau bukti? Tulisan
kaki halaman satu koran-koran milik Jawa Pos Grup yang terbit setiap hari;
semua kalangan pembaca bisa menyukainya.
3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.
Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di
halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi
tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan
mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke
mushola untuk sembahyang.
Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan
inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang
gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah
humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke
permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan
seperti halnya amplop temu pers pejabat? Tak usah jawab; tersenyum sajalah.
4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif. Anda tidak kreatif? Bulan
Juli nanti ada 300 ribu lowongan kerja baru; melamarlah jadi CPNS.
Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai
menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak
pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan
berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil
mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung kucatat di kertas atau laptop.
5. Sebisa mungkin jangan kutip jargon dan retorika pejabat.
Itu gaya pers era Soeharto. Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari
repetisi dan kata-kata berkabut.
Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal dan sudah
dimasukkan ke sel Poltabes Siantar.” Tapi jangan tulis “Sejumlah kriminal
diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan
tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.” Kalimat
seperti ini kutemukan tiap hari di koran daerah, dan itu membuatku tersenyum
geli.
Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu
membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah
berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah
sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata
ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku atau jadi dosen —
anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.
6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.
Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil
kemungkinan ia berbohong. Aku punya tips pribadi untuk ini. Jika aku mulai
curiga si narasumber berbohong, aku langsung mengeluarkan alat perekam atau
kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau
difoto, lalu berhenti mengoceh.
7. Wartawan harus berkarakter.
Jangan jadi wartawan kebanyakan. Itu yang selalu kuingat dari Pemred Radar
Medan, Choking Susilo Sakeh, saat menarikku dari daerah menjadi redaktur. Maka
anda harus jadi wartawan berkarakter. Yang kumaksudkan adalah karakter pada
tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan
memakai sandal jepit ketika meliput.
Jadikanlah ruang redaksi sebagai tempat bekerja sekaligus belajar. Buatlah
pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas
Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya
sendiri-sendiri.
Pada 1999 atau 2000 sebuah feature-ku, dengan dua tokoh utama, dibuatkan nama
oleh redaktur [waktu itu] Porman Wilson sebagai Jeges dan Roa. Tulisan itu
menjadi lebih hidup. “Wajah Sang Bupati dijilat sampai berselemak …,” begitu
penambahan dari Porman — yang juga seorang penyair — yang tulisannya memang
khas dan berkarakter.
Enam-tujuh tahun terakhir aku sengaja tidak pernah lagi menulis deretan gelar
kesarjanaan narasumber, kecuali untuk advertorial. Ini memang terlihat sepele.
Tapi aku merasakan efek tak disengaja: aku makin independen dan bisa menjaga
jarak dengan sumber-sumber.
Ceklah klipping koran di mana aku pernah bekerja; anda tidak akan menemukan
beritaku di mana terdapat, misalnya, gelar St Drs Monang Sitorus SH MBA [Bupati
Tobasa]. Aku hanya menulisnya Bupati Monang Sitorus. Koran lain? Wah, paling
doyan. Bahkan di setiap alinea, deretan gelar itu diulang hingga ke akhir
berita. Ada juga seorang wartawan “senior” di Balige, yang merangkap sebagai
politisi, yang menulis kegiatan bupati atau kapolres dengan, “Beliau
menjelaskan dengan senyum khasnya ….” Beliau? Presiden SBY saja tak ditulis
beliau. Wartawan beginilah yang disebut berkarakter … penjilat.
Soal gelar narasumber tadi, tentu ada pengecualian. Misalnya berita seminar
ilmu fisika, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak
tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik,
tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.
Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang
sudah terbit. Banyak wartawan tukang jiplak? Karena itulah karya-karyanya tidak
berkarakter.
8. Belajarlah memotret.
Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama
reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto
yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.
Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Sejak awal menjadi
wartawan aku selalu membawa kamera ke mana-mana. Bertahun-tahun aku belajar
fotografi dari majalah Foto Media bekas [harganya seribu rupiah] yang
kupesankan dibeli teman akrabku, seorang mahasiswa, di simpang kampus USU
setiap bulan.
Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen [waktu terbaik menjepret
tombol pembuka rana], angle [posisi kamera], dan komposisi gambar. Foto
jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah.
Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter
menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS
memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang
berbicara. Jika menjadi redaktur, aku akan memakai foto itu daripada foto
close-up si bupati.
9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.
Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan
memosisikan diri sebagai interogator, jaksa, apalagi hakim — yang menuduh dan
menghakimi orang lain — ketika mewawancarai narasumber.
Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar.
10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.
Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Aku menyadari itu setelah
membaca sebuah puisi terjemahan berjudul Jangan pernah membunuh pertanyaan.
11. Akhirnya …, bagaimana dengan amplop?
Jangan pernah meminta. Kalau diberikan, dan anda yakin obyektivitas anda
menulis tidak terganggu, terima saja. Tapi kalau amplop itu memengaruhi anda
menulis, sebaiknya tunda untuk menerima. Setelah berita terbit dan narasumber
anda tetap ingin memberikan, itulah momen yang tepat untuk anda menerima.
Aku pernah mengembalikan uang dari seorang sumber karena dia kecewa berita
yang kutulis tidak persis seperti keinginannya. Dia agak marah. Kemudian hari
aku tahu, dia sudah terbiasa “memesan berita” kepada wartawan koran lain.
Sikapku ini menjadi “trade mark”-ku di kalangan narasumber dan wartawan
Balige: bahwa sekalipun Jarar diberi uang, ia tetap akan menulis sekehendak
perutnya.
Cara itu aku terapkan selama ini. Kecuali ketika masih aktif di AJI, sama
sekali — secara total, dengan alasan apapun — aku menolak amplop. Dan itu
sempat membuatku dan anak-istriku menderita — dalam arti sesungguhnya.
“Jarar sudah ‘bertobat’ …,” begitu Pemred Metro Tapanuli, Goldian Purba — yang
pernah redpel di Manado Post — menyimpulkan sikapku dalam sebuah rapat di
Siantar. [www.blogberita.com]
Tulisan terakhir dari tiga bagian ini kusarikan dari draf buku yang tak jadi
kuterbitkan. Kalau menurut anda apa yang kutulis benar, silakan dicoba. Tapi
kalau anda ragu atau tak sependapat, jangan sesekali menerapkannya; dan
teruslah bekerja dengan cara dan gaya anda sendiri.
Sebab, aku setuju, setiap jurnalis memang sebaiknya memiliki standarnya
sendiri-sendiri.
Catatan: aku setuju wartawan menerima amplop hanya jika gajinya kecil dan dia
yakin amplop tersebut tidak akan memengaruhinya menulis. Tapi jika gaji
wartawan sudah layak, aku tidak sependapat jika masih menerima amplop.
Alasan-alasanku yang lebih mendalam dan perdebatan seru soal amplop bisa anda
baca pada sejumlah tulisan di blog ini; klik saja JURNALISME pada menu rubrik.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!