http://www.indomedia.com/bpost/052007/11/opini/opini2.htm

Agama: Iman dan Rasional

Oleh: Ahmad Juhaidi
Pemerhati masalah agama

Beberapa waktu lalu, tersiar kabar bahwa Rasulullah SAW yang wafat ribuan tahun 
lalu datang ke sebuah rumah nun jauh di sana dan jejak itu meninggalkan harum 
semerbak. Cerita itu pun menyebar dan sebagaimana kebiasaan selalu dibumbui 
dengan cerita lain. Sebagai seorang muslim yang lahir dari keluarga muslim, 
tentu saja mayoritas urang Banjar percaya keberadaan Nabi Muhammad SAW dan itu 
salah satu dari Rukun Iman. Berdosakah tidak mempercayai itu? 

Dalam kehidupan beragama kita, kerap ada hal yang sebenarnya bukan ajaran agama 
(Islam) diharuskan bagi kita untuk mempercayainya. Berdosalah kalau tidak 
percaya itu. Meskipun tidak rasional, kalau disampaikan ulama sebagai kebenaran 
akan berpengaruh dan dianggap bukti sebuah kekuasaan Tuhan. Pengajian yang 
dihadiri banyak Umat Islam di sebuah masjid tiap minggu, selalu menghadirkan 
ulama yang sangat pandai bercerita, lucu, dan pula menasihati umatnya.

Namun, di antara ceramah kegamaan itu dijelaskan satu hal yang mengejutkan. 
Memang, hal itu merupakan pengetahuan yang berada di luar ilmu agama yakni 
masalah janin dalam kandungan ibu. Dalam salah satu ceramah itu. dijelaskan 
Imam Syafii adalah seorang yang sangat alim tidak dapat disaingi oleh orang 
pintar zaman sekarang. Bahkan saking alimnya, Syafii mengarang kitab Al Umm di 
dalam kandungan ibunya. Oleh karena itu, Syafii jangan dikritik.

Hal itu sangat menyedihkan jika pengetahuan yang salah tersebut sudah dianggap 
sebagai kebenaran umum di kalangan umat yang cukup luas. Tentu saja hal ini 
tidak boleh dibiarkan. Pengetahuan yang 'salah' dan tidak rasional, bukan hanya 
memalukan melainkan juga menyesatkan. Adalah benar dalam agama ada persoalan 
yang tidak rasional, tetapi apakah dua hal itu merupakan ajaran agama yang 
bersumber dari Alquran dan hadits, atau sekadar pelajaran sejarah yang salah 
kaprah?

Dulu pada 1970-an, seperti diceritakan Ahmad Thohari, Jakarta geger setelah 
diberitakan ada bayi dalam kandungan bisa membaca Alquran dengan bagusnya. Si 
ibu yang bernana Cut Sahara Fona mendadak menjadi sangat terkenal. Banyak tokoh 
Islam merasa takjub, membaca tasbih, dan menganggap hal itu sebagai keajaiban 
luar biasa. Memang, bayi dalam kandungan itu jadi sangat terkenal dengan 
sebutan bayi ajaib.

Demikian besar kepercayaan masyarakam umum, sampai-sampai beberapa ulama kelas 
satu di Indonesia ikut yakin. Juga, Mantan Perdana Menteri Malaysia Tengku 
Abdul Rahman Putra. Banyak orang menempelkan telinga ke perut Cut Sahara Fona 
demi mendengarkan suara si bayi ajaib yang sedang melantunkan ayat suci.

Tapi apa nyatanya? Bayi ajaib yang bisa membaca Alquran ketika masih dalam 
rahim ibunya itu adalah bohong bin dusta belaka. Cut Sahara Fona menipu 
masyarakat termasuk ulama. Suara bayi membaca Alquran ternyata hanya sebuah 
rekayasa. Cut Sahara meletakkan pemutar kaset (yang waktu itu masih langka) di 
selangkangannya. Putarannya dipercepat sehingga mirip suara anak kecil. Foto 
rontgen yang menunjukkan ada bayi di perutnya adalah foto rontgen kandungan 
yang telah keguguran. Cut Sahara masuk penjara. Tapi pelajaran apa yang dapat 
kita peroleh?

Bagi kita, apalagi ulama yang sering berbicara di hadapan umum dan mengaku 
banyak pengikut, perlu untuk sedikit melapangkan dada membaca pengetahuan umum, 
setidaknya dalam tingkat dasar. Cut Sahara tidak akan bisa melakukan 
penipuannya, kalau masyarakat terutama ulamanya punya pengetahuan umum tingkat 
dasar tentang bayi dalam kandungan.

Bayi dalam kandungan belum bernafas, karena oksigen yang dibutuhkannya masih 
dipasok oleh ibunya melalui tali pusar. Demikian juga makanannya. Kalau bayi 
belum bernafas, bagaimana ia bisa membaca Alquran, apalagi menulis kitab? 
Jangankan untuk mengarang kitab, untuk bersuara saja ia belum bisa.

Namun rasanya tidak mudah mengubah situasi ini. Karena tingkat pengetahuan umum 
masyarakat belum memadai. Lagi pula, ucapan tokoh agama sudah dianggap sebagai 
kebenaran. Jadi, mungkinkah orang seperti saya yang tidak pernah duduk di 
bangku pesantren akan dipercaya masyarakat ketika meralat atau menyalahkan 
sesuatu yang diucapkan ulama? Mungkin, contoh kasus bayi mengaji di dalam perut 
ibunya sudah cukup menjadi pelajaran. Bahwa ada yang perlu penjelasan rasional, 
dan ada pula yang hanya perlu diimani.

e-mail: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke